INDOZONE.ID – Penyakit Addison merupakan gangguan kesehatan langka, yang terjadi ketika kelenjar adrenal tidak mampu memproduksi hormon penting dalam jumlah yang cukup.
Kondisi yang juga dikenal sebagai insufisiensi adrenal primer ini, dapat menyebabkan berbagai gejala. Mulai dari kelelahan berat, hingga penurunan berat badan yang tidak disengaja.
Meski tergolong jarang terjadi, penyakit Addison dapat menjadi kondisi yang mengancam jiwa, apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Lantaran gejalanya berkembang secara perlahan, banyak penderita yang tidak menyadari, mereka mengalami gangguan hormonal serius.
Baca juga: Waspada! Kejang Berulang Bisa Jadi Tanda Penyakit Epilepsi Autoimun yang Menyerang Otak
Apa Itu Penyakit Addison?
Dikutip dari Mayo Clinic, penyakit Addison terjadi ketika kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal, mengalami kerusakan. Sehingga, tidak mampu menghasilkan hormon kortisol dalam jumlah yang memadai.
Bahkan pada banyak kasus, produksi hormon aldosteron juga ikut menurun.
Kortisol berperan penting dalam mengatur metabolisme tubuh, menjaga tekanan darah, membantu sistem kekebalan tubuh, serta mendukung respons tubuh terhadap stres.
Sementara itu, aldosteron membantu menjaga keseimbangan kadar natrium dan kalium, yang penting untuk mengontrol tekanan darah.
Ketika kedua hormon tersebut tidak diproduksi secara cukup, berbagai fungsi tubuh dapat terganggu.
Gejala Penyakit Addison yang Sering Tidak Disadari
Gejala penyakit Addison umumnya berkembang secara perlahan selama berbulan-bulan. Pada tahap awal, gejalanya sering disalahartikan sebagai kelelahan biasa atau dampak stres berkepanjangan.
Beberapa gejala yang paling umum meliputi:
- Kelelahan ekstrem yang tidak kunjung membaik.
- Lemah otot.
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
- Hilangnya nafsu makan.
- Tekanan darah rendah.
- Pusing atau pingsan saat berdiri.
- Mual, muntah, atau diare.
- Nyeri perut.
- Kram otot dan nyeri sendi.
- Keinginan kuat mengonsumsi makanan asin.
Selain itu, penderita juga dapat mengalami perubahan fisik berupa penggelapan warna kulit, terutama pada bekas luka, lipatan kulit, atau tahi lalat. Kondisi ini dikenal sebagai hiperpigmentasi dan menjadi salah satu tanda khas penyakit Addison.
Gangguan psikologis seperti depresi, mudah marah, dan penurunan gairah seksual pada wanita juga dapat muncul.
Krisis Adrenal, Kondisi Darurat yang Mengancam Jiwa
Dalam beberapa kasus, gejala penyakit Addison dapat memburuk secara tiba-tiba, dan memicu kondisi yang disebut krisis adrenal atau krisis Addisonian.
Kondisi ini merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan penanganan segera karena dapat berakibat fatal.
Gejalanya meliputi:
- Kelemahan berat secara mendadak.
- Nyeri hebat pada punggung bawah, perut, atau tungkai.
- Muntah dan diare berat.
- Dehidrasi parah.
- Demam.
- Kebingungan atau penurunan kesadaran.
- Tekanan darah sangat rendah.
- Pingsan atau kehilangan kesadaran.
Tanpa pengobatan cepat, krisis adrenal dapat menyebabkan syok hingga kematian.
Baca juga: Hati-hati! Trauma Masa Kecil Bisa Jadi Faktor Pemicu Penyakit Autoimun
Penyebab Penyakit Addison
Penyebab paling umum penyakit Addison adalah gangguan autoimun, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan sehat pada kelenjar adrenal.
Selain penyakit autoimun, beberapa kondisi lain yang dapat menyebabkan kerusakan kelenjar adrenal antara lain:
- Tuberkulosis (TBC).
- Infeksi pada kelenjar adrenal.
- Penyebaran kanker ke kelenjar adrenal.
- Perdarahan pada kelenjar adrenal.
- Kelainan genetik bawaan.
- Efek samping obat tertentu.
- Terapi kanker tertentu.
Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meskipun penyakit Addison dapat menyerang siapa saja, risiko lebih tinggi ditemukan pada orang yang memiliki:
- Riwayat penyakit autoimun.
- Hipotiroidisme.
- Diabetes tipe 1.
- Riwayat operasi atau gangguan pada kelenjar pituitari dan adrenal.
- Cedera otak traumatik.
- Kelainan genetik yang memengaruhi produksi hormon.
Bagaimana Penyakit Addison Didiagnosis?
Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik yang dilanjutkan dengan berbagai tes penunjang.
Pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi:
1. Tes Darah
Pemeriksaan ini bertujuan mengukur kadar natrium, kalium, kortisol, serta hormon ACTH dalam darah.
2. Tes Stimulasi ACTH
Tes ini digunakan untuk melihat kemampuan kelenjar adrenal dalam memproduksi kortisol setelah diberikan hormon ACTH sintetis.
3. Pemeriksaan Pencitraan
Dokter dapat melakukan CT scan atau MRI untuk menilai kondisi kelenjar adrenal maupun kelenjar pituitari, yang berperan dalam produksi hormon.
Pengobatan Penyakit Addison
Hingga saat ini, belum ada cara untuk menyembuhkan kerusakan kelenjar adrenal secara permanen. Namun, gejala penyakit Addison dapat dikendalikan melalui terapi penggantian hormon.
Beberapa obat yang umum digunakan antara lain:
- Hidrokortison
- Prednison
- Metilprednisolon
- Fludrokortison
Obat-obatan tersebut berfungsi menggantikan hormon yang tidak dapat diproduksi tubuh secara alami.
Selain itu, penderita biasanya dianjurkan untuk meningkatkan asupan natrium, terutama saat cuaca panas, berolahraga berat, atau mengalami gangguan pencernaan seperti diare.
Pentingnya Penyesuaian Dosis Saat Sakit
Penderita penyakit Addison perlu memahami bahwa kebutuhan hormon dapat meningkat ketika tubuh mengalami stres fisik, seperti infeksi, operasi, cedera, atau penyakit tertentu.
Dalam kondisi tersebut, dokter biasanya akan menyarankan peningkatan dosis obat untuk sementara waktu, guna mencegah terjadinya krisis adrenal.
Oleh karena itu, penderita dianjurkan selalu membawa kartu identitas medis, gelang penanda kondisi kesehatan, serta persediaan obat darurat.
Bisakah Penyakit Addison Dicegah?
Secara umum, penyakit Addison tidak dapat dicegah. Namun, risiko komplikasi serius dapat dikurangi melalui diagnosis dini, dan pengobatan yang tepat.
Seseorang disarankan segera berkonsultasi dengan dokter, apabila mengalami kelelahan berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, kelemahan otot, atau perubahan warna kulit yang tidak biasa.
Deteksi dan penanganan sejak dini, sangat penting untuk mencegah komplikasi berbahaya seperti krisis adrenal yang dapat mengancam nyawa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic