Ilustrasi terapi testosteron. (Freepik)
INDOZONE.ID – Terapi testosteron atau testosterone replacement therapy (TRT) selama ini banyak digunakan untuk mengatasi kadar testosteron yang menurun pada pria lanjut usia.
Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan, terapi testosteron tidak mempercepat pengerasan arteri (aterosklerosis), tetapi juga tidak memberikan manfaat yang signifikan terhadap fungsi seksual maupun kualitas hidup.
Berdarkan hasil penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Brigham and Women's Hospital, yang dikutip dari Medical Daily, memberikan gambaran lebih jelas, mengenai manfaat dan risiko terapi testosteron jangka panjang pada pria berusia lanjut.
Terlebih, bagi mereka yang memiliki kadar testosteron rendah hingga rendah-normal.
Baca juga: 5 Tanda Pria Memiliki Testosteron Rendah, Salah Satunya dari Ukuran Testis
Terapi testosteron atau testosterone replacement therapy (TRT) adalah pengobatan yang bertujuan menggantikan kadar hormon testosteron yang rendah hingga kembali ke kisaran normal.
Terapi ini tersedia dalam beberapa bentuk, seperti gel yang dioleskan ke kulit, suntikan, plester (patch), hingga implan, dan hanya diberikan berdasarkan diagnosis serta pengawasan dokter.
Menurut Mayo Clinic, testosteron merupakan hormon utama pada pria yang berperan dalam menjaga massa dan kekuatan otot, kepadatan tulang, dan produksi sel darah merah.
Selain itu, dapat menjaga gairah seksual (libido), produksi sperma, serta perkembangan karakteristik seksual pria, seperti pertumbuhan rambut wajah dan perubahan suara saat pubertas.
Seiring bertambahnya usia, kadar testosteron memang akan menurun secara alami sekitar 1 persen setiap tahun setelah usia 30–40 tahun. Namun, tidak semua penurunan kadar hormon memerlukan terapi penggantian testosteron.
Ilustrasi seorang pria sedang konsultasi terapi testosteron. (Freepik)
Dalam penelitian yang berlangsung selama tiga tahun, para peneliti melibatkan lebih dari 300 pria berusia di atas 60 tahun, dengan kadar testosteron rendah hingga rendah-normal.
Seluruh peserta mengikuti uji klinis acak tersamar ganda (double-blind). Sebagian menggunakan gel testosteron setiap hari, dan sebagian lainnya menggunakan gel plasebo.
Peneliti kemudian mengukur dua indikator utama aterosklerosis, yaitu kondisi ketika plak menumpuk di dinding pembuluh darah arteri, sehingga meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah yang dapat memicu serangan jantung maupun stroke.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily, Mayo Clinic