INDOZONE.ID - Demam berdarah dengue (DBD) umumnya diawali dengan demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri otot.
Namun, pada sebagian kasus, infeksi dengue dapat berkembang ke fase kritis yang berbahaya, terutama setelah demam mulai turun.
Fase kritis ini, ditandai dengan kebocoran plasma darah dan perdarahan. Hal itu berisiko menyebabkan syok, hingga kegagalan organ bila tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Tanpa intervensi medis, sekitar 5 persen kasus dengue dapat berkembang menjadi kondisi berat dan berujung fatal.
Risiko tersebut meningkat pada infeksi dengue kedua, akibat fenomena antibody-dependent enhancement, yaitu respons imun yang justru memperparah kebocoran pembuluh darah.
Oleh karena itu, memahami perbedaan antara gejala yang masih tergolong ringan, dan tanda peringatan yang mengarah pada dengue berat menjadi hal penting, baik bagi orang tua, traveler, maupun tenaga kesehatan.
Baca juga: 7 Makanan Penambah Trombosit Paling Ampuh: Bantu Pemulihan Cepat dari DBD
Gejala Demam Dengue pada Fase Ringan
Dikutip dari Medical Daily, pada tahap awal, gejala demam dengue sering menyerupai influenza, sehingga mudah terlewatkan.
Keluhan biasanya muncul secara mendadak, dan memburuk dalam beberapa hari pertama, terutama saat fase demam.
Meski terasa tidak nyaman, pada fase ringan ini umumnya belum terjadi kebocoran cairan atau perdarahan yang berbahaya.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebagian besar kasus dengue ringan dapat sembuh dalam waktu sekitar satu minggu.
Namun, kondisi tersebut tetap memerlukan pemantauan, karena tanda bahaya sering muncul saat demam mulai turun.
Gejala demam dengue ringan yang umum meliputi:
- Demam tinggi mendadak hingga 39–40 derajat Celsius
- Sakit kepala hebat dan nyeri di belakang mata, terutama saat menggerakkan mata
- Nyeri otot dan sendi yang intens, sehingga dengue dikenal sebagai breakbone fever
- Ruam kulit yang muncul pada hari ke-3 atau ke-4, atau setelah demam mereda
- Gangguan pencernaan seperti mual, nafsu makan menurun, dan muntah ringan
- Pembengkakan kelenjar getah bening di leher atau selangkangan
- Perubahan hasil laboratorium berupa penurunan sel darah putih, trombosit mulai menurun, serta peningkatan ringan enzim hati
- Denyut jantung relatif lambat meski suhu tubuh tinggi pada sebagian pasien
Baca juga: 5 Perbedaan Malaria dan Demam Berdarah yang Sering Dianggap Serupa
Tanda Peringatan Dengue Berat
Tanda bahaya dengue berat, biasanya muncul setelah demam mulai menurun. Itu merupakan sebuah fase transisi yang justru paling berisiko.
Pada tahap ini, keluhan tidak lagi didominasi demam, melainkan gangguan sirkulasi dan kebocoran cairan dari pembuluh darah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan, keberadaan tanda peringatan merupakan indikator kuat kemungkinan progresi ke dengue berat, dan memerlukan perawatan di rumah sakit.
Tanda peringatan dengue berat meliputi:
- Nyeri perut hebat dan menetap
- Muntah berulang, lebih dari tiga kali dalam 24 jam
- Perdarahan pada selaput lendir, seperti mimisan, gusi berdarah, atau darah pada muntahan dan feses
- Lemas ekstrem, gelisah, atau perubahan perilaku
- Tangan dan kaki terasa dingin atau lembap
- Napas cepat dan pendek
- Peningkatan nilai hematokrit yang menandakan kebocoran plasma
- Muncul bintik perdarahan atau memar pada kulit dengan trombosit rendah
Kelompok Berisiko Tinggi Mengalami Dengue Berat
Tidak semua penderita dengue memiliki risiko yang sama. Pada kelompok tertentu, gejala dapat berkembang lebih cepat dan berat, meskipun awalnya tampak ringan.
Kelompok berisiko tinggi antara lain:
- Anak-anak di bawah lima tahun
- Pasien dengan infeksi dengue berulang
- Ibu hamil, terutama pada trimester akhir
- Individu dengan obesitas
- Penderita diabetes
- Pasien dengan penyakit kronis seperti asma atau gangguan jantung
Pada kelompok ini, pemantauan medis yang ketat sangat dianjurkan untuk mencegah komplikasi serius.
Penanganan Dengue yang Aman
Hingga kini, belum ada obat khusus untuk membunuh virus dengue. Penanganan berfokus pada perawatan suportif dan pemantauan ketat.
Langkah penanganan yang dianjurkan meliputi:
- Menjaga hidrasi dengan cairan oral atau infus sesuai kondisi
- Mengontrol demam hanya dengan parasetamol, menghindari aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid
- Segera dirawat di rumah sakit bila muncul tanda peringatan
- Pemberian cairan infus isotonik untuk mencegah syok
- Pemeriksaan laboratorium rutin untuk memantau trombosit dan hematokrit
- Pencegahan gigitan nyamuk guna menghindari infeksi ulang
Deteksi Dini Jadi Kunci Keselamatan
Demam berdarah dengue bukan sekadar penyakit demam biasa. Meski sering dimulai dengan gejala ringan, fase kritis setelah demam turun, merupakan periode paling berbahaya.
Mengenali tanda peringatan sejak dini, seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, dan perubahan kondisi umum, dapat mencegah keterlambatan penanganan yang berakibat fatal.
Dengan perawatan yang tepat waktu, pemantauan ketat, dan edukasi yang baik, sebagian besar penderita dengue dapat pulih sepenuhnya.
Upaya pencegahan melalui pengendalian nyamuk dan perlindungan diri dari gigitan, tetap menjadi langkah utama. Hal itu dilakukan untuk menekan angka kejadian demam berdarah di masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily