Rabu, 22 JULI 2026 • 15:40 WIB

Penelitian: WFH Bisa Tingkatkan Stres, Terutama Pekerja yang Tinggal Sendiri

Author

Ilustrasi work from home (WFH) (Magnific)

INDOZONE.ID - Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) memang menawarkan banyak keuntungan, mulai dari waktu yang lebih fleksibel hingga tidak perlu menghadapi macet setiap hari. 

Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada dampak yang perlu diperhatikan, terutama bagi mereka yang tinggal sendiri.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science menemukan bahwa sistem kerja jarak jauh berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental dalam jangka panjang. Risiko ini paling besar dialami oleh pekerja remote yang tinggal sendirian.

Baca juga: 6 Cara Bikin Workspace di Rumah Lebih Nyaman, Biar WFH Fokus Tanpa Gangguan

WFH Bikin Pekerja Lebih Banyak Menghabiskan Waktu Sendiri

Penelitian yang dikutip dari Psychology Today menganalisis data lebih dari 500 ribu orang dewasa di Amerika Serikat. Para peneliti membandingkan pekerja yang bisa bekerja secara remote dengan mereka yang harus datang langsung ke kantor.

Hasilnya, pekerja remote menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih lama sendirian setiap hari dibandingkan pekerja yang bekerja di kantor.

Semakin banyak waktu yang dihabiskan sendirian, semakin tinggi pula risiko munculnya masalah kesehatan mental, seperti:

  • Stres atau tekanan psikologis
  • Depresi
  • Kecemasan
  • Rasa kesepian

Tidak Semua Pekerja Remote Alami Dampak Sama

Menariknya, penelitian ini juga menunjukkan bahwa dampak WFH tidak dirasakan oleh semua orang.

Pekerja remote yang tinggal bersama pasangan, keluarga, atau orang lain tidak mengalami peningkatan tekanan psikologis yang berarti. 

Sebaliknya, mereka yang tinggal sendiri cenderung lebih sering merasa kesepian karena minimnya interaksi sosial setiap hari.

Para peneliti juga menemukan bahwa pekerja yang baru beralih ke sistem remote belum menunjukkan peningkatan gangguan kesehatan mental. Artinya, dampak tersebut kemungkinan baru muncul setelah bekerja dari rumah dalam waktu yang cukup lama.

Kurangnya Interaksi Sosial Jadi Salah Satu Penyebab

Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kondisi ini adalah berkurangnya interaksi sosial.

Saat bekerja di kantor, seseorang biasanya memiliki kesempatan untuk berbincang dengan rekan kerja, makan siang bersama, atau sekadar bertukar cerita. Aktivitas sederhana seperti ini ternyata berperan penting dalam menjaga kesehatan mental.

Sebaliknya, bekerja sendirian di rumah dalam waktu lama dapat membuat seseorang merasa lebih terisolasi, terutama jika tidak memiliki aktivitas sosial di luar pekerjaan.

WFH Tetap Punya Manfaat bagi Sebagian Orang

Meski begitu, bukan berarti sistem kerja remote selalu berdampak buruk.

Laporan dari Neurobridge menyebutkan bahwa bagi sebagian pekerja neurodivergen, seperti penyandang autisme dan Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD), bekerja dari rumah justru dapat mengurangi stres.

Bagi kelompok ini, kebijakan bekerja penuh di kantor terkadang menjadi tantangan karena interaksi sosial yang intens tidak selalu terasa nyaman.

Oleh karena itu, sistem kerja hybrid atau fleksibel dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Baca juga: 7 Kebiasaan Pagi Sebelum WFH yang Bikin Semangat Naik dan Kerja Makin Produktif

Dampak WFH Bergantung pada Kondisi Masing-masing

Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian terhadap sekitar 1.600 pekerja di China. Studi tersebut menunjukkan bahwa sistem kerja fleksibel dan hybrid dapat meningkatkan kepuasan kerja, performa, serta kesehatan mental, terutama bagi pekerja perempuan dan mereka yang memiliki waktu tempuh perjalanan ke kantor cukup panjang.

Dari berbagai hasil penelitian tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa dampak kerja jarak jauh tidak bisa disamaratakan. Kondisi tempat tinggal, karakter setiap individu, hingga budaya dan sistem transportasi di suatu negara ikut memengaruhi apakah WFH akan memberikan manfaat atau justru berdampak negatif bagi kesehatan mental.

Jadi, jika kamu bekerja dari rumah dan tinggal sendiri, jangan lupa tetap menjaga interaksi sosial.

Sesekali bekerja dari kafe, bertemu teman, atau mengikuti komunitas bisa menjadi cara sederhana untuk mengurangi rasa kesepian sekaligus menjaga kesehatan mental.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychology Today, Antara

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU