Jumat, 03 JULI 2026 • 14:35 WIB

Perut Sering Mulas Ketika Berada di Situasi Tegang? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Author

ilustrasi perut mulas saat tegang (freepik)

INDOZONE.ID - Pernah merasa perut tiba-tiba melilit menjelang presentasi penting, wawancara kerja, atau saat menghadapi situasi yang bikin waswas? 

Kalau iya, kamu perlu tahu bahwa itu bukan kebetulan semata. Ada penjelasan di balik reaksi tubuh yang satu ini, dan ternyata cukup masuk akal secara ilmiah.

Ketika Rasa Takut "Bersarang" di Perut

Coba diingat-ingat, kenapa ya perut selalu jadi bagian tubuh yang paling dulu "protes" saat kita gugup? Ternyata bukan kebetulan. 

Menurut Harvard Medical School, enteric nervous system yang mengatur usus kerap disebut sebagai "otak kedua" tubuh, karena jaringan saraf ini memakai bahan kimia dan sel yang sama seperti otak untuk membantu proses pencernaan sekaligus memberi sinyal ke otak saat ada yang tidak beres. 

Baca juga: Sering Sakit Punggung Bawah? Bisa Jadi Amarah yang Selama Ini Kamu Pendam Penyebabnya!

Fakta yang lebih mengejutkan datang dari riset Stanford Medicine: sistem pencernaan manusia ternyata menyimpan ratusan juta neuron, jumlahnya bahkan lebih banyak dari seluruh sumsum tulang belakang. 

Itulah kenapa ungkapan seperti "perutnya mules duluan" atau "rasanya kayak diaduk-aduk" bukan sekadar kiasan belaka. 

Ungkapan itu justru menggambarkan dengan tepat apa yang sungguhan terjadi di dalam tubuh saat rasa takut menyerang.

Secara ilmiah, prosesnya berkaitan dengan mekanisme yang dikenal sebagai fight-or-flight response. Menurut penjelasan Harvard Health Publishing, ketika seseorang merasa cukup terancam hingga memicu respons ini, proses pencernaan akan melambat atau bahkan berhenti sementara karena tubuh mengalihkan seluruh energinya untuk menghadapi ancaman yang dirasakan. 

Baca juga: 7 Manfaat Luar Biasa Ikan Toman untuk Kesehatan Tubuh

Bahkan untuk stres ringan sekalipun, seperti gugup sebelum tampil di depan umum, proses pencernaan tetap bisa melambat atau terganggu sementara, sehingga memicu rasa nyeri di perut dan gejala gangguan pencernaan lainnya. 

Secara teknis, hal ini terjadi karena tubuh mengalihkan aliran darah dari sistem pencernaan menuju otot dan otak. Peningkatan aliran darah ke otot dan otak ini mengurangi aliran darah ke sistem pencernaan, sehingga menurunkan nafsu makan sekaligus kemampuan tubuh untuk mencerna makanan.

Menariknya, mekanisme ini sebenarnya warisan evolusi manusia purba, sistem "siaga" yang dulunya berguna untuk lolos dari bahaya nyata. 

Sayangnya, di zaman modern, sistem alarm ini kerap salah sasaran, tetap menyala meski ancamannya cuma deadline pekerjaan atau rasa gugup menjelang ujian, bukan bahaya yang benar-benar mengancam nyawa.

Baca juga: 7 Manfaat Biji Nangka untuk Kesehatan yang Jarang Diketahui

Ada anggapan keliru bahwa mengabaikan rasa takut sama dengan menyelesaikannya. Padahal justru sebaliknya. 

Sebuah studi observasional yang dipublikasikan pada 2025 di Journal of General and Family Medicine menemukan bahwa orang dengan gejala sindrom iritasi usus atau IBS tingkat sedang hingga berat cenderung memiliki skor pengendalian emosi yang jauh lebih tinggi dibanding orang tanpa IBS.

artinya, mereka lebih sering menyembunyikan atau menekan perasaannya sendiri, baik itu rasa cemas, marah, maupun sedih. 

Ketika ketakutan terus-menerus disangkal atau ditekan, tubuh akan mencari cara lain untuk "berbicara", biasanya lewat gejala fisik yang makin terasa mengganggu. 

Baca juga: 7 Penyakit yang Menyerang Sistem Gerak yang Perlu Diwaspadai

Temuan tersebut sejalan dengan tinjauan ilmiah dari National Center for Biotechnology Information (NCBI) menyebutkan bahwa stres kronis atau berkepanjangan terbukti berperan besar dalam meningkatkan kerentanan seseorang terhadap gangguan pencernaan fungsional, termasuk IBS. 

Riset dari Tokyo University of Science pada model hewan turut memperkuat temuan ini, dengan menunjukkan bahwa stres psikologis yang berulang bisa memicu gejala menyerupai IBS, mulai dari gangguan pergerakan usus hingga nyeri di area perut, meski tidak ditemukan adanya kerusakan fisik pada organ pencernaan.

Perut yang terus-menerus tidak nyaman, kembung tanpa sebab jelas, atau gangguan pencernaan yang datang berulang, bisa jadi merupakan bentuk protes tubuh atas emosi yang belum tuntas diproses. 

Semakin lama dibiarkan, semakin kuat pula sinyal yang dikirimkan, dan berdasarkan riset-riset di atas, sinyal itu memang punya dasar ilmiah yang cukup kuat, bukan sekadar mitos atau perasaan berlebihan semata.

Baca juga: 7 Manfaat Ikan Belida untuk Kesehatan yang Sayang Dilewatkan

Lantas, Bagaimana Cara Meredakannya?

Kabar baiknya, siklus ini bisa diputus. Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba:

1. Mulai dengan mengakui, bukan menghindar

Alih-alih menyangkal rasa takut yang muncul, coba akui keberadaannya terlebih dahulu.

Mengenali emosi adalah langkah pertama untuk meredakannya, dan klaim ini punya dasar riset yang kuat. 

Studi klasik neurosaintis Matthew Lieberman dari University of California, Los Angeles (UCLA) yang terbit di jurnal Psychological Science pada 2007 menemukan bahwa sekadar memberi label pada emosi yang dirasakan, misalnya mengucapkan "aku sedang cemas", terbukti menurunkan aktivitas amigdala, bagian otak yang berperan sebagai pusat alarm ancaman, sekaligus meningkatkan aktivitas korteks prefrontal yang mengatur kendali diri secara rasional.

Baca juga: 7 Manfaat Ikan Talang untuk Kesehatan Jantung hingga Otak

Artinya, mengakui rasa takut secara sadar benar-benar meredam reaksi biologisnya di dalam otak, bukan sekadar terdengar menenangkan di atas kertas.

2. Bicarakan dengan orang yang dipercaya

Menyampaikan kekhawatiran kepada teman dekat, keluarga, atau orang yang bisa diajak berdiskusi terbukti mampu meringankan beban yang selama ini tersimpan. 

Sejumlah penelitian yang memakai metode trier social stress test, salah satu protokol standar untuk mengukur respon stres di laboratorium, menemukan bahwa kehadiran dukungan sosial saat menghadapi tekanan mampu menurunkan kadar hormon kortisol secara signifikan. 

Penelitian lain bahkan menunjukkan bahwa dukungan sosial dapat memicu pelepasan hormon oksitosin, yang pada gilirannya membantu menekan produksi kortisol berlebih di dalam tubuh.

Baca juga: 7 Manfaat Ikan Gindara untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Disadari

3. Timbang kembali jika ada kemungkinan lain

Menimbang berbagai kemungkinan dan konsekuensi dari situasi yang menakutkan dapat membantu meredam kecemasan yang berlebihan. 

Dalam ilmu psikologi, teknik ini dikenal sebagai cognitive reappraisal, yaitu proses menafsirkan ulang makna sebuah situasi yang memicu emosi negatif.

Sejumlah tinjauan ilmiah mencatat bahwa penggunaan cognitive reappraisal secara rutin berkaitan dengan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih rendah, sekaligus memberikan efek perlindungan terhadap gejala kecemasan akibat stres berkepanjangan.

Bahkan penelitian yang melibatkan penderita gangguan kecemasan menemukan bahwa teknik ini tetap mampu meredakan reaksi emosional negatif, meski efeknya sedikit lebih lemah dibanding pada orang tanpa gangguan kecemasan.

Baca juga: 5 Permen Pengganti Rokok Terbaik: Ini Rahasia Ampuh Redam Kecanduan Secara Alami

4. Ubah kekhawatiran menjadi kata-kata

Semakin sering rasa takut diungkapkan secara verbal, baik melalui percakapan maupun tulisan, semakin berkurang pula kendalinya atas tubuh.

Studi lanjutan dari tim UCLA menegaskan bahwa proses menuangkan perasaan kedalam kata-kata, baik diucapkan maupun ditulis, secara konsisten mengaktifkan area prefrontal otak yang berfungsi meredam respons alarm di amigdala.

Efeknya pun bukan isapan jempol: dalam sejumlah eksperimen, aktivitas amigdala tercatat menurun signifikan begitu partisipan mulai menamai emosinya secara spesifik, dibanding ketika emosi tersebut hanya dipendam dalam diam.

Tubuh Selalu Jujur, Meski Pikiran Sering Menyangkal

Pada akhirnya, tubuh manusia jarang berbohong. Ketika emosi tidak mendapat ruang untuk diproses secara sehat, reaksi fisik akan muncul sebagai pengingat bahwa ada sesuatu yang perlu diselesaikan.

Baca juga: 7 Manfaat Daun Putri Malu untuk Kesehatan Tubuh yang Perlu Diketahui

Perut yang tiba-tiba mulas bukan sekadar gangguan pencernaan biasa, melainkan bisa jadi cara tubuh mengirim pesan yang selama ini diabaikan.

Jadi, lain kali perut terasa tidak nyaman tanpa sebab yang jelas, mungkin ini saatnya berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apa yang sebenarnya sedang ditakutkan?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU