INDOZONE.ID - Alergi makanan menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup serius pada anak di berbagai negara.
Mengenali gejala sejak dini, sangat penting untuk mencegah reaksi yang lebih parah, dan memastikan penanganan yang tepat.
Berikut ini, ada beberapa gejala umum alergi makanan pada anak, termasuk tanda-tanda khusus alergi kacang tanah.
Makan tersebut menjadi salah satu alergi yang paling sering terjadi, dan paling berisiko memicu reaksi berat.
Gejala Awal Alergi Makanan pada Anak
Dikutip dari Medical Daily, gejala alergi makanan biasanya muncul dalam hitungan menit hingga satu jam, setelah anak mengonsumsi makanan pemicu.
Baca juga: Anak Alergi Susu Sapi? Orang Tua Harap Perhatikan Juga Kesehatan Pencernaan dengan Prebiotik
Tanda-tanda tersebut dapat bervariasi, namun umumnya meliputi:
1. Reaksi Kulit
- Biduran atau bentol merah (hives)
- Ruam gatal
- Pembengkakan di wajah, kelopak mata, bibir, atau tubuh
2. Gejala Pernapasan
- Bersin akut
- Batuk
- Mengi (wheezing)
- Hidung tersumbat
- Rasa tidak nyaman atau sesak di tenggorokan
3. Gangguan Pencernaan
- Mual
- Muntah
- Diare
- Kram perut
Pada bayi dan balita, gejala bisa tampak lebih halus, seperti menangis berlebihan, menggosok mata, atau gerakan lidah berulang, yang dapat menandakan ketidaknyamanan akibat alergi.
Bagaimana Tanda Alergi Kacang Tanah?
Alergi kacang tanah merupakan salah satu alergi yang paling umum, dan berpotensi menimbulkan reaksi berat. Gejala awalnya dapat berupa:
- Pembengkakan bibir, lidah, atau tenggorokan
- Mengi atau sesak napas
- Nyeri perut
- Muntah tiba-tiba
Pada beberapa anak, alergi kacang dapat memicu anafilaksis, yaitu reaksi yang mengancam jiwa dan membutuhkan penanganan darurat.
Tanda-tandanya meliputi:
- Kesulitan bernapas
- Suara serak atau tenggorokan terasa menutup
- Kulit pucat atau kebiruan
- Pusing berat hingga pingsan
- Penurunan kesadaran
Karena bahayanya, anak dengan alergi kacang perlu memiliki rencana penanganan darurat, dan akses pada epinefrin autoinjector.
Makanan yang Paling Sering Picu Alergi pada Anak
Menurut Food and Drug Administration (FDA), sebagian besar alergi makanan pada anak disebabkan oleh delapan jenis makanan berikut:
- Susu
- Telur
- Kacang tanah
- Kacang pohon (tree nuts)
- Kedelai
- Gandum
- Ikan
- Kerang dan makanan laut
Baca juga: Bukan Cuma Polusi Udara, Rupanya Ini Penyebab Anak-anak Zaman Sekarang Alergi dan Asma
Delapan jenis makanan ini, bertanggung jawab atas sekitar 90 persen reaksi alergi pada anak.
Beberapa alergi, seperti alergi susu atau telur, dapat berkurang seiring pertambahan usia. Namun, alergi lain terutama kacang-kacangan atau kerang, cenderung bertahan seumur hidup.
Pemeriksaan seperti skin prick test atau tes darah, dapat membantu menentukan jenis alergi pada anak.
Kapan Harus Bawa Anak ke Dokter?
Orang tua perlu segera mencari pertolongan medis jika anak menunjukkan gejala seperti:
- Sesak napas
- Pembengkakan pada wajah atau tenggorokan
- Pusing tiba-tiba
- Kesulitan menelan
- Muntah berulang setelah makan makanan tertentu
Untuk gejala ringan namun berulang, misalnya ruam setelah makan makanan sama, perlu adanya evaluasi dokter. Hal itu untuk mencegah reaksi lebih parah di kemudian hari.
Tenaga medis dapat melakukan tes alergi, dan menyusun rencana penanganan, termasuk penggunaan obat darurat dan penyesuaian pola makan.
Pencegahan dan Penanganan Alergi Makanan
Menghindari makanan pemicu merupakan langkah utama untuk mencegah reaksi alergi. Bagi anak yang berisiko mengalami reaksi berat, membawa epinefrin autoinjector, dan memiliki rencana aksi alergi, sangat penting.
Hal yang perlu orang tua ketahui dan lakukan yaitu:
- Menginformasikan kondisi anak kepada guru, pengasuh, dan pihak sekolah
- Menjelaskan makanan apa saja yang harus dihindari
- Mengajarkan cara mengenali gejala alergi sejak dini
- Melakukan kontrol rutin ke dokter spesialis alergi
Penelitian medis terus mengembangkan terapi, termasuk imunoterapi, untuk membantu mengurangi sensitivitas terhadap makanan pemicu.
Oleh karena itu, kesadaran, edukasi, dan persiapan yang baik, menjadi kunci utama dalam menangani alergi makanan. Hal ini agar anak tetap aman, dan dapat beraktivitas tanpa kekhawatiran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily