Minggu, 14 JUNI 2026 • 13:15 WIB

Kadar Vitamin C Rendah Dikaitkan dengan Penyusutan Otak, Ini Temuan Peneliti

Author

Ilustrasi vitamin C (Pexels/Polina Tankilevitch)

INDOZONE.ID - Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami berbagai perubahan alami, termasuk pada otak

Salah satu perubahan yang umum terjadi adalah berkurangnya volume materi abu-abu (gray matter). Itu merupakan bagian otak, yang berperan penting dalam memproses informasi, mengendalikan gerakan, serta mengatur emosi.

Penurunan volume materi abu-abu, dapat membuat otak lebih sulit menjalankan fungsi tertentu. Misal, membentuk memori baru dan melakukan beberapa tugas sekaligus.

Selain itu, proses penuaan juga memengaruhi neuron dan neurotransmiter di otak, yang berperan dalam komunikasi antarsel saraf. 

Perubahan ini dapat berdampak pada konektivitas otak, dan kemampuannya dalam menerima serta mengirimkan sinyal.

Dikutip dari Medical News Today, sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan, pola makan sehat yang berfokus pada kesehatan otak, dapat membantu memperlambat penuaan otak dan penurunan fungsi kognitif. 

Baca juga: 6 Manfaat Vitamin C untuk Wajah yang Bikin Kulit Cerah dan Sehat

Berbagai nutrisi seperti asam lemak omega-3, vitamin B, flavonoid, magnesium, vitamin E, dan vitamin C juga diketahui berpotensi mendukung kesehatan otak seiring bertambahnya usia.

Kini, terdapat penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PLOS One. 

Penelitian tersebut menemukan, kadar vitamin C yang rendah dalam plasma darah, berkaitan dengan volume materi abu-abu otak yang lebih kecil, serta penurunan konektivitas otak pada orang lanjut usia.

Kenapa Vitamin C Menjadi Fokus Penelitian?

Ilustrasi minum vitamin C (Popular Science)

Dalam penelitian ini, para ilmuwan menganalisis sampel darah, dan hasil pemindaian MRI dari sekitar 2.000 orang dewasa Jepang berusia di atas 64 tahun. 

Peneliti mengukur volume materi abu-abu dan materi putih otak, serta kadar vitamin C dalam plasma darah para peserta.

Menurut Dr. Tomohiro Shintaku, asisten profesor di Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hirosaki, Jepang, vitamin C merupakan antioksidan penting yang memiliki konsentrasi di cairan serebrospinal otak lebih dari dua kali lipat dibandingkan di dalam darah.

Ia menjelaskan, penelitian sebelumnya telah menunjukkan hubungan antara pola makan kaya vitamin C, dan risiko yang lebih rendah terhadap gangguan kognitif seperti penyakit Alzheimer. 

Namun, hubungan langsung antara kadar vitamin C dalam darah dan jaringan saraf utama di otak, masih belum banyak dipahami.

"Kami ingin mengisi kekosongan pengetahuan tersebut karena belum ada penelitian sebelumnya yang mengevaluasi hubungan antara kadar vitamin C plasma dan default mode network (DMN), yaitu jaringan area otak yang lebih aktif saat seseorang sedang beristirahat," ujar Shintaku.

Ia menambahkan, otak sangat rentan terhadap stres oksidatif. Sementara antioksidan dari makanan, berperan penting dalam melindungi neuron dari kerusakan akibat radikal bebas, dan menjaga fungsi saraf secara keseluruhan.

Baca juga: Vitamin C Tidak Boleh Dicampur dengan Apa? Bisa Memicu Iritasi Kulit

Kadar Vitamin C Rendah Dikaitkan dengan Volume Otak yang Lebih Kecil

Hasil penelitian menunjukkan, peserta dengan kadar vitamin C plasma yang lebih rendah, cenderung memiliki volume materi abu-abu yang lebih kecil. 

Selain itu, mereka juga menunjukkan konektivitas yang lebih rendah pada jaringan default mode network.

Menurut Shintaku, berkurangnya volume materi abu-abu, umumnya mencerminkan atrofi otak dan hilangnya sejumlah neuron. Sementara itu, DMN merupakan jaringan otak yang sangat penting untuk fungsi kognitif, termasuk memori.

Penurunan konektivitas pada jaringan ini diketahui sebagai salah satu tanda awal gangguan kognitif.

"Temuan ini menunjukkan bahwa mempertahankan kadar vitamin C yang optimal berpotensi membantu mengurangi penurunan fungsi kognitif akibat penuaan dan menjaga integritas jaringan otak," kata Shintaku.

Meski demikian, ia menegaskan, penelitian ini bersifat observasional atau cross-sectional, sehingga hanya menunjukkan hubungan, bukan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Ke depan, tim peneliti berencana melakukan studi jangka panjang untuk mengamati bagaimana perubahan kadar vitamin C dari waktu ke waktu memengaruhi struktur otak dan kemampuan kognitif seseorang.

Peran Penting Default Mode Network dalam Fungsi Otak

Menanggapi penelitian tersebut, Dr. Peter Gliebus, Kepala Neurologi dan Direktur Neurologi Kognitif serta Perilaku di Marcus Neuroscience Institute, Amerika Serikat, menyebutkan, hasil penelitian ini cukup menjanjikan.

Menurutnya, menjaga kadar vitamin C yang memadai dapat menjadi salah satu cara sederhana dan mudah untuk mendukung kesehatan otak.

"Jaringan default mode network memiliki peran penting dalam memori jangka pendek, introspeksi, dan proses berpikir yang berkaitan dengan diri sendiri," jelas Gliebus.

Ia juga menekankan, pentingnya terus meneliti bagaimana fungsi otak berubah seiring penuaan, dan bagaimana kadar vitamin dapat memengaruhi proses tersebut.

"Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh menyerap nutrisi dapat menurun dan pola makan menjadi kurang optimal. Karena itu, memahami mekanisme ini sangat penting,” kata Gliebus.

Temuan ini juga membuka peluang intervensi sederhana seperti mengoptimalkan kadar vitamin sebagai strategi pencegahan untuk menjaga kesehatan kognitif," tambahnya.

Hasil Penelitian Perlu Ditafsirkan dengan Hati-Hati

Pendapat serupa disampaikan oleh Dr. Dung Trinh, dokter penyakit dalam dan Kepala Medis Healthy Brain Clinic di California, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Ia menilai, penelitian ini menarik dan memberikan harapan baru, tapi hasilnya perlu diinterpretasikan secara hati-hati.

"Banyak lansia yang khawatir tentang daya ingat, fungsi kognitif, dan kemampuan untuk tetap mandiri. Karena itu, penelitian yang menghubungkan faktor kesehatan sehari-hari seperti nutrisi dengan struktur otak sangat penting," ujar Trinh.

Baca juga: 7 Manfaat Jus Jeruk dan Tomat untuk Kesehatan Tubuh, Kaya Vitamin C!

Meski penelitian menemukan hubungan antara kadar vitamin C yang lebih tinggi dengan indikator kesehatan otak yang lebih baik pada MRI, Trinh menegaskan bahwa penelitian ini belum membuktikan bahwa vitamin C dapat mencegah penurunan kognitif atau bahwa konsumsi suplemen vitamin C akan meningkatkan kesehatan otak.

"Temuan ini lebih tepat dipandang sebagai sinyal bahwa status vitamin C mungkin menjadi salah satu bagian dari gambaran besar kesehatan otak," katanya.

Konsumsi Buah dan Sayur Tetap Menjadi Kunci

Trinh menilai, penelitian lanjutan perlu dilakukan pada populasi yang lebih beragam serta menggunakan pengukuran vitamin C berulang untuk mengetahui dampak jangka panjangnya terhadap volume otak dan fungsi kognitif.

Sementara menunggu bukti yang lebih kuat, ia menyarankan masyarakat untuk tidak terburu-buru mengonsumsi suplemen vitamin C dosis tinggi.

Sebaliknya, masyarakat dianjurkan menerapkan pola makan sehat yang kaya akan sumber vitamin C alami, seperti buah-buahan dan sayuran, serta menjalankan kebiasaan lain yang telah terbukti mendukung kesehatan otak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical News Today

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU