Rabu, 28 JANUARI 2026 • 18:15 WIB

Kebiasaan Nonton Video Pendek dan Doom Scrolling Bisa Rusak Otak? Simak Dampaknya

Author

Ilustrasi scrolling handphone. (Freepik)

INDOZONE.ID - Hayoo, siapa di sini yang ketagihan nonton video pendek? Apa jangan-jangan kamu salah satunya yang dikit-dikit buka HP, termasuk mengonsumsi sebagian besar konten yang ada di media sosial?

Memang nggak bisa dipungkiri, di zaman yang serba digital, menonton video berformat pendek mulai jadi kebiasaan baru karena terkesan simpel dan cepat. Tapi kamu tahu nggak sih, ternyata kebiasaan tersebut bisa memengaruhi kerja otak kita jadi lambat, lho. Istilah lain dari fenomena ini disebut brainrot.

Apa Sih Brainrot Itu?

Istilah brainrot sebenarnya merupakan kata populer yang ditetapkan oleh Oxford University Press pada tahun 2024. Sebutan ini merujuk pada peningkatan pola kebiasaan manusia yang gemar menonton jenis konten tertentu dalam format pendek, termasuk video receh di ruang digital.

Seseorang bisa terpapar brainrot juga dimulai dari kebiasaan doom scrolling yang ditujukan untuk kebutuhan hiburan. Apalagi platform yang kita pakai turut menampilkan algoritma yang dirancang sesuai kebiasaan pengguna di akunnya, sehingga menimbulkan rasa adiktif yang bikin kita ketagihan untuk terus scrolling sampai lupa waktu, bahkan mulai mengganggu aktivitas harian.

Baca juga: Asyik Tapi Berisiko: Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental Remaja

Kenapa Konten Pendek Terasa Adiktif?

Kebiasaan manusia sekarang yang ingin serba cepat menjadikan konten berformat pendek sebagai pilihan instan yang bisa bikin kita terlibat aktif dan update terhadap segala tren terkini.

Kontennya yang dianggap efisien karena bisa merangkum langsung inti topik dan sifatnya yang menghibur, sering juga dijadikan sebagai coping mechanism sesaat, hingga akhirnya bikin orang jadi lebih candu untuk terus melakukan hal yang sama berulang kali.

Ini juga termasuk ketika kita menonton konten dengan durasi lebih panjang. Jika sudah gampang bosan dan cenderung mempercepat durasi, atau malah memilih menonton ringkasan yang langsung membahas inti sari, tandanya otak kita sudah terbiasa menghasilkan dopamin cepat yang turut memengaruhi sistem kerja kognitif.

Dampak Brainrot di Kehidupan Sehari-hari

Fenomena brainrot bukan sekadar istilah populer, tapi dampaknya ternyata cukup berpengaruh dalam kehidupan harian kita, lho. Beberapa di antaranya yaitu:

Sulit Fokus dan Kebiasaan Menunda-nunda

Melansir dari Everyday Health, kebiasaan doom scrolling dan mengonsumsi konten serba cepat dan ringkas bisa bikin fokus kita terbagi hingga mudah terdistraksi. Alhasil, kamu jadi sering menunda-nunda pekerjaan, gampang bosan, serta kerap kehilangan fokus saat harus menyelesaikan aktivitas yang lebih panjang dan kompleks.

Penurunan Daya Ingat, Berpikir Kritis, dan Problem Solving

Selain sulit fokus, terlalu banyak mengonsumsi konten pendek juga bisa mengganggu daya ingat dan kemampuan berpikir kritis kita, lho.

Hal ini disebabkan karena otak kita sudah terbiasa menerima konten cepat yang minim jeda. Konten yang seharusnya bisa kita nikmati dan kritisi justru terasa lewat begitu saja, tanpa memberi otak kesempatan untuk berpikir dan memproses informasi.

Kondisi ini juga bisa membuat kita jadi lebih impulsif, susah mengambil keputusan, serta kesulitan memecahkan suatu masalah.

Meningkatkan Rasa Stres atau Kecemasan Berlebih

Ilustrasi cemas berlebih (BOLDSKY)

Paparan konten yang kita lihat di media sosial juga bisa sangat memengaruhi kesehatan mental. Konten yang dikonsumsi secara terus-menerus bisa diterima secara negatif oleh tubuh, yang akhirnya memicu rasa stres, cemas, bahkan depresi.

Cara Mengurangi Dampaknya

Kabar baiknya, meskipun brainrot dikatakan sebagai masalah serius, dampaknya tidak bersifat permanen karena kita bisa melatih otak agar kembali tajam dengan cara-cara berikut:

Batasi Screen Time

Dalam beberapa sumber, membatasi screen time disebut sebagai langkah awal untuk mengurangi dampak brainrot. Cara ini juga dinilai ampuh untuk melatih otak agar tidak selalu mengejar kesenangan instan, sekaligus meningkatkan fokus dalam menyelesaikan pekerjaan tanpa terdistraksi.

Kamu bisa membatasi penggunaan setiap akun media sosial yang dimiliki. Jika kamu orang tua, fitur kontrol juga bisa dimanfaatkan untuk membatasi aplikasi yang sering digunakan anak, atau menetapkan jadwal bermain gawai hanya saat waktu libur.

Perbanyak Membaca

Berbeda dengan informasi dari video pendek, membaca buku, artikel, atau berita secara utuh membantu otak lebih fokus. Selain itu, membaca juga melatih kemampuan berpikir kritis serta memperkuat fungsi kognitif dan bahasa.

Baca juga: Brain Rot Mengintai Gen Z karena Kecanduan Game, Scrolling hingga FOMO

Kurangi Aktivitas Multitasking

Banyak dari kita yang tidak sadar bahwa multitasking bisa meningkatkan stres dan menurunkan produktivitas.

Melansir dari WebMD, hal ini terjadi karena otak dibebani banyak aktivitas sekaligus tanpa diberi kesempatan untuk mencerna dengan baik. Untuk menguranginya, cobalah membuat to-do list harian dan menyelesaikan tugas satu per satu daripada mengerjakannya bersamaan.

Journaling

Banyak orang menjadikan konten lucu di internet sebagai coping mechanism instan. Padahal, cara ini hanya menekan emosi, bukan memahami perasaan secara menyeluruh.

Karena itu, teknik journaling sering direkomendasikan. Metode ini membantu kita lebih memahami diri sendiri, melatih problem solving, serta mengambil keputusan tanpa impulsif.

Lakukan Aktivitas Lain

Ada banyak aktivitas di luar dunia digital yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan otak dengan cara menyenangkan. Mulai dari menekuni hobi, mencari hobi baru, olahraga, meditasi, bersosialisasi, hingga kegiatan lain yang memberi variasi positif bagi perkembangan otak.

Meski istilahnya populer, brainrot merupakan fenomena nyata yang bisa dialami siapa saja. Dampaknya dapat memengaruhi fungsi kognitif manusia dan mengganggu produktivitas. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan keseimbangan antara ruang digital dan dunia nyata dengan menerapkan gaya hidup yang sehat secara menyeluruh.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Everydayhealth.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU