Minggu, 05 JULI 2026 • 17:20 WIB

Ahli Ungkap Cacar Api Bisa Memperberat Kondisi Penyakit Jantung, Vaksinasi Jadi Langkah Pencegahan

Author

Dr. dr. Sidhi Laksono, Sp.JP, Subsp.KI (K), FIHA, MARS, MH, CPHM, FISQUA, Konsultan Kardiologi Intervensi di Siloam Heart Hospital Depok, dalam talkshow bertajuk "Cacar Api dan Risiko Penyakit Jantung", Sabtu (4/7/2026). (Eliani Kusnedi)

INDOZONE.ID - Penyakit cacar api atau herpes zoster tidak hanya menimbulkan ruam dan nyeri pada kulit. Bagi penderita penyakit jantung, infeksi ini juga dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga memperburuk kondisi jantung.

Hal tersebut disampaikan dr. Sidhi Laksono, Konsultan Kardiologi Intervensi di Siloam Heart Hospital Depok, dalam talkshow bertajuk "Cacar Api dan Risiko Penyakit Jantung", Sabtu (4/7/2026).

Menurutnya, ketika tubuh harus melawan infeksi lain seperti cacar api, kerja jantung menjadi lebih berat, terutama pada pasien yang sudah memiliki riwayat penyakit jantung.

Baca juga: Anak Mendadak Sakit Perut dan Demam? Waspadai Radang Kelenjar Getah Bening Mesenterika

"Jadi pasien-pasien jantung yang mengalami cacar api, nanti dia bisa memperparah kondisi di jantungnya," ungkap dr. SIdhi. 

dr. Sidhi menjelaskan, beban kerja jantung akan meningkat saat tubuh mengalami infeksi. Kondisi tersebut diibaratkan seperti seseorang yang sedang berlari, di mana jantung harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Karena itu, berbagai organisasi kardiologi internasional merekomendasikan vaksinasi bagi orang dewasa, terutama mereka yang mengalami gagal jantung.

Baca juga: Enggak Nyangka! Ternyata Serat Juga Bisa Turunkan Risiko Demensia hingga Depresi

Selain vaksin cacar api, terdapat beberapa vaksin lain yang juga dianjurkan yaitu vaksin pneumokokus, respiratory syncytial virus (RSV), COVID-19, dan influenza.

Orang Sehat Tetap Dianjurkan Vaksin

dr. Sidhi mengatakan, orang yang masih muda memang memiliki risiko komplikasi jantung yang lebih rendah ketika terkena cacar api. Namun, vaksinasi tetap dianjurkan sebagai upaya pencegahan, terutama seiring bertambahnya usia dan munculnya faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol tinggi, maupun diabetes.

Ia juga menjelaskan bahwa virus penyebab cacar api dapat tetap berada di dalam jaringan saraf setelah seseorang pernah mengalami cacar air.

Virus tersebut bisa kembali aktif di kemudian hari sehingga seseorang berisiko mengalami cacar api lebih dari satu kali.

Baca juga: 7 Ikan yang Boleh Dimakan Penderita Asam Urat dan Kolesterol

"Jadi pada dasarnya kalau udah kena cacar, ya kan orang bilang, wah gak bakal kena lagi. Tapi bisa aja kena lagi," ujar dr. Sidhi.

Ketika kambuh, penderita juga dapat mengalami nyeri saraf berkepanjangan atau postherpetic neuralgia, yang menyebabkan rasa nyeri seperti tertusuk-tusuk meski ruam sudah sembuh.

Sudah Pernah Kena Cacar Api, Apakah Masih Perlu Vaksin?

Menurut dr. Sidhi, pasien yang pernah mengalami cacar api tetap dianjurkan menjalani vaksinasi setelah sembuh.

Ia menjelaskan, vaksin cacar api untuk orang dewasa umumnya diberikan sebanyak dua dosis dengan jarak enam bulan dan cukup dilakukan sekali seumur hidup.

Baca juga: Bahaya Sleep Apnea yang Jarang Disadari, Risiko Demensia Bisa Meningkat Hingga Dua Kali Lipat

Vaksin Dewasa Masih Kurang Dikenal

Di akhir sesi, dr. Sidhi menilai kesadaran masyarakat mengenai vaksinasi orang dewasa masih relatif rendah. Selama ini, banyak orang menganggap vaksin hanya diperlukan pada masa anak-anak.

Padahal, vaksinasi juga berperan penting dalam mencegah berbagai penyakit infeksi pada usia dewasa, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta seperti gangguan jantung.

Sebagai contoh, dr. Sidhi mengaku dirinya telah menerima seluruh vaksin dewasa yang direkomendasikan, termasuk vaksin cacar api, RSV, influenza, COVID-19, dan pneumokokus.

Baca juga: 8 Sayuran yang Gak Boleh Dimakan Penderita Kolesterol, Apa Saja?

Anggota keluarganya yang memiliki riwayat penyakit jantung juga telah menjalani vaksinasi sebagai bentuk perlindungan.

Menurutnya, vaksinasi merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko infeksi sekaligus mencegah komplikasi yang lebih berat, khususnya pada kelompok berisiko tinggi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU