INDOZONE.ID - Banyak orang fokus menjaga pola makan demi berat badan ideal atau kesehatan fisik. Padahal, apa yang dikonsumsi setiap hari ternyata juga punya pengaruh besar terhadap kondisi mental.
Belakangan, semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa makanan bukan cuma soal kenyang atau kalori. Isi piring sehari-hari ternyata bisa mempengaruhi suasana hati, tingkat stres, kualitas tidur, sampai risiko depresi.
Yang bikin kaget, kebiasaan yang selama ini dianggap sepele seperti terlalu sering minum minuman manis, makan makanan siap saji, atau konsumsi makanan instan berlebihan ternyata bisa berdampak langsung pada kesehatan otak.
Sebaliknya, orang yang menjaga pola makan sehat disebut memiliki kemungkinan lebih rendah mengalami gangguan suasana hati dibanding mereka yang pola makannya berantakan.
Baca juga: 25 Cerita di Balik Jas Putih, Penulis ingin Tunjukkan Dokter Juga Manusia
Kenapa Makanan Bisa Berpengaruh ke Mental?
Banyak orang masih mengira depresi dan kecemasan hanya dipicu oleh masalah hidup, pekerjaan, hubungan, atau trauma emosional. Memang faktor-faktor itu punya pengaruh besar, tetapi kondisi tubuh juga ikut memainkan peran penting.
Otak membutuhkan nutrisi agar bisa bekerja dengan optimal. Saat tubuh terlalu sering mendapat asupan tinggi gula, lemak berlebih, serta makanan olahan dengan pengawet – keseimbangan dalam tubuh bisa terganggu.
Beberapa ahli menyebut pola makan buruk dapat memicu peradangan dalam tubuh. Efeknya bukan cuma membuat badan mudah lelah, tetapi juga bisa mempengaruhi fungsi otak dan produksi hormon yang berkaitan dengan suasana hati.
Itulah kenapa sebagian orang merasa lebih gampang emosional, cepat lelah, sulit fokus, bahkan kehilangan motivasi setelah terlalu sering mengkonsumsi makanan tidak sehat.
Baca juga: Hari Kebangkitan Nasional 2026, ILUNI FKUI Dorong Kesehatan Nasional yang Lebih Manusiawi
Hubungan Antara Usus dan Otak Mulai Jadi Sorotan
Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti mulai banyak membahas soal hubungan antara kesehatan usus dan kondisi mental. Konsep ini sering disebut sebagai gut-brain connection atau hubungan usus dan otak.
Di dalam sistem pencernaan terdapat miliaran bakteri baik yang membantu menjaga keseimbangan tubuh. Menariknya, kondisi usus ternyata juga dapat memengaruhi produksi serotonin, yaitu hormon yang berhubungan dengan rasa bahagia dan kestabilan emosi.
Ketika pola makan buruk merusak keseimbangan bakteri baik dalam usus, efeknya bisa ikut terasa pada kondisi mental. Karena itulah, makanan sehat kini tidak hanya dianggap penting untuk menjaga tubuh tetap sehat, tetapi juga membantu menjaga mood tetap stabil.
Baca juga: Dinkes Mataram Tegaskan Tak Ada Instruksi Swab Massal Hantavirus
Makanan yang Sering Dikonsumsi Diam-Diam Bisa Berdampak Buruk
Tanpa sadar, banyak makanan sehari-hari ternyata termasuk kategori yang kurang ramah bagi kesehatan mental jika dikonsumsi berlebihan. Beberapa di antaranya seperti:
- Minuman tinggi gula
- Makanan cepat saji
- Makanan tinggi karbohidrat olahan
- Camilan atau makanan olahan dengan pengawet
- Makanan instan dengan kandungan sodium tinggi
Baca juga: Dada Tiba-Tiba Sesak? Simak Penyebab dan Penanganannya
Makanan seperti ini memang praktis dan terasa seperti “comforting food”, apalagi saat stres atau sibuk. Namun jika terlalu sering dikonsumsi, tubuh bisa lebih mudah mengalami lonjakan gula darah yang mempengaruhi energi dan mood.
Akibatnya, seseorang bisa merasa cepat lemas, gampang lapar lagi, sulit konsentrasi, bahkan emosinya terasa naik turun.
Diet Mediterania Disebut Baik untuk Kesehatan Mental
Salah satu pola makan yang paling sering dikaitkan dengan kesehatan otak dan mental adalah diet Mediterania. Pola makan ini lebih menekankan konsumsi makanan alami seperti:
- Sayur dan buah
- Ikan
- Kacang-kacangan
- Biji-bijian
- Minyak zaitun
- Dan protein sehat lainnya
Baca juga: Tips yang Bisa Dilakukan Sebelum Medical Check Up, Bikin Hasilnya Tetap Optimal
Banyak penelitian menemukan bahwa pola makan seperti ini dapat membantu menurunkan gejala depresi dan kecemasan.
Alasannya karena makanan alami kaya akan omega-3, antioksidan, vitamin, dan serat yang membantu menjaga fungsi otak tetap optimal.
Selain itu, pola makan sehat juga membantu menjaga energi lebih stabil sepanjang hari. Efek kecil seperti tidur lebih nyenyak, tubuh lebih segar, dan pikiran lebih fokus ternyata punya pengaruh besar terhadap kondisi emosional seseorang.
Bukan Harus Diet Ketat, Mulai dari Hal Kecil Dulu
Mendengar kata “makan sehat”, banyak orang langsung membayangkan diet ketat yang menyiksa.
Baca juga: Multigrain Biru, Nutrisi Pendamping Penderita Diabetes yang Teruji Bantu Kontrol Gula Darah
Padahal, perubahan kecil justru lebih realistis dan mudah dilakukan dalam jangka panjang.
Tidak perlu langsung berhenti total makan makanan favorit. Yang terpenting adalah mulai membangun kebiasaan yang lebih seimbang.
Misalnya dengan mengurangi minuman manis sedikit demi sedikit, memperbanyak konsumsi air putih,menambah porsi sayur dan buah, mengurangi makanan instan, atau mulai memilih camilan yang lebih sehat.
Langkah sederhana seperti sarapan lebih teratur, mengganti minuman bersoda yang cenderung memiliki kandungan gula yang tinggi ataupun minuman berpengawet lainnya – dengan air mineral saja sebenarnya sudah memberi dampak baik bagi tubuh.
Baca juga: Hidup Terasa Gitu-Gitu Aja? Mungkin Ini Tanda Kamu Butuh Ubah Gaya Hidup!
Kesehatan Mental Bukan Cuma Soal Pikiran
Saat berbicara tentang kesehatan mental, banyak orang hanya fokus pada kondisi emosional. Padahal tubuh dan pikiran bekerja saling terhubung.
Olahraga, tidur cukup, pola makan sehat, dan manajemen stres semuanya saling mempengaruhi. Karena itu, menjaga kesehatan mental bukan cuma soal “berpikir positif”, tetapi juga bagaimana merawat tubuh setiap hari.
Jadi kalau belakangan mood terasa berantakan, badan gampang lelah, sulit fokus, atau emosi terasa tidak stabil, mungkin sudah waktunya mulai memperhatikan pola makan. Karena, apa yang masuk ke tubuh bisa ikut menentukan bagaimana kondisi pikiran bekerja setiap harinya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com