Minggu, 02 NOVEMBER 2025 • 17:15 WIB

Minum Obat Rutin Tapi Tekanan Darah Gak Turun? Hati-hati, Itu Bisa Jadi Hipertensi Resisten

Author

Ilustrasi pemeriksaan tekanan darah tinggi atau hipertensi (health.harvard.edu)

INDOZONE.ID - Hari Stroke Sedunia kerap diperingati setiap 29 Oktober. Momen itu bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pencegahan, pengobatan, dan pemulihan dari stroke.

Menurut data, World Stroke Organisation, 90 persen kasus stroke terkait dengan faktor risiko yang dapat diubah, salah satunya adalah hipertensi.

Dikutip Hindustan Times, berbagai penelitian telah menegaskan, tekanan darah tinggi merupakan faktor utama penyebab stroke. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Cardiovascular Diabetology pada Agustus 2025 kembali menyoroti hubungan ini. 

Hasilnya menunjukkan, risiko stroke meningkat secara signifikan ketika hipertensi disertai kadar gula darah tinggi akibat stres.

Namun, di balik istilah umum ‘tekanan darah tinggi’, ada satu jenis hipertensi yang jauh lebih berbahaya, karena sulit diatasi meski sudah mengonsumsi beberapa jenis obat. Kondisi ini disebut hipertensi resisten (resistant hypertension).

Baca juga: Kapan Penderita Hipertensi Bisa Berhenti Meminum Obat?

Mengenal Hipertensi Resisten

Untuk memahami kondisi ini lebih jauh, konsultan senior bidang kardiologi intervensi di MGM Healthcare, Chennai, dr. Babu Ezhumalai, menjelaskan, hipertensi jenis ini sebagai bentuk tekanan darah tinggi yang ‘bandel’, dan tidak mudah dikendalikan.

Hipertensi resisten adalah bentuk tekanan darah tinggi yang tetap tinggi meski sudah mengonsumsi tiga atau lebih jenis obat, termasuk diuretik. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena memiliki hubungan kuat dengan risiko stroke, dan banyak orang tidak menyadarinya,” ujar Dr. Ezhumalai.

Ia menambahkan, kondisi ini berkembang secara perlahan dan sering kali tanpa gejala berarti.

Ketika tanda-tanda peringatan muncul, organ seperti jantung, ginjal, dan otak mungkin sudah mengalami tekanan yang cukup berat,” katanya.

Mengutip studi tahun 2023, Dr. Ezhumalai menyampaikan, pasien dengan hipertensi resisten punya risiko 14 persen lebih tinggi terkena stroke, dibandingkan pasien dengan hipertensi biasa.

Ilustrasi mengukur tekanan darah tinggi (medicalnewstoday.com)

Bahaya yang Sering Tidak Disadari

Jika tidak ditangani, hipertensi resisten dapat secara perlahan meningkatkan risiko stroke tanpa gejala yang jelas.

Penderita hipertensi resisten lebih berisiko mengalami stroke tanpa tanda-tanda awal yang nyata,” ujarnya.

Selain stroke, hipertensi jenis ini juga dapat menyebabkan kerusakan organ. Diperkirakan sekitar 10 persen penderita hipertensi mengalami hipertensi resisten. 

Di India, jutaan orang mungkin berisiko tanpa menyadarinya. Sebab, kondisi tersebut sering kali tidak menunjukkan gejala hingga komplikasi serius terjadi.

Tanda-tanda yang Perlu Diwaspadai

Menurut Dr. Ezhumalai, hipertensi resisten umumnya tidak menunjukkan gejala khas.

Sakit kepala, pusing, atau mimisan mungkin muncul hanya pada kasus yang parah. Sementara itu, kerusakan pada jantung, otak, dan ginjal biasanya terjadi secara diam-diam dalam jangka waktu lama,” tuturnya.

Baca juga: Turunkan Hipertensi Secara Alami dengan Makanan Penurun Darah Tinggi Ini

Cara Mengelola Hipertensi Resisten

Meskipun sulit dikendalikan, hipertensi resisten masih dapat dikelola dengan kombinasi pengobatan medis dan perubahan gaya hidup. Dr. Ezhumalai memberikan empat langkah utama:

  • Pemantauan rutin: Periksa tekanan darah secara teratur di rumah dan lakukan 24-hour ambulatory BP monitoring (ABPM) untuk mendeteksi lonjakan tersembunyi, termasuk tekanan darah tinggi di malam hari.
  • Pola makan sehat: Terapkan pola makan DASH diet yang kaya buah, sayur, biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, serta produk susu rendah lemak. Kurangi asupan garam untuk membantu menurunkan tekanan darah.
  • Aktivitas fisik teratur: Lakukan olahraga ringan seperti jalan cepat, berenang, atau bersepeda secara rutin untuk membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.
  • Kelola stres dan tidur cukup: Mengurangi stres dan memastikan tidur berkualitas, penting untuk menjaga kesehatan jantung dan otak, serta mendukung fungsi sistem kardiovaskular secara keseluruhan.

Oleh karena itu, para ahli menegaskan kembali, pentingnya kesadaran terhadap hipertensi, terutama jenis yang ‘bandel’ ini agar setiap menit benar-benar berarti dalam menjaga kesehatan jantung dan otak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Hindustan Times

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU