Ilustrasi toxic positivity (freepik).
INDOZONE.ID - Akhir-akhir ini, timeline kita penuh dengan kalimat “good vibes only,” “stay positive,” sampai “love yourself.” Di Pinterest terlihat keren, di Instagram terlihat aesthetic.
Tapi pas hidup mulai berat? Kata-kata itu kadang terasa seperti senyuman palsu — manis tapi nggak ngaruh apa-apa.
Niatnya memang baik. Tapi nggak semua orang butuh afirmasi instan. Kadang seseorang cuma ingin didengarkan tanpa dinilai, tanpa terburu-buru disuruh bahagia lagi.
Walaupun istilah ini belum seterkenal self-love, makin banyak orang mulai menyadari fenomenanya.
Baca juga: Ketika Seseorang yang Kamu Anggap Sahabat Tidak Lagi Sahabatmu, Bagaimana Cara Pulihnya?
Bahkan beberapa orang baru sadar setelah menemukan nama untuk pengalaman yang pernah mereka rasakan.
Toxic positivity terjadi ketika seseorang dipaksa tetap optimis sambil mengabaikan emosinya sendiri.
Biasanya bentuknya berupa nasihat — tapi efeknya bisa membuat orang merasa bersalah karena sedang sedih, kecewa, atau marah. Contoh kalimat yang sering muncul:
Kedengarannya lembut. Tapi kalau diberikan di momen yang salah, emosi orang jadi terasa tidak penting dan tidak valid.
Baca juga: Buku-Bukunya Rusak Diterjang Banjir, Cewek Ini Tercengang Lihat Al-Qur'an Tetap Utuh
Susah membedakannya, tapi ada beberapa indikator kalau dukungan mental sudah melewati batas sehat:
Jika situasi seperti ini berulang, seseorang bisa belajar untuk menekan emosi alih-alih mengerti dan memprosesnya.
Baca juga: Benarkah Makan Ikan Bikin Anak Lebih Pintar? Ini Penjelasan Ahlinya
Berbeda dengan toxic positivity yang ingin semuanya baik-baik saja secepat mungkin, self-love adalah perjalanan jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Silkandsonder.com