Ilustrasi pasangan tersandung kasus. (FREEPIK)
INDOZONE.ID - Kamu cuma pengen diperhatiin, dibalas cepat, dan dikasih kepastian, tapi pasanganmu malah makin dingin, menjauh, dan terkesan "cuek banget".
Begitu kamu berusaha menjaga jarak agar nggak terlihat terlalu membutuhkan, justru kamu yang jadi makin kepikiran, overthinking, dan dipenuhi rasa cemas sendiri. Pernah mengalaminya?
Kalau jawabannya iya, berarti kamu sedang berada di salah satu siklus hubungan yang paling menguras emosi: Anxious–Avoidant Trap.
Ini adalah jebakan emosional yang terjadi ketika dua orang dengan gaya keterikatan yang berlawanan—satu cemas, satu menghindar—saling terjebak dalam pola tarik-ulur yang melelahkan.
Yang satu butuh kedekatan konstan, yang satu justru merasa terancam saat didekati terlalu intens.
Dan sayangnya, kombinasi ini bukan cuma umum, tapi juga bisa berlangsung bertahun-tahun tanpa disadari.
Baca juga: 4 Tanggal Lahir yang Dipercaya Membawa Kesuksesan dan Rezeki, Apa Saja?
Kalau dipikir-pikir, bukankah harusnya dua gaya yang bertolak belakang nggak cocok? Tapi justru di situlah jebakannya.
Orang dengan anxious attachment (biasanya mereka yang takut ditinggal dan sangat butuh kejelasan) sering kali merasa "tertarik" pada orang dengan avoidant attachment (yang justru lebih suka menjaga jarak dan kemandirian emosional).
Awalnya, si avoidant terlihat misterius, stabil, dan cool. Begitu hubungan mulai dalam, barulah si anxious menyadari bahwa mereka jarang mendapat validasi emosional yang dibutuhkan.
Dan si avoidant? Mereka mungkin awalnya menikmati perhatian intens dari anxious partner.
Namun ketika hubungan mulai semakin serius dan ekspektasi mulai tumbuh, mereka justru merasa tertekan, kewalahan, lalu perlahan menarik diri.
Baca juga: Smart Farming Berbasis IoT: Solusi Pertanian Modern yang Cerdas dan Berkelanjutan
Siklus ini bisa terasa seperti drama tanpa akhir. Ada masa ketika kamu merasakan rindu yang dalam, lalu tiba-tiba berubah jadi kelelahan emosional yang menyiksa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Explorepsychology.com