INDOZONE.ID - Dada sesak, jantung berdebar aneh, napas terasa tertahan, tetapi setelah menjalani medical check-up, hasilnya hanya satu kata: "sehat".
Terasa familiar, bukan? Rasanya ingin protes ke dokter, "Lalu, mengapa masih terasa seperti ini, dok?"
Padahal, jawabannya mungkin bukan berada di ruang periksa, melainkan pada bagian dalam diri kita yang selama ini belum pernah benar-benar kita ajak ‘berdialog’.
Percaya atau tidak, tubuh manusia memiliki cara tersendiri untuk menyimpan luka emosional yang belum sempat terselesaikan. Luka itu tidak benar-benar hilang hanya karena kita berpura-pura baik-baik saja.
Ia hanya berpindah tempat, bersembunyi diam-diam di balik dada dan jantung, dengan sabar menunggu momen yang tepat untuk ‘meledak’ — dan momen itu bisa datang kapan saja, bahkan saat kita paling tidak menyangka.
Baca juga: Sering Sakit Punggung Bawah? Bisa Jadi Amarah yang Selama Ini Kamu Pendam Penyebabnya!
Ketika Tes Medis Bilang "Sehat", Tapi Rasanya Nggak Baik-Baik Saja
Fenomena nyeri dada tanpa sebab medis yang jelas ternyata bukan hal langka. Berbagai pemeriksaan bisa saja menunjukkan hasil normal — jantung sehat, paru-paru baik, tidak ada penyumbatan — tapi rasa sesak dan nyeri tetap terasa nyata.
Kondisi semacam ini kerap membingungkan, sebab secara medis "tidak ada yang salah", padahal secara fisik jelas ada yang tidak beres.
Ternyata, dunia sains punya penjelasan yang cukup mengejutkan soal ini.
Dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), tim peneliti yang dipimpin Ethan Kross dari University of Michigan menemukan bahwa wilayah otak yang berperan mengolah sensasi nyeri fisik, yaitu secondary somatosensory cortex dan dorsal posterior insula, ternyata juga aktif ketika seseorang mengalami penolakan sosial atau kehilangan hubungan yang berarti.
Baca juga: 7 Manfaat Luar Biasa Ikan Toman untuk Kesehatan Tubuh
Dengan kata lain, luka hati dan luka fisik ternyata 'berbagi jalur' yang sama di dalam otak kita — bukan cuma kiasan belaka.
Luka yang Tak Terucap, Berubah jadi Sakit yang Terasa Nyata
Temuan ini bukan berdiri sendiri. Sejak penelitian rintisan oleh Naomi Eisenberger dan koleganya yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada 2003, ilmuwan sudah menemukan bahwa area otak bernama dorsal anterior cingulate cortex dan anterior insula menunjukkan peningkatan aktivitas, baik saat seseorang mengalami nyeri fisik maupun nyeri emosional seperti penolakan atau kehilangan.
Artinya, ketika emosi seperti kesedihan, kekecewaan, atau rasa kehilangan tidak diberi ruang untuk diproses, otak memang benar-benar memprosesnya mirip seperti sedang mengalami cedera fisik.
Bahkan, menurut temuan riset Kross dan tim pada 2011 yang merekrut 40 partisipan dengan pengalaman putus cinta dalam enam bulan terakhir, perasaan ditolak secara intens mampu mengaktifkan wilayah otak yang sama dengan yang aktif saat tubuh merasakan sensasi nyeri fisik.
Baca juga: 7 Manfaat Biji Nangka untuk Kesehatan yang Jarang Diketahui
Fakta ilmiah ini menegaskan bahwa rasa sakit yang muncul di dada bukan sekadar sugesti atau reaksi berlebihan, melainkan cara tubuh dan otak memberi sinyal nyata bahwa ada sesuatu di dalam diri yang belum benar-benar selesai dan membutuhkan perhatian serius.
Kenapa Emosi Bisa "Numpang Tinggal" di Tubuh?
Fenomena ini sebenarnya cukup umum terjadi. Banyak orang nggak sadar bahwa perasaan yang dipendam — entah itu sedih, marah, atau kecewa — nggak benar-benar hilang begitu aja kalau nggak diproses dengan baik.
Menurut penelitian Bruce S. McEwen yang dipublikasikan dalam jurnal Physiological Reviews, ketika otak mendeteksi tekanan emosional, tubuh melepaskan hormon kortisol dan adrenalin yang memicu reaksi "fight or flight", salah satunya berupa peningkatan ketegangan otot di berbagai area tubuh.
Alih-alih menguap begitu saja, emosi itu justru ‘bersembunyi’ dalam bentuk ketegangan fisik yang bisa memicu keluhan yang bikin bingung dokter sekalipun.
Baca juga: 7 Penyakit yang Menyerang Sistem Gerak yang Perlu Diwaspadai
Selain dada dan jantung yang identik dengan rasa sakit hati, area tubuh lain seperti bahu, leher, rahang, hingga perut juga kerap jadi ‘gudang penyimpanan’ stres dan tekanan emosional yang nggak tersalurkan.
Sebuah tinjauan sistematis dalam Journal of Psychosomatic Research menemukan adanya hubungan yang konsisten antara tingkat stres atau kecemasan dengan nyeri kronis di area leher dan bahu.
Nggak cuma itu, artikel yang membahas hubungan rahang, leher, dan stres turut mengutip temuan de Leeuw dan Klasser (2018) yang menyebutkan bahwa stres psikologis berkontribusi signifikan terhadap gangguan sendi rahang (TMJ).
Hal ini disebabkan meningkatnya aktivitas otot di area kepala dan leher — menjelaskan kenapa banyak orang tanpa sadar mengatupkan rahang atau menggertakkan gigi saat sedang tertekan.
Baca juga: 7 Manfaat Ikan Belida untuk Kesehatan yang Sayang Dilewatkan
Jangan Anggap Remeh Sinyal dari Tubuhmu
Kalau kamu sering merasakan keluhan fisik yang nggak kunjung ketemu penyebab medisnya, coba deh sesekali tanya ke diri sendiri: ada perasaan apa yang mungkin belum benar-benar kamu selesaikan?
Bisa jadi itu soal hubungan yang berakhir, kehilangan seseorang, atau bahkan kekecewaan yang selama ini kamu simpan sendiri.
Memberi ruang untuk merasakan dan mengekspresikan emosi bukan tanda lemah, justru sebaliknya — itu langkah penting biar tubuh dan pikiranmu bisa kembali seimbang.
Jadi, lain kali dadamu terasa sesak tanpa alasan jelas, mungkin bukan jantungmu yang bermasalah, tapi hatimu yang minta didengar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber