INDOZONE.ID - Pernah nggak sih ketemu orang yang kelihatan super dramatis, selalu pengin jadi pusat perhatian, dan langsung merasa hancur kalau nggak diperhatikan? Kalau pernah, bisa jadi itu bukan cuma soal “caper” biasa. Dalam psikologi, pola perilaku seperti ini bisa berkaitan dengan kondisi yang disebut Gangguan Kepribadian Histrionik atau Histrionic Personality Disorder (HPD).
HPD termasuk ke dalam kelompok gangguan kepribadian Cluster B, yaitu kategori kepribadian yang cenderung dramatis, emosional, dan intens. Jadi, label “drama banget” yang sering kita pakai sehari-hari mungkin sebenarnya menutupi masalah yang lebih dalam. Di artikel ini, kita akan membahas HPD secara menyeluruh, mulai dari pengertiannya, ciri-ciri yang sering muncul, kemungkinan penyebabnya, hingga dampaknya dalam hubungan sosial dan kehidupan sehari-hari.
Apa Itu Gangguan Kepribadian Histrionik?
Gangguan Kepribadian Histrionik adalah salah satu bentuk gangguan kepribadian yang ditandai oleh pola perilaku mencari perhatian secara berlebihan, ekspresi emosi yang dramatis, serta kebutuhan kuat untuk diakui oleh orang lain. Orang dengan HPD cenderung merasa tidak nyaman jika bukan pusat perhatian dan sering menggunakan berbagai cara, termasuk perilaku yang dianggap provokatif atau dramatis, untuk mendapatkan perhatian tersebut.
Dalam istilah psikologi, “histrionik” memang berarti sangat dramatis atau teatrikal. Itu sebabnya banyak orang dengan gangguan ini tampak seperti sedang “beraksi di panggung kehidupan”. Namun, ini bukan pilihan sadar, melainkan pola perilaku yang sudah tertanam.
Walaupun banyak orang suka tampil ekspresif, HPD berbeda karena perilaku ini tidak hanya terlihat dalam situasi tertentu, melainkan hampir di semua konteks hidup, termasuk dalam hubungan sosial, pekerjaan, dan keluarga.
Baca juga: Orang Paling Drama Queen? Hati-hati Mengarah pada Gangguan Kepribadian Histrionik
Ciri-Ciri Gangguan Kepribadian Histrionik
Seperti gangguan kepribadian lainnya, HPD memiliki ciri-ciri khas yang bisa terlihat dalam perilaku sehari-hari. Berikut beberapa ciri umum yang sering muncul:
- Selalu ingin menjadi pusat perhatian
Orang dengan HPD biasanya merasa sangat tidak nyaman jika bukan pusat perhatian. Saat perhatian itu hilang, mereka bisa dengan mudah merasa sedih, kecewa, atau frustrasi, bahkan reaksinya sering terlihat berlebihan bagi orang di sekitarnya. - Ekspresi emosi yang dramatis dan cepat berubah
Mereka sering menunjukkan emosi yang berlebihan, dangkal, atau ekspresi yang tampak tidak sesuai dengan situasi sebenarnya. - Menggunakan penampilan fisik untuk menarik perhatian
Individu dengan HPD cenderung sangat memperhatikan penampilan dan menjadikannya sebagai alat untuk mendapatkan perhatian. - Perilaku provokatif atau genit (flirtatious)
Mereka bisa bersikap sangat genit, bahkan dalam situasi yang tidak pantas, karena perilaku tersebut dianggap efektif untuk menarik perhatian. - Mudah dipengaruhi oleh orang lain
Individu dengan HPD sering kali mudah terpengaruh oleh pendapat atau sikap orang lain, sehingga keputusan dan pandangannya bisa berubah-ubah. - Kesulitan membangun hubungan yang dalam dan stabil
Karena fokus utamanya adalah perhatian, bukan kedekatan emosional yang sehat, mereka sering kesulitan mempertahankan hubungan yang tulus dan intim. - Rasa percaya diri yang bergantung pada validasi eksternal
Harga diri mereka tidak muncul dari dalam diri sendiri, melainkan sangat bergantung pada pujian, perhatian, atau pengakuan dari orang lain.
Kalau kamu pernah merasa punya teman yang “baper banget kalau nggak diperhatiin” atau “langsung drama kalau chat-nya nggak dibalas”, perilaku itu memang bisa masuk spektrum dramatis. Namun, hal tersebut belum tentu berarti seseorang memiliki gangguan kepribadian.
Untuk memastikan diagnosis, dibutuhkan penilaian profesional dari psikolog atau psikiater. Gangguan kepribadian tidak bisa ditentukan hanya dari kesan pribadi atau perilaku sehari-hari yang terlihat sekilas.
Penyebab Gangguan Kepribadian Histrionik
Hingga saat ini, penyebab pasti HPD belum diketahui secara tunggal. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kombinasi faktor genetik dan lingkungan berperan dalam pembentukannya.
Beberapa faktor yang diduga berkontribusi antara lain:
- Faktor genetik
Gangguan ini cenderung muncul dalam keluarga, sehingga ada kemungkinan faktor keturunan turut berperan. - Pengalaman masa kecil
Trauma masa kecil, pola asuh yang tidak konsisten, terlalu memanjakan anak, atau kurangnya batasan emosional dalam keluarga dapat memengaruhi pembentukan pola perilaku dramatis. - Lingkungan sosial yang tidak stabil
Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh konflik, drama, atau tuntutan perhatian berlebihan bisa terbiasa menampilkan perilaku serupa saat dewasa.
Faktor-faktor tersebut tidak otomatis membuat seseorang mengalami HPD, tetapi dapat meningkatkan risiko munculnya pola perilaku ini.
Dampak pada Hubungan Sosial
Gangguan Kepribadian Histrionik bukan sekadar soal “orang yang suka drama”. Kondisi ini dapat berdampak nyata pada hubungan sosial, hubungan kerja, dan hubungan romantis.
Beberapa dampak yang sering terjadi antara lain:
- Sulit membangun hubungan intim yang sehat
Orang dengan HPD sering merasa hubungannya lebih dekat daripada kenyataannya, sehingga memiliki ekspektasi berlebihan terhadap pasangan atau teman. Jika ekspektasi ini tidak terpenuhi, konflik mudah muncul. - Drama dan konflik yang berulang
Perubahan emosi yang cepat dan respons dramatis terhadap hal kecil dapat memicu konflik berkepanjangan. Orang di sekitarnya bisa merasa lelah secara emosional. - Ketergantungan pada persetujuan orang lain
Karena harga diri bergantung pada perhatian sosial, hubungan bisa menjadi tidak seimbang dan penuh tuntutan emosional. - Risiko depresi dan kesepian
Meski terlihat sangat sosial, penderita HPD justru bisa merasa kesepian, kecewa, atau depresi ketika merasa kurang diperhatikan. - Dampak pada kehidupan kerja dan profesional
Di lingkungan kerja, perilaku emosional yang intens, kebutuhan validasi terus-menerus, atau kesulitan bekerja dalam tim bisa menghambat stabilitas karier.
Banyak orang dengan ciri HPD mengalami kesulitan berulang dalam hubungan sosial, bukan karena sengaja ingin hidup dramatis, melainkan karena pola perilaku tersebut membuat interaksi menjadi tidak seimbang.
Baca juga: Apa Itu OCD? Gangguan Mental yang Sering Disalahpahami sebagai Perfeksionis
Bagaimana HPD Didiagnosis dan Ditangani?
Seperti gangguan kepribadian lainnya, HPD tidak bisa didiagnosis hanya berdasarkan asumsi atau konten media sosial. Diagnosis resmi harus dilakukan oleh psikolog atau psikiater, biasanya mengacu pada kriteria DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders).
Dalam hal penanganan, psikoterapi merupakan pendekatan utama. Terapi perilaku, terapi psikodinamik, atau terapi jangka panjang dapat membantu penderita memahami pola perilaku dan membangun cara berinteraksi yang lebih sehat.
Penggunaan obat bukan pengobatan utama HPD, tetapi dapat diberikan untuk menangani kondisi penyerta seperti depresi atau kecemasan.
Gangguan Kepribadian Histrionik bukan sekadar label untuk orang yang “caper” atau suka tampil berlebihan. Ini adalah kondisi psikologis nyata yang dapat mengganggu kehidupan sosial, profesional, dan pribadi jika tidak ditangani dengan tepat.
Memahami ciri-ciri dan dampaknya penting agar kita tidak mudah menilai atau menghakimi perilaku seseorang. Jika kamu atau orang di sekitarmu menunjukkan tanda-tanda yang mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, langkah paling bijak adalah berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Goodtherapy.org, Msdmanuals.com