INDOZONE.ID - Bayangkan, kamu baru masuk SMA dengan kepala penuh rasa ingin tahu, hormon mulai aktif, dan informasi soal seks mulai seliweran dari mana-mana. Tapi di saat yang sama, kamu belum benar-benar paham tentang diri sendiri, siapa dirimu, apa yang kamu rasakan, bahkan belum ngerti batasan personal.
Itulah kenyataan yang dihadapi banyak anak muda hari ini. Seks diajarkan, atau mereka sudah tahu apa itu seks, lewat sumber yang nggak jelas, padahal mereka belum sempat memahami siapa mereka sebenarnya.
Ketika Seks Datang Lebih Dulu daripada Pemahaman Diri
Banyak anak muda kenal seks bukan dari guru atau orang tua, tapi dari internet, media sosial, atau obrolan teman. Tanpa konteks, tanpa arahan, dan tanpa pemahaman yang utuh. Anehnya, semua soal seks datang duluan, padahal ruang untuk memahami dan menerima diri saja belum terbuka.
Gimana bisa membuat keputusan penting soal tubuh dan hubungan, kalau belum kenal dengan tubuh dan pikiran sendiri?
Kenapa Konsep Diri Itu Penting Banget?
Dalam psikologi, konsep diri adalah cara seseorang melihat, menilai, dan memahami siapa dirinya. Carl Rogers menyebut ini sebagai self-concept, pondasi utama untuk berkembang secara sehat. Tapi, dalam banyak kasus, konsep diri ini masih samar karena tekanan dari lingkungan, keluarga, atau ekspektasi sosial.
Banyak anak muda tumbuh di lingkungan yang mengatur: harus patuh, harus sempurna, dan harus jadi anak baik. Tapi di balik semua itu, muncul pertanyaan dalam hati, “Kalau aku beda, apakah aku masih diterima?”
Baca Juga: Maudy Ayunda Bagikan 3 Kunci untuk Tingkatkan Kesadaran Edukasi Seksual di Indonesia
Tanpa pemahaman diri yang kuat, pendidikan seks justru bisa terasa menakutkan, membingungkan, bahkan menyakitkan. Padahal, seharusnya pendidikan seks jadi bagian dari proses mengenal diri, bukan sesuatu yang bikin takut atau merasa bersalah.
Efeknya ke Kesehatan Mental Gak Bisa Dianggap Remeh
Kurangnya pemahaman tentang diri dan seksualitas bisa berdampak langsung pada kondisi mental. Beberapa masalah yang sering muncul antara lain kecemasan dan overthinking setelah melihat atau mengalami hal yang berkaitan dengan seks. Lalu muncul rasa bersalah yang nggak jelas sumbernya. Ujung-ujungnya, malah kesulitan menyusun relasi yang sehat dan merasa asing waktu ditanya soal batasan dalam hubungan.
Faktanya, menurut survei Durex tahun 2019, 84% remaja Indonesia ingin belajar soal seks dari guru atau orang tua. Tapi kenyataannya, hampir nggak ada ruang yang aman untuk membahas topik ini secara terbuka. Alhasil, mereka belajar dari sumber yang belum tentu benar.
Edukasi Seks Itu Bukan Mengajarkan Seks, Tapi Mengenalkan Hak & Batasan
Yuk, diluruskan dulu! Pendidikan seks bukan ngajarin buat coba-coba, tapi ngajarin soal hak tubuh, batasan pribadi, rasa hormat, serta tanggung jawab. Kalau seseorang sudah kenal siapa dirinya, akan lebih mudah tahu kapan harus bilang “iya”, dan kapan harus bilang “nggak”.
Dengan pemahaman yang sehat, anak muda bisa menjaga tubuh dan emosinya dengan lebih baik, menghindari hubungan yang toxic atau manipulatif, serta lebih percaya diri dalam membuat keputusan.
Terus, Harus Mulai dari Mana?
Bangun ruang yang aman dan terbuka. Baik di sekolah, rumah, maupun komunitas. Bukan ruang penuh asumsi, tapi ruang yang hadir untuk memahami, bukan menghakimi.
Gabungkan pendidikan seks dengan pendidikan emosi dan psikologi diri. Ini bukan cuma soal anatomi tubuh, tapi juga tentang perasaan, batasan, dan relasi yang sehat.
Latih empati dan komunikasi. Anak muda butuh penjelasan, bukan hanya larangan. Ajak ngobrol, bukan cuma menasehati.
Baca Juga: Edukasi Seksual Bukan Tabu: Bekal Penting untuk Masa Depan Anak dan Remaja
Pada akhirnya, semuanya berawal dari satu hal penting: penerimaan terhadap diri sendiri. Ketika anak muda diajak mengenal dirinya sejak awal, secara emosional, mental, maupun fisik, topik seks nggak akan lagi jadi sesuatu yang tabu atau menakutkan.
Justru sebaliknya, pendidikan seks bisa jadi alat untuk membangun kepercayaan diri, menjaga kesehatan mental, dan memperkuat relasi yang sehat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Greatmind, Durex.co.id, Whiteboardjournal.com