INDOZONE.ID - Nyeri telinga kerap dikaitkan dengan infeksi. Namun, tidak semua nyeri telinga berasal dari gangguan pada telinga itu sendiri.
Dalam banyak kasus, penyebab nyeri telinga justru berasal dari rahang dan gigi. Sehingga, menimbulkan gejala yang membingungkan baik bagi pasien, maupun tenaga medis.
Gangguan pada sendi temporomandibular (TMJ), sendi yang menghubungkan rahang dengan tengkorak, serta infeksi atau peradangan gigi dapat menimbulkan nyeri alih (referred pain) yang terasa seperti sakit telinga.
Hal ini terjadi karena struktur rahang, gigi, dan telinga berbagi jalur saraf yang sama.
Memahami sumber nyeri telinga yang bukan berasal dari telinga, menjadi kunci penting untuk diagnosis dan penanganan yang tepat. Terutama, ketika pemeriksaan telinga menunjukkan hasil normal.
Gejala TMJ yang Menyerupai Nyeri Telinga
Sendi temporomandibular berperan penting dalam aktivitas sehari-hari seperti mengunyah dan berbicara.
Ketika sendi ini mengalami gangguan, dikenal sebagai temporomandibular joint disorder (TMD), keluhan yang muncul sering kali menjalar ke area telinga.
Baca juga: 4 Alasan Kenapa Si Kecil Suka Tarik-tarik Telinga, Ada Anaknya yang Kayak Gini?
Menurut Mayo Clinic, gangguan TMJ dapat menyebabkan nyeri atau rasa tidak nyaman di sekitar rahang yang menjalar ke telinga, disertai rasa sakit saat mengunyah, menguap, atau menggerakkan rahang.
Meski terasa seperti gangguan telinga, kondisi ini sebenarnya bukan penyakit telinga.
TMD umumnya dipicu oleh kebiasaan mengatupkan gigi (bruxism), stres yang menyebabkan ketegangan otot rahang, serta beban sendi yang tidak seimbang.
Sebab, posisi TMJ berada tepat di depan liang telinga dan memiliki keterkaitan saraf dengan telinga melalui saraf trigeminal dan aurikulotemporal, peradangan atau kejang otot di area ini dapat menimbulkan sensasi penuh, tekanan, atau nyeri pada telinga.
Nyeri Alih dari Gigi: Gigi Bungsu dan Peradangan Pulpa
Masalah gigi juga menjadi penyebab nyeri telinga yang kerap terlewatkan. Studi yang dipublikasikan di PubMed Central menunjukkan, nyeri odontogenik, yaitu nyeri yang berasal dari gigi atau jaringan sekitarnya, sering kali menjalar ke telinga.
Peradangan pulpa gigi, ligamen periodontal, hingga gigi bungsu yang tumbuh tidak sempurna dapat menimbulkan rasa nyeri yang mengikuti jalur saraf trigeminal. Akibatnya, nyeri terasa di telinga meski tidak ditemukan infeksi telinga.
Gigi bungsu yang impaksi, misalnya, dapat menyebabkan peradangan pada jaringan di sekitarnya dan memicu iritasi saraf yang menjalar hingga ke telinga.
Begitu pula karies dalam dan pulpitis yang melepaskan mediator inflamasi, sehingga menimbulkan nyeri tajam yang disangka sebagai sakit telinga.
Perbedaan Nyeri Telinga Antara Infeksi atau Gangguan Rahang
Dokter biasanya membedakan penyebab nyeri telinga dengan melihat pola pemicu dan gejala penyerta. Nyeri telinga akibat gangguan TMJ atau gigi, cenderung memburuk saat mengunyah, membuka mulut lebar, atau menggerakkan rahang.
Sebaliknya, infeksi telinga umumnya disertai gejala sistemik seperti demam, cairan keluar dari telinga, gangguan pendengaran, serta kelainan pada gendang telinga saat diperiksa dengan otoskop.
Baca juga: Kotoran Telinga Bisa Ungkap Bau Badan? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Nyeri TMJ sering disertai bunyi ‘klik’ atau ‘krek’ pada rahang. Sementara infeksi telinga tengah, biasanya menimbulkan rasa nyeri yang memburuk saat berbaring.
Pemeriksaan penunjang seperti foto radiologi gigi, CBCT, atau pencitraan sendi rahang dapat membantu memastikan sumber nyeri.
Terapi untuk Nyeri Telinga akibat Gangguan TMJ
Penanganan nyeri telinga akibat gangguan TMJ, berfokus pada memperbaiki fungsi rahang. Terapi fisik seperti latihan mobilisasi rahang, dan latihan membuka mulut secara terkontrol terbukti membantu mengurangi tekanan pada sendi dan otot sekitar.
Beberapa pasien juga merasakan manfaat dari terapi ultrasound yang dapat menurunkan peradangan sendi. Selain itu, terapi tambahan seperti akupunktur laser pada titik tertentu diketahui dapat membantu mengurangi rangsangan nyeri saraf.
Pendekatan non-invasif ini, sering dikombinasikan dengan penggunaan splint gigi atau penyesuaian gigitan, untuk mengurangi beban pada sendi rahang sebelum mempertimbangkan tindakan lanjutan.
Oleh karena itu, nyeri telinga tidak selalu menandakan infeksi. Gangguan sendi rahang dan masalah gigi, merupakan penyebab umum nyeri telinga yang sering tidak disadari.
Ketika pemeriksaan telinga tidak menunjukkan kelainan, evaluasi terhadap fungsi rahang dan kesehatan gigi menjadi langkah penting.
Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter, dokter gigi, dan terapis fisik terbukti efektif dalam mengatasi sumber nyeri.
Dengan diagnosis yang tepat, pasien dapat terhindar dari penggunaan antibiotik yang tidak perlu, dan mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyebab sebenarnya.
Jika nyeri telinga berlangsung lama atau sering kambuh tanpa tanda infeksi, jangan ragu untuk memeriksakan kondisi rahang dan gigi sebagai bagian dari evaluasi medis menyeluruh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily