Minggu, 11 JANUARI 2026 • 13:15 WIB

Hati-hati! Bukan Cuma Lupa, Cara Mengemudi Ternyata Bisa Ungkap Penurunan Fungsi Otak

Author

Ilustrasi seseorang sedang menyetir mobil. (Freepik)

INDOZONE.ID - Perubahan kebiasaan mengemudi sehari-hari, ternyata dapat menjadi sinyal awal penurunan fungsi kognitif, termasuk demensia. 

Sejumlah penelitian yang dikutip dari Medical News Today menunjukkan, individu dengan gangguan kognitif, memiliki risiko dua hingga lima kali lebih tinggi terlibat dalam kecelakaan lalu lintas, dibandingkan orang dengan fungsi kognitif normal.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology mengungkapkan, perubahan pola mengemudi dapat diketahui lewat terekam pada vehicle datalogger atau alat pencatat data kendaraan.

Alat tersebut dapat membedakan individu dengan mild cognitive impairment (MCI), dari mereka yang tidak mengalami gangguan kognitif.

Temuan ini menunjukkan, data mengemudi berpotensi digunakan sebagai alat deteksi dini bagi individu yang berisiko mengalami gangguan kognitif atau kecelakaan lalu lintas.

Bahkan, alat ini dapat mendeteksi sebelum dilakukan pemeriksaan kognitif langsung atau pemindaian otak.

Baca juga: 6 Makanan yang Dapat Merusak Fungsi Otak, Nomor 1 Paling Sering Dikonsumsi Gen Z!

Mengemudi sebagai ‘Biomarker Digital’ Kesehatan Otak

Mill Etienne, MD, profesor neurologi dan kedokteran di New York Medical College yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menyebutkan, perilaku mengemudi di dunia nyata ini, disebut sebagai digital biomarker yang menjanjikan.

Perubahan halus dan bertahap dalam pola mobilitas dan mengemudi dapat membantu tenaga medis mengidentifikasi gangguan kognitif lebih awal, sekaligus menjadi dasar pengambilan keputusan terkait keselamatan berkendara dan intervensi tepat waktu,” ujarnya dikutip dari Medical News Today.

Dampak Gangguan Kognitif terhadap Kemampuan Mengemudi

Ilustrasi gejala alzheimer. (Unsplash/@benwhitephotography)

Gangguan mengemudi pada penderita Alzheimer, tidak hanya disebabkan oleh penurunan fungsi kognitif, tetapi juga gangguan sensorik dan motorik. 

Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan, penderita Alzheimer punya risiko lebih tinggi mengalami kecelakaan akibat kesalahan sendiri.

Bahkan, penurunan kemampuan mengemudi telah terlihat sejak tahap awal demensia. Orang lanjut usia dengan MCI atau Alzheimer stadium awal, terbukti mengalami gangguan performa dalam simulasi maupun uji mengemudi di jalan raya.

Menariknya, individu yang secara kognitif masih tampak normal tetapi memiliki peningkatan biomarker Alzheimer, eperti penumpukan protein beta-amiloid di otak, juga menunjukkan performa mengemudi yang lebih buruk. 

Hal ini menegaskan, gangguan terkait mengemudi dapat muncul jauh sebelum diagnosis demensia ditegakkan.

Pola Mengemudi Harian Lansia dengan MCI

Dalam studi ini, peneliti memantau 298 peserta berusia minimal 65 tahun selama periode hingga 40 bulan, menggunakan perangkat pelacak berbasis GPS. 

Dari jumlah tersebut, 56 orang teridentifikasi mengalami MCI, sementara 242 lainnya memiliki fungsi kognitif normal.

Perangkat tersebut merekam berbagai variabel. Mulai dari jumlah perjalanan, waktu berkendara, jarak tempuh, tujuan perjalanan, hingga kejadian seperti pengereman mendadak, kecepatan berlebih, dan belokan tajam.

Hasilnya, lansia dengan MCI tercatat melakukan lebih sedikit perjalanan, terutama pada malam hari. 

Mereka juga cenderung menghindari perjalanan jarak jauh dan lingkungan baru yang tidak familiar, serta lebih memilih rute yang sudah dikenal. Namun, frekuensi belokan tajam justru meningkat seiring waktu.

Baca juga: Bagaimana Minuman Sehat Bisa Bantu Jaga Fungsi Kognitif Seiring Usia

Peneliti menilai, sebagian perubahan tersebut merupakan strategi adaptif untuk mengimbangi penurunan kemampuan mengemudi. 

Namun, peningkatan belokan tajam dinilai mencerminkan penurunan performa mengemudi yang nyata.

Akurasi Prediksi Status Kognitif

Penelitian ini juga menguji, apakah pola mengemudi dapat memprediksi status kognitif seseorang. Hasilnya, model berbasis data mengemudi mampu mengidentifikasi individu dengan MCI secara akurat.

Bahkan, lebih baik dibandingkan model yang hanya mengandalkan skor tes kognitif, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, atau faktor genetik.

Akurasi prediksi semakin meningkat, ketika data mengemudi dikombinasikan dengan hasil tes kognitif dan karakteristik demografis. 

Temuan tersebut membuka peluang penggunaan sensor kendaraan, sebagai alat pemantauan perubahan kognitif di antara jadwal pemeriksaan tahunan.

Terlalu Dini untuk Ambil Kesimpulan

Meski menjanjikan, para peneliti menegaskan, hasil ini belum dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara langsung. 

Mayoritas peserta penelitian merupakan individu kulit putih dengan tingkat pendidikan tinggi. Sehingga, hasilnya belum tentu mewakili populasi yang lebih luas.

Guoha Li, MD, DrPH, profesor epidemiologi di Columbia University, menilai, ukuran sampel yang relatif kecil dan desain penelitian komparatif menjadi keterbatasan utama. 

Faktor lain seperti dukungan keluarga, kondisi kesehatan lain, konsumsi obat-obatan, hingga jenis kendaraan juga dapat memengaruhi pola mengemudi.

Para ahli sepakat, penelitian lanjutan dengan sampel yang lebih beragam masih diperlukan. Selain itu, membandingkan data mengemudi dengan biomarker biologis Alzheimer, seperti pencitraan PET atau tes darah, dinilai penting.

Hal tersebut untuk memahami hubungan antara perilaku pengemudi, dan perubahan neuropatologis.

Deteksi Dini demi Keselamatan dan Kemandirian

Meski masih membutuhkan validasi lebih lanjut, penelitian ini menegaskan, potensi besar data mengemudi sebagai alat skrining dini penurunan kognitif. 

Dengan deteksi lebih awal, risiko kecelakaan dapat ditekan, sekaligus membantu lansia mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup lebih lama.

Ke depan, teknologi sederhana yang terpasang di kendaraan, mungkin menjadi salah satu kunci penting dalam upaya pencegahan demensia, dan peningkatan keselamatan berkendara di usia lanjut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical News Today

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU