INDOZONE.ID - Fibromyalgia adalah kondisi kronis yang ditandai dengan nyeri menyeluruh di berbagai bagian tubuh. Rasa sakit ini, umumnya disertai kelelahan ekstrem, gangguan tidur, serta masalah konsentrasi dan suasana hati.
Meski tidak mengancam jiwa, fibromyalgia dapat sangat memengaruhi kualitas hidup penderitanya.
Dikutip dari Mayo Clinic, para peneliti meyakini, fibromyalgia berkaitan dengan gangguan pada cara otak dan sumsum tulang belakang memproses sinyal nyeri, maupun rangsangan non-nyeri. Akibatnya, tubuh menjadi lebih sensitif terhadap rasa sakit.
Gejala Fibromyalgia
Gejala utama fibromyalgia meliputi:
Baca juga: Waspada! Jenis Nyeri Tubuh Ini Bisa Jadi Tanda Kamu Menderita Diabetes
1. Nyeri Menyeluruh
Nyeri biasanya digambarkan sebagai rasa sakit tumpul yang menetap setidaknya selama tiga bulan. Nyeri disebut menyeluruh apabila terjadi di kedua sisi tubuh, serta di atas dan di bawah pinggang.
2. Kelelahan
Penderita sering merasa tetap lelah meskipun telah tidur cukup lama. Rasa nyeri kerap mengganggu kualitas tidur. Banyak pasien juga mengalami gangguan tidur lain seperti, restless legs syndrome dan sleep apnea.
3. Gangguan Kognitif (Fibro Fog)
Gejala yang dikenal sebagai “fibro fog” membuat penderita sulit berkonsentrasi, mengingat, dan menyelesaikan tugas mental.
Selain itu, fibromyalgia sering muncul bersamaan dengan kondisi lain seperti:
- Sindrom iritasi usus (Irritable Bowel Syndrome/IBS)
- Sindrom kelelahan kronis
- Migrain dan jenis sakit kepala lainnya
- Gangguan sendi rahang (TMJ)
- Gangguan kandung kemih nyeri (interstitial cystitis)
- Gangguan kecemasan dan depresi
- Sindrom takikardia postural
- Post-COVID syndrome atau long COVID
Penyebab dan Faktor Risiko
Penyebab pasti fibromyalgia belum sepenuhnya dipahami. Namun, para ahli menduga, terjadi perubahan pada sistem saraf yang menyebabkan peningkatan kadar zat kimia tertentu di otak, yang berperan dalam sinyal nyeri.
Reseptor nyeri di otak diduga menjadi terlalu sensitif, dan bereaksi berlebihan terhadap rangsangan.
Beberapa faktor yang berkontribusi antara lain:
- Faktor genetik: Fibromyalgia cenderung terjadi dalam keluarga.
- Infeksi: Penyakit tertentu dapat memicu atau memperburuk kondisi.
- Peristiwa fisik atau emosional: Kecelakaan, operasi, cedera, atau stres berat dapat menjadi pemicu.
Faktor Risiko
- Berjenis kelamin perempuan (lebih sering terjadi pada wanita)
- Riwayat keluarga dengan fibromyalgia
- Memiliki penyakit lain seperti osteoartritis, rheumatoid arthritis, lupus, atau obesitas
Komplikasi yang Mungkin Terjadi
Nyeri kronis, kelelahan, dan gangguan tidur, dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun karier. Penderita juga kerap mengalami tekanan psikologis karena kondisi ini sering disalahpahami.
Hal tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan.
Diagnosis Fibromyalgia
Diagnosis fibromyalgia dilakukan melalui evaluasi gejala dan riwayat kesehatan pasien, serta pemeriksaan fisik.
Kriteria utama meliputi:
- Nyeri menyeluruh minimal tiga bulan
- Nyeri terjadi pada setidaknya empat dari lima area tubuh berikut:
- Bagian atas kiri (bahu, lengan, atau rahang)
- Bagian atas kanan
- Bagian bawah kiri (pinggul, bokong, atau kaki)
- Bagian bawah kanan
- Area aksial (leher, punggung, dada, atau perut)
Tidak ada tes laboratorium khusus untuk memastikan fibromyalgia. Namun, dokter dapat melakukan tes darah atau pencitraan untuk menyingkirkan penyakit lain seperti rheumatoid arthritis, lupus, atau sindrom kelelahan kronis.
Jika dicurigai adanya gangguan tidur seperti sleep apnea, dokter dapat merekomendasikan studi tidur semalam.
Baca juga: Sering Lelah Padahal Gak Ngapa-ngapain? Ternyata Ini Penyebab Aslinya
Pengobatan Fibromyalgia
Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan fibromyalgia sepenuhnya. Pengobatan bertujuan untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
1. Obat-obatan
Beberapa jenis obat yang umum digunakan:
- Pereda nyeri seperti parasetamol, ibuprofen, atau naproksen. Obat opioid tidak dianjurkan karena berisiko menyebabkan ketergantungan dan memperburuk nyeri dalam jangka panjang.
- Antidepresan seperti duloxetine dan milnacipran untuk membantu mengurangi nyeri dan kelelahan.
- Obat antikejang seperti pregabalin dan gabapentin yang efektif untuk mengurangi nyeri saraf.
- Relaksan otot seperti amitriptyline atau cyclobenzaprine untuk membantu tidur.
2. Terapi Non-Obat
Pendekatan non-farmakologis juga penting dalam pengelolaan fibromyalgia:
- Fisioterapi untuk meningkatkan kekuatan, fleksibilitas, dan stamina.
- Terapi okupasi guna menyesuaikan aktivitas kerja agar tidak memperburuk nyeri.
- Konseling atau terapi perilaku kognitif (CBT) untuk membantu mengelola stres, dan meningkatkan kemampuan coping.
Olahraga ringan secara rutin, teknik relaksasi, serta manajemen stres, juga terbukti membantu mengurangi gejala.
Oleh karena itu, meski belum dapat disembuhkan, kombinasi pengobatan medis dan terapi pendukung dapat membantu penderita menjalani hidup yang lebih berkualitas.
Deteksi dini, dukungan keluarga, serta pemahaman yang baik mengenai kondisi ini, menjadi kunci dalam pengelolaan fibromyalgia secara efektif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic