Kamis, 29 JANUARI 2026 • 21:00 WIB

Keringat Tak Terkendali? Kenali Hiperhidrosis dan Solusinya

Author

Ilustrasi tubuh berkeringat. (Photo/Ilustrasi/freepik)

INDOZONE.ID - Hiperhidrosis adalah kondisi medis yang ditandai dengan produksi keringat berlebihan yang tidak berkaitan dengan suhu lingkungan atau aktivitas fisik. Meski keringat berfungsi sebagai mekanisme alami untuk mendinginkan tubuh, pada penderita hiperhidrosis, produksi keringat terjadi secara berlebihan dan sering kali tanpa penyebab yang jelas.

Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang, mulai dari rasa tidak nyaman hingga masalah sosial dan emosional. Namun, saat ini tersedia berbagai metode yang efektif untuk mengatasi hiperhidrosis. Berikut beberapa pilihan pengobatan yang umum digunakan.

1. Penggunaan Antiperspirant

Antiperspirant merupakan terapi awal yang paling sering direkomendasikan. Produk ini mengandung bahan aktif seperti aluminium klorida yang bekerja dengan menyumbat sementara kelenjar keringat. Antiperspirant tersedia dalam bentuk roll-on, spray, maupun stick.

Untuk hasil optimal, antiperspirant dianjurkan digunakan pada malam hari sebelum tidur, saat aktivitas kelenjar keringat cenderung lebih rendah sehingga bahan aktif dapat bekerja lebih efektif.

Baca juga: Ketiak Terus Berkeringat Meski Pakai Deodoran? Ternyata Ini Penyebabnya

2. Obat-obatan Oral

Obat oral juga dapat digunakan untuk mengatasi hiperhidrosis, terutama pada kasus yang lebih luas. Obat antikolinergik seperti glikopirolat atau oksibutinin bekerja dengan menghambat sinyal saraf yang memicu produksi keringat.

Namun, penggunaan obat-obatan ini harus berada di bawah pengawasan dokter karena berpotensi menimbulkan efek samping, seperti mulut kering, sembelit, jantung berdebar, dan gangguan penglihatan.

3. Botulinum Toxin (Botox)

Suntikan botulinum toxin atau Botox merupakan salah satu terapi yang terbukti efektif, terutama untuk keringat berlebih di area ketiak, telapak tangan, dan telapak kaki. Botox bekerja dengan menghambat sinyal saraf yang merangsang kelenjar keringat.

Efeknya bersifat sementara dan umumnya bertahan selama 6–12 bulan, sehingga perlu dilakukan pengulangan sesuai kebutuhan.

4. Iontophoresis

Iontophoresis adalah metode terapi yang menggunakan arus listrik rendah melalui air untuk menekan aktivitas kelenjar keringat. Prosedur ini sering digunakan untuk tangan dan kaki.

Pengobatan biasanya dilakukan beberapa kali dalam seminggu hingga produksi keringat berkurang, kemudian dilanjutkan dengan sesi pemeliharaan secara berkala.

5. Terapi Gelombang Mikro (Microwave Therapy)

Ilustrasi orang berkeringat. (insider.com)

Terapi gelombang mikro merupakan metode non-invasif yang memanfaatkan energi panas untuk menghancurkan kelenjar keringat secara permanen, terutama di area ketiak. Prosedur ini dilakukan dengan anestesi lokal untuk meminimalkan rasa tidak nyaman.

Terapi ini tergolong relatif baru, tetapi hasil klinis menunjukkan penurunan produksi keringat yang signifikan dan bersifat jangka panjang.

6. Operasi

Pada kasus hiperhidrosis berat yang tidak merespons terapi lain, tindakan operasi dapat menjadi pilihan terakhir. Salah satu prosedur yang dikenal adalah simpatektomi torakal endoskopik (ETS), yaitu pemotongan atau penghancuran saraf yang mengontrol produksi keringat.

Meski efektif, prosedur ini memiliki risiko, termasuk efek samping berupa keringat kompensasi, yaitu peningkatan produksi keringat di area tubuh lain.

Baca juga: Mengapa Tubuh Mudah Berkeringat walau Cuacanya Dingin? Kenali Juga Cara Mengatasinya

7. Perubahan Gaya Hidup

Selain terapi medis, perubahan gaya hidup juga dapat membantu mengurangi gejala hiperhidrosis, antara lain:

  • Menghindari makanan pedas, kafein, dan alkohol yang dapat memicu keringat berlebih.
  • Menggunakan pakaian berbahan alami seperti katun atau linen agar kulit dapat bernapas.
  • Mengelola stres melalui teknik relaksasi, seperti meditasi, yoga, atau latihan pernapasan, karena stres dapat memperparah produksi keringat.

8. Perawatan Topikal dan Alami

Seiring perkembangan medis, kini tersedia obat topikal resep seperti glikopirolat dalam bentuk krim atau tisu khusus yang digunakan langsung pada area berkeringat, terutama untuk wajah dan ketiak.

Sementara itu, beberapa perawatan alami juga dilaporkan membantu mengurangi gejala, meski efektivitasnya bervariasi pada setiap individu:

  • Cuka sari apel, yang dioleskan sebelum tidur, dipercaya dapat membantu mengontrol keringat.
  • Teh hitam, yang mengandung asam tanin bersifat astringen, dapat digunakan untuk merendam tangan atau kaki.
  • Minyak kelapa, yang memiliki sifat antimikroba, membantu mengurangi bau keringat dan menjaga kesehatan kulit.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: PubMed

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU