Minggu, 31 MEI 2026 • 13:15 WIB

Leukemia Limfositik Akut: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan yang Perlu Dipahami Orang Tua

Author

Ilustrasi orang mengalami Leukemia limfositik akut. (Freepik)


INDOZONE.ID - Leukemia limfositik akut atau Acute Lymphocytic Leukemia (ALL) merupakan jenis kanker darah dan sumsum tulang yang berkembang sangat cepat. 

Seperti diketahui, sumsum tulang adalah jaringan lunak di dalam tulang yang berfungsi memproduksi sel darah.

Istilah 'akut' pada penyakit ini menunjukkan, kanker berkembang dengan cepat dan menghasilkan sel darah putih yang belum matang. 

Sementara itu, kata 'limfositik' mengacu pada limfosit, yaitu salah satu jenis sel darah putih yang terdampak oleh penyakit ini. Leukemia limfositik akut juga dikenal dengan nama leukemia limfoblastik akut.

ALL merupakan jenis kanker yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Kabar baiknya, tingkat keberhasilan pengobatan pada anak cukup tinggi. 

Baca juga: Leukemia Limfoblastik Akut, Kanker Darah yang Paling Sering Menyerang Anak

Meski demikian, penyakit ini juga dapat menyerang orang dewasa, namun peluang kesembuhannya umumnya lebih rendah dibandingkan pada anak-anak.

Gejala Leukemia Limfositik Akut

Gejala leukemia limfositik akut dapat muncul secara bertahap maupun mendadak. Beberapa tanda yang umum terjadi antara lain:

  • Gusi mudah berdarah
  • Nyeri tulang
  • Demam
  • Infeksi yang sering kambuh
  • Mimisan yang sering atau sulit berhenti
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak, perut, atau selangkangan
  • Kulit tampak pucat
  • Sesak napas
  • Tubuh terasa lemah dan mudah lelah

Gejala-gejala tersebut sering kali mirip dengan flu atau infeksi biasa. Namun, jika keluhan tidak membaik atau semakin parah, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.

Penyebab Leukemia Limfositik Akut

Ilustrasi masalah kesehatan seperti leukimia atau kanker darah. (freepik.com)

Leukemia limfositik akut terjadi ketika sel sumsum tulang mengalami perubahan atau mutasi pada DNA. DNA merupakan materi genetik yang mengatur pertumbuhan dan fungsi sel tubuh.

Pada kondisi normal, sel akan tumbuh dan mati secara teratur. Namun pada ALL, mutasi membuat sel terus tumbuh dan membelah tanpa kendali. 

Akibatnya, sumsum tulang menghasilkan terlalu banyak sel darah putih abnormal yang disebut limfoblas.

Sel-sel abnormal tersebut tidak dapat bekerja dengan baik dan justru menumpuk di dalam sumsum tulang, sehingga menghambat produksi sel darah sehat.

Hingga kini, penyebab pasti mutasi DNA yang memicu leukemia limfositik akut, masih belum diketahui secara pasti.

Faktor Risiko ALL

Beberapa faktor diketahui dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami leukemia limfositik akut, di antaranya:

1. Riwayat Pengobatan Kanker

Orang yang pernah menjalani kemoterapi atau terapi radiasi untuk kanker lain memiliki risiko lebih tinggi terkena ALL.

2. Paparan Radiasi Tinggi

Paparan radiasi dalam jumlah besar, seperti pada korban kecelakaan reaktor nuklir, dapat meningkatkan risiko leukemia.

3. Kelainan Genetik

Beberapa gangguan genetik, seperti sindrom Down, diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko leukemia limfositik akut.

Bagaimana Leukemia Limfositik Akut Didiagnosis?

Dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan diagnosis ALL, antara lain:

  • Tes Darah: Tes darah dilakukan untuk melihat jumlah sel darah putih, sel darah merah, dan trombosit. Pemeriksaan ini juga dapat mendeteksi adanya sel blast, yaitu sel darah yang belum matang.
  • Pemeriksaan Sumsum Tulang: Dokter mengambil sampel sumsum tulang menggunakan jarum khusus dari tulang pinggul atau dada. Sampel kemudian diperiksa di laboratorium untuk mendeteksi keberadaan sel leukemia.
  • Tes Pencitraan: Pemeriksaan seperti rontgen, CT scan, atau USG dilakukan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar ke otak, sumsum tulang belakang, atau organ lain.
  • Pungsi Lumbal: Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil cairan tulang belakang untuk melihat apakah sel kanker telah menyebar ke sistem saraf pusat.

Baca juga: Awas! Gejala Leukemia Mieloid Akut Mirip Flu, Tapi Bisa Berakibat Fatal

Menentukan Tingkat Keparahan Penyakit

Tidak seperti beberapa jenis kanker lain yang menggunakan stadium, tingkat keparahan ALL ditentukan berdasarkan:

  • Jenis limfosit yang terkena, apakah sel B atau sel T
  • Perubahan genetik pada sel leukemia
  • Usia pasien
  • Hasil pemeriksaan laboratorium, termasuk jumlah sel darah putih

Pengobatan Leukemia Limfositik Akut

Pengobatan ALL biasanya berlangsung dalam beberapa tahap, dan dapat memakan waktu hingga dua sampai tiga tahun.

1. Terapi Induksi

Tahap awal pengobatan bertujuan membunuh sebagian besar sel leukemia di darah dan sumsum tulang, sekaligus mengembalikan produksi sel darah normal.

2. Terapi Konsolidasi

Terapi ini dilakukan setelah remisi untuk menghancurkan sisa sel leukemia yang masih tertinggal di tubuh.

3. Terapi Pemeliharaan

Tahap ini bertujuan mencegah kanker kambuh kembali. Pengobatan diberikan dalam dosis lebih rendah namun berlangsung dalam jangka panjang.

4. Terapi Pencegahan ke Sistem Saraf Pusat

Pasien ALL sering mendapat tambahan kemoterapi langsung, ke cairan tulang belakang guna mencegah penyebaran sel kanker ke otak dan saraf pusat.

ilustrasi sel kanker (Sumber : Freepik)

Pilihan Pengobatan yang Digunakan

  • Kemoterapi: Kemoterapi menjadi pengobatan utama untuk membunuh sel kanker, baik pada anak maupun orang dewasa.
  • Terapi Target: Terapi ini bekerja dengan menyerang kelainan tertentu pada sel kanker sehingga membantu menghentikan pertumbuhan sel leukemia.
  • Radioterapi: Terapi radiasi digunakan bila kanker telah menyebar ke sistem saraf pusat.
  • Transplantasi Sumsum Tulang: Prosedur ini mengganti sumsum tulang yang rusak dengan sumsum tulang sehat dari donor yang cocok.
  • Terapi CAR-T Cell: Teknologi ini memodifikasi sel imun tubuh agar mampu mengenali dan menyerang sel leukemia secara lebih efektif.
  • Uji Klinis: Pasien juga dapat mengikuti uji klinis untuk mencoba metode pengobatan terbaru yang masih dalam tahap penelitian.

Pengobatan pada Lansia

Pasien berusia di atas 65 tahun, cenderung mengalami komplikasi pengobatan lebih tinggi dan memiliki prognosis yang lebih rendah dibandingkan anak-anak.

Oleh karena itu, keputusan terapi biasanya disesuaikan dengan kondisi kesehatan secara keseluruhan, tujuan pengobatan, serta kualitas hidup pasien.

Pengobatan Alternatif

Hingga kini, belum ada terapi alternatif yang terbukti dapat menyembuhkan leukemia limfositik akut.

Namun, beberapa metode dapat membantu mengurangi efek samping pengobatan, seperti:

  • Akupunktur  
  • Olahraga ringan
  • Pijat
  • Meditasi
  • Yoga dan tai chi

Sebelum mencoba terapi alternatif, pasien tetap disarankan berkonsultasi dengan dokter. Sebab, beberapa metode dapat memengaruhi efektivitas kemoterapi.

Dukungan Mental Sangat Penting

Perjalanan pengobatan leukemia limfositik akut bisa berlangsung panjang dan melelahkan, terutama pada beberapa bulan pertama terapi.

Dukungan keluarga, tenaga medis, psikolog, hingga komunitas pasien sangat penting untuk membantu pasien dan keluarga menghadapi proses pengobatan.

Anak-anak dengan leukemia limfositik akut, umumnya masih dapat kembali bersekolah saat memasuki fase pemeliharaan. Sementara orang dewasa, mungkin masih dapat melanjutkan aktivitas kerja sesuai kondisi kesehatannya.

Pentingnya Deteksi Dini Leukemia Limfositik Akut

Leukemia limfositik akut merupakan kanker darah yang berkembang cepat dan membutuhkan penanganan segera. Mengenali gejala sejak dini, dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan, terutama pada anak-anak.

Jika mengalami gejala yang mencurigakan seperti mudah lelah, mimisan berulang, demam berkepanjangan, atau pembengkakan kelenjar getah bening, segera lakukan pemeriksaan medis agar diagnosis dan terapi dapat dilakukan sedini mungkin.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Mayo Clinic

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU