INDOZONE.ID - Milia adalah kondisi kulit yang kerap muncul tanpa disadari, tetapi dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu penampilan. Bintik-bintik kecil berwarna putih ini umumnya muncul di area wajah, terutama di sekitar mata, pipi, hidung, dan dagu. Milia merupakan kista kecil yang berisi keratin, yaitu protein alami yang terdapat pada kulit, rambut, dan kuku.
Meski tidak berbahaya dan tidak menular, milia sering membuat penderitanya merasa kurang percaya diri. Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab, cara mengatasi, serta langkah pencegahan milia agar tidak muncul kembali.
Apa Itu Milia?
Milia adalah kista kecil yang terbentuk tepat di bawah permukaan kulit akibat keratin yang terperangkap. Keratin seharusnya keluar secara alami melalui proses regenerasi kulit, tetapi pada kondisi tertentu, protein ini justru terjebak dan membentuk benjolan kecil berwarna putih.
Secara umum, milia terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
- Milia primer, yang sering muncul pada bayi baru lahir, tetapi juga dapat dialami oleh anak-anak dan orang dewasa tanpa adanya pemicu tertentu.
- Milia sekunder, yang muncul akibat kerusakan kulit, seperti luka bakar, iritasi, ruam, prosedur dermatologi tertentu, atau peradangan.
Baca juga: Milia di Wajah Ganggu? Cegah dan Atasi dengan Cara Alami Ini
Faktor Penyebab Milia
Munculnya milia dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
1. Penumpukan Keratin di Bawah Kulit
Penyebab utama milia adalah penumpukan keratin yang tidak dapat keluar melalui pori-pori. Kondisi ini sering terjadi akibat proses eksfoliasi alami kulit yang tidak optimal, sehingga sel-sel kulit mati menumpuk.
2. Paparan Sinar Matahari Berlebihan
Paparan sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan dapat menebalkan lapisan kulit terluar. Akibatnya, keratin lebih mudah terperangkap di bawah permukaan kulit dan memicu terbentuknya milia.
3. Penggunaan Produk Perawatan Kulit yang Tidak Sesuai
Produk perawatan kulit yang terlalu berat, berbahan dasar minyak, atau tidak sesuai dengan jenis kulit dapat menyumbat pori-pori. Krim mata atau pelembab yang terlalu oklusif juga sering dikaitkan dengan munculnya milia, terutama di area sekitar mata.
4. Kerusakan pada Kulit
Luka bakar, lecet, iritasi, atau efek samping prosedur tertentu seperti laser dan chemical peeling dapat memicu milia sekunder. Proses penyembuhan kulit yang tidak optimal bisa menyebabkan keratin terperangkap.
5. Penuaan Kulit
Seiring bertambahnya usia, regenerasi sel kulit melambat. Akibatnya, sel kulit mati lebih mudah menumpuk dan meningkatkan risiko terbentuknya milia, terutama pada area kulit tipis seperti kelopak mata.
6. Penggunaan Retinoid
Retinoid memang efektif untuk mengatasi jerawat dan tanda penuaan. Namun, pada beberapa orang, penggunaan retinoid dapat menyebabkan iritasi awal yang berujung pada munculnya milia, terutama jika tidak digunakan dengan benar.
Cara Mengatasi dan Mencegah Milia
Milia sebenarnya dapat hilang dengan sendirinya, tetapi prosesnya bisa memakan waktu cukup lama. Beberapa langkah berikut dapat membantu mempercepat penyembuhan sekaligus mencegah kemunculannya kembali:
1. Eksfoliasi Kulit Secara Teratur
Eksfoliasi membantu mengangkat sel kulit mati dan mencegah penumpukan keratin. Gunakan eksfoliator yang lembut, baik fisik maupun kimia (seperti AHA atau BHA), dan hindari area mata kecuali menggunakan produk khusus.
2. Gunakan Produk Perawatan Kulit yang Tepat
Pilih produk berlabel non-komedogenik dan sesuai dengan jenis kulit. Hindari penggunaan krim atau makeup yang terlalu berat, terutama di area wajah yang rentan milia.
Baca juga: Tiga Bahan Alami Ini Bisa Membantu Menghilangkan Milia di Wajah
3. Lindungi Kulit dari Paparan Sinar Matahari
Gunakan tabir surya setiap hari dengan SPF minimal 30. Pilih sunscreen bertekstur ringan agar tidak menyumbat pori-pori, sekaligus melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV.
4. Konsultasi dengan Dokter Kulit
Jika milia tidak kunjung hilang atau muncul dalam jumlah banyak, sebaiknya konsultasikan ke dokter kulit. Dokter dapat melakukan tindakan medis seperti ekstraksi steril, chemical peeling ringan, atau terapi laser yang aman dan efektif.
5. Hindari Kebiasaan yang Merusak Kulit
Kurangi kebiasaan menyentuh atau memencet milia sendiri karena dapat menyebabkan iritasi dan infeksi. Selain itu, batasi penggunaan produk yang berpotensi mengiritasi kulit.
Milia adalah kondisi kulit yang umum dan tidak berbahaya, tetapi dapat mengganggu penampilan. Penyebabnya beragam, mulai dari penumpukan keratin, paparan sinar matahari, penuaan kulit, hingga penggunaan produk perawatan yang tidak sesuai. Dengan perawatan kulit yang tepat, eksfoliasi rutin, serta perlindungan dari sinar UV, risiko munculnya milia dapat diminimalkan.
Apabila milia terus muncul atau sulit diatasi, konsultasi dengan dokter kulit merupakan langkah terbaik untuk mendapatkan penanganan yang aman dan sesuai kondisi kulit. Perhatian terhadap kebiasaan perawatan sehari-hari menjadi kunci utama dalam mencegah milia datang kembali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline