Minggu, 15 MARET 2026 • 11:15 WIB

Baby Sering Gumoh? Kenali Penyebab Refluks pada Bayi dan Kapan Harus ke Dokter

Author

Ilustrasi bayi menangis karena perutnya sakit. (Freepik)

INDOZONE.ID - Refluks pada bayi merupakan kondisi yang cukup sering terjadi, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan. 

Kondisi ini, ditandai dengan keluarnya kembali cairan atau makanan dari lambung ke kerongkongan. Sehingga, bayi seperti ‘gumoh’ atau muntah sebagian susu yang diminumnya.

Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai gastroesophageal reflux (GER). Pada sebagian besar kasus, refluks pada bayi merupakan hal yang normal dan akan membaik dengan sendirinya, seiring pertambahan usia.

Namun pada kondisi tertentu, refluks bisa menjadi tanda masalah kesehatan yang lebih serius, sehingga perlu mendapat perhatian medis.

Baca juga: Beda Gumoh Biasa dan GERD pada Bayi, Jangan Anggap Sepele Mom!

Apa Itu Refluks pada Bayi?

Dikutip dari Mayo Clinic, refluks pada bayi terjadi ketika isi lambung naik kembali dari lambung menuju esofagus atau kerongkongan.

Esofagus adalah saluran berbentuk tabung yang menghubungkan mulut dengan lambung.

Kondisi ini dapat terjadi beberapa kali dalam sehari pada bayi. Selama bayi tetap tampak nyaman, aktif, dan tumbuh dengan baik, refluks umumnya tidak perlu dikhawatirkan.

Refluks biasanya semakin jarang terjadi seiring pertumbuhan bayi. Kondisi ini umumnya akan berkurang atau hilang, ketika bayi mendekati usia 12 hingga 18 bulan.

ilustrasi bayi rewel karena gumoh. (Freepik)

Meski demikian, pada kasus yang jarang terjadi, refluks dapat menyebabkan bayi mengalami penurunan berat badan, atau pertumbuhan yang tidak sesuai dengan anak seusianya. 

Jika hal ini terjadi, kemungkinan ada masalah medis lain yang mendasarinya.

Beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan refluks yang lebih serius antara lain, alergi makanan, sumbatan pada sistem pencernaan, atau gastroesophageal reflux disease (GERD), yaitu bentuk refluks yang dapat menimbulkan masalah kesehatan lebih berat.

Gejala Refluks pada Bayi

Sebagian besar, kasus refluks pada bayi tidak menimbulkan gejala yang serius. Hal ini karena isi lambung biasanya tidak cukup asam untuk menyebabkan iritasi pada tenggorokan atau kerongkongan.

Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan beberapa tanda yang mungkin menunjukkan masalah kesehatan yang lebih serius.

Kapan Harus Membawa Bayi ke Dokter?

Orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, apabila bayi menunjukkan beberapa gejala berikut:

  • Tidak mengalami kenaikan berat badan
  • Muntah dengan kuat hingga isi lambung menyembur keluar dari mulut (projectile vomiting)
  • Memuntahkan cairan berwarna hijau atau kuning
  • Memuntahkan darah atau cairan yang menyerupai bubuk kopi
  • Menolak menyusu atau makan
  • Terdapat darah pada tinja
  • Mengalami kesulitan bernapas atau batuk yang tidak kunjung sembuh
  • Baru mulai sering gumoh setelah usia 6 bulan
  • Sangat rewel setelah makan
  • Tampak lemas atau kurang bertenaga

Beberapa gejala tersebut, dapat menandakan kondisi medis yang lebih serius namun masih dapat diobati, seperti GERD atau adanya sumbatan pada saluran pencernaan.

Baca juga: MPASI Dini Tanpa Pengawasan Dokter, Bayi Usia 2 Bulan Alami Diare hingga Muntah

Penyebab Refluks pada Bayi

Pada bayi, otot yang berada di antara kerongkongan dan lambung belum berkembang secara sempurna. Otot ini disebut lower esophageal sphincter (LES).

Ketika LES belum matang, isi lambung dapat lebih mudah naik kembali ke kerongkongan. Seiring bertambahnya usia bayi, otot ini biasanya akan berkembang dengan baik.

LES akan terbuka ketika bayi menelan makanan dan tetap tertutup rapat pada waktu lainnya sehingga isi lambung tetap berada di dalam lambung.

Selain itu, beberapa faktor yang umum terjadi pada bayi juga dapat memicu refluks, antara lain:

  • Bayi lebih sering berada dalam posisi berbaring
  • Pola makan bayi yang hampir seluruhnya berupa cairan

Dalam beberapa kasus, refluks juga dapat disebabkan oleh kondisi medis yang lebih serius, seperti:

1. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Kondisi ini terjadi ketika refluks mengandung asam lambung yang cukup kuat, sehingga dapat mengiritasi dan merusak lapisan kerongkongan.

2. Stenosis Pilorus

Stenosis pilorus terjadi ketika katup otot yang menghubungkan lambung, dan usus halus menebal serta membesar. Akibatnya, makanan terperangkap di lambung dan tidak dapat masuk ke usus halus.

3. Intoleransi Makanan

Pemicu yang paling umum adalah, protein dalam susu sapi yang dapat menyebabkan reaksi tertentu pada sistem pencernaan bayi.

4. Esofagitis Eosinofilik

Kondisi ini terjadi ketika jenis sel darah putih tertentu, yaitu eosinofil, menumpuk dan menyebabkan kerusakan pada lapisan kerongkongan.

5. Sindrom Sandifer

Sindrom ini merupakan komplikasi langka dari GERD yang menyebabkan gerakan tubuh tidak biasa, seperti memiringkan atau memutar kepala secara berulang yang kadang menyerupai kejang.

Faktor Risiko Refluks pada Bayi

Refluks pada bayi tergolong kondisi yang umum terjadi. Namun, beberapa faktor dapat meningkatkan risikonya, antara lain:

  • Kelahiran prematur
  • Penyakit paru-paru seperti fibrosis kistik
  • Gangguan sistem saraf seperti cerebral palsy
  • Riwayat operasi pada kerongkongan

Komplikasi yang Mungkin Terjadi

Pada sebagian besar kasus, refluks pada bayi akan membaik dengan sendirinya, dan jarang menimbulkan komplikasi.

Namun, jika bayi mengalami kondisi yang lebih serius seperti GERD, pertumbuhan bayi bisa lebih lambat dibandingkan anak seusianya.

Beberapa penelitian juga menunjukkan, bayi yang sering mengalami gumoh, kemungkinan memiliki risiko lebih tinggi mengalami GERD saat mereka tumbuh lebih besar.

Oleh karena itu, refluks pada bayi merupakan kondisi yang umum, dan biasanya tidak berbahaya. Selama bayi tetap aktif, nyaman, dan tumbuh dengan baik, kondisi ini umumnya tidak memerlukan penanganan khusus.

Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan gejala yang tidak biasa, terutama jika disertai muntah hebat, kesulitan makan, atau gangguan pertumbuhan.

Jika muncul tanda-tanda tersebut, konsultasi dengan dokter sangat penting. Hal itu untuk memastikan penyebabnya, dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Mayo Clinic

Author
Tags
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU