INDOZONE.ID - Kasus child grooming di media sosial semakin mengkhawatirkan. Pelaku memanfaatkan celah di dunia digital untuk membangun hubungan dengan anak-anak, hingga akhirnya menjebak mereka dalam manipulasi emosional dan risiko pelecehan. Sayangnya, banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang menjadi sasaran grooming.
Menurut Nahar psikolog klinis Kasandra Putranto, child grooming adalah proses bertahap membangun kepercayaan anak dengan tujuan eksploitasi, baik secara psikologis maupun seksual.
Berikut 6 modus child grooming yang paling sering terjadi di media sosial dan platform digital, yang wajib diketahui orang tua dan lingkungan terdekat anak.
6 Modus Child Grooming di Media Sosial dan Platform Digital
1. Berawal dari Game Online dan Fitur Interaktif
Salah satu modus paling umum terjadi di permainan daring (online game). Pelaku berkenalan dengan anak melalui game, lalu memberikan hadiah virtual seperti diamond, skin, atau gimmick agar karakter anak terlihat lebih keren.
Interaksi berlanjut melalui fitur chat di dalam game. Dari sini, pelaku mulai membangun kedekatan emosional sebelum akhirnya meminta kontak pribadi anak di luar platform game.
Tanda bahaya:
Anak mendapat hadiah dari orang tak dikenal dan mulai sering chatting intens dengan seseorang di game.
2. Memberi Perhatian dan Pujian Berlebihan
Pelaku grooming sangat piawai memberikan perhatian, empati, dan pujian berlebihan. Anak dibuat merasa istimewa, dipahami, dan dianggap penting melalui media sosial. Perlakuan ini menciptakan ikatan emosional yang kuat.
Baca juga: Waspada Child Grooming, Berikut Karakteristik dan Cara Pendekatan oleh Pelaku
Pelaku sering memposisikan diri sebagai “teman terbaik” atau tempat curhat yang selalu mengerti, bahkan saat anak merasa tidak didengar di lingkungan sekitarnya.
Tanda bahaya:
Anak merasa hanya satu orang di dunia maya yang benar-benar memahami dirinya.
3. Menggunakan Akun Palsu dengan Profil Menarik
Banyak pelaku menggunakan akun palsu dengan foto profil menarik, usia disamarkan, dan identitas yang dimanipulasi. Tujuannya agar terlihat aman, keren, atau seumuran dengan korban.
Anonimitas media sosial memudahkan pelaku menyembunyikan niat jahat dan berpindah akun jika mulai dicurigai.
Tanda bahaya:
Akun baru, minim jejak digital, tetapi cepat membangun kedekatan personal.
4. Mengarahkan Percakapan ke Ruang Privat
Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku biasanya meminta anak untuk berpindah ke ruang komunikasi yang lebih privat, seperti DM, aplikasi pesan instan, atau panggilan pribadi.
Di tahap ini, pelaku mulai meminta informasi sensitif seperti foto, alamat rumah, sekolah, atau nomor telepon, dengan alasan kepercayaan atau kedekatan.
Tanda bahaya:
Anak diminta merahasiakan percakapan dan dilarang memberi tahu orang tua.
5. Manipulasi Emosional dan Gaslighting
Pelaku child grooming sering menggunakan teknik manipulasi psikologis, termasuk gaslighting, untuk membuat anak meragukan perasaan dan penilaiannya sendiri.
Baca juga: Trauma Child Grooming: Luka Psikologis yang Bisa Terbawa sampai Seumur Hidup
Anak bisa dibuat merasa bersalah, bingung, atau takut kehilangan perhatian pelaku. Kondisi ini membuat korban lebih mudah dikendalikan dan sulit menolak permintaan yang semakin berbahaya.
Tanda bahaya:
Anak terlihat cemas, tertutup, dan berubah sikap setelah berinteraksi dengan seseorang di media sosial.
6. Mengisolasi Anak dari Lingkungan Terdekat
Modus paling berbahaya adalah upaya mengisolasi anak dari teman dan keluarga. Pelaku perlahan membangun narasi bahwa hanya dirinya yang bisa dipercaya, sementara orang lain dianggap tidak memahami korban.
Proses grooming ini bisa berlangsung mingguan hingga bertahun-tahun, tergantung strategi pelaku dan kondisi psikologis anak.
Tanda bahaya:
Anak menjauh dari keluarga, enggan bercerita, dan lebih percaya pada orang di dunia maya.
Cara Mencegah Child Grooming di Media Sosial
Para ahli menekankan bahwa pencegahan harus dilakukan sejak dini, antara lain dengan:
- Mengawasi aktivitas digital anak tanpa menghakimi
- Mengajak anak berdiskusi soal keamanan data pribadi
- Mengatur akun media sosial anak menjadi private
- Melatih anak bersikap asertif dan berani berkata tidak
- Membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman bercerita
Child grooming bukan sekadar ancaman di dunia maya, tetapi masalah serius yang membutuhkan peran aktif keluarga dan lingkungan. Mengenali modus sejak awal adalah langkah penting untuk melindungi anak-anak dari risiko yang lebih besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kemenpppa.go.id, ANTARA