INDOZONE.ID - Banyak orang masih mengira bahwa pola makan selama Ramadan harus berubah drastis dibandingkan hari biasa. Padahal, kenyataannya kebutuhan gizi tubuh saat puasa tetap sama seperti bulan lainnya. Bahkan, karena aktivitas fisik umumnya lebih ringan, kebutuhan energi justru bisa lebih rendah. Ramadan pun menjadi waktu yang pas untuk mulai menerapkan gaya hidup makan yang lebih sehat dan teratur.
Jika dijalani dengan benar, puasa membawa segudang manfaat bagi kesehatan. Mulai dari memberi waktu istirahat pada lambung dan sistem pencernaan, membantu mengontrol tekanan darah, berat badan, kadar gula darah, hingga kolesterol. Namun, manfaat ini bisa hilang jika pola makan tidak dijaga. Apalagi, banyak hidangan khas Ramadan yang tinggi kalori dan gula sehingga perlu dikonsumsi dengan bijak.
Prinsip Utama Pola Makan Sehat Saat Ramadan
Kunci utamanya adalah menghindari makan berlebihan, baik saat berbuka maupun sahur. Jangan langsung “balas dendam” makan dalam porsi besar. Beri jeda antara makan utama dan camilan agar pencernaan bekerja lebih optimal.
Perbanyak konsumsi buah dan sayur karena kaya serat, air, vitamin, dan mineral yang membantu tubuh tetap segar serta pencernaan lebih lancar selama puasa.
Sahur sebaiknya dilakukan mendekati waktu imsak. Cara ini membantu mengurangi rasa lapar dan haus sepanjang hari, sekaligus menjaga stamina agar tetap bisa beraktivitas tanpa mudah lelah. Asupan cairan juga harus diperhatikan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat keringat.
Baca juga: Demi Kesehatan, Pakar Gizi Sarankan Atur Pola Makan Selama Menjalani Puasa Ramadhan
Makanan dan Minuman yang Perlu Dibatasi
Kurangi makanan asin, terlalu pedas, dan tinggi garam karena bisa memicu rasa haus berlebihan. Konsumsi makanan manis juga perlu dikontrol, lebih baik ganti kue dan dessert dengan buah segar.
Hindari minuman bersoda dan minuman manis berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan pencernaan, asam lambung, serta kenaikan berat badan. Minuman berkafein seperti kopi dan teh juga sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering.
Cara Berbuka yang Lebih Sehat
Saat berbuka, awali dengan beberapa butir kurma dan segelas air putih atau laban. Kombinasi ini membantu tubuh beradaptasi setelah seharian berpuasa dan mencegah gangguan pencernaan. Hindari langsung makan berat.
Minumlah air putih secara perlahan dengan suhu ruang. Air yang terlalu dingin bisa membuat pembuluh darah di lambung menyempit dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Setelah itu, sup ringan terutama sup sayur bisa menjadi pilihan tepat untuk membantu hidrasi dan mencegah sembelit.
Menu utama sebaiknya terdiri dari gizi seimbang: protein (daging tanpa lemak atau kacang-kacangan), karbohidrat (nasi, roti, pasta, atau kentang), serta buah dan sayur minimal lima porsi per hari. Dengan kombinasi ini, tubuh mendapat nutrisi lengkap tanpa perlu makan berlebihan.
Camilan Sehat di Antara Waktu Makan
Di sela waktu antara berbuka dan sahur, cukup konsumsi satu atau dua camilan sehat. Pilih buah segar, yogurt dengan buah, atau segenggam kacang tanpa garam agar energi tetap terjaga tanpa menambah kalori berlebih.
Baca juga: Penjelasan Food Genomics, Pola Makan Berbasis Genetik yang Bisa Perbaiki Tren Kesehatan Masyarakat
Sahur Tepat, Puasa Lebih Tahan Lama
Sahur berperan penting untuk mencegah lemas, pusing, dan rasa haus ekstrem. Pilih makanan yang membuat kenyang lebih lama seperti oatmeal, produk susu rendah garam (keju tawar), buah, sayur, serta makanan tinggi serat dan protein.
Hindari makanan asin seperti acar, zaitun asin, keju asin, makanan cepat saji, serta gula berlebihan karena bisa membuat rasa lapar datang lebih cepat keesokan harinya.
Tetap Aktif Selama Ramadan
Meski berpuasa, tubuh tetap perlu bergerak. Aktivitas fisik ringan bisa dilakukan di waktu yang tepat sesuai kondisi tubuh. Salat Tarawih juga bisa menjadi bentuk aktivitas fisik yang membantu membakar kalori dan menjaga kebugaran.
Dengan pola makan yang seimbang, teratur, dan tidak berlebihan, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Bulan suci ini bisa menjadi momen terbaik untuk memperbaiki pola hidup dan kesehatan secara menyeluruh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dubai Health Authority