Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 19 JANUARI 2026 • 11:10 WIB

Kisah Abdullah bin Ubay: Gembong Munafik yang Menjadi Ujian Kesabaran Terbesar Rasulullah

Kisah Abdullah bin Ubay: Gembong Munafik yang Menjadi Ujian Kesabaran Terbesar Rasulullahlafadz Muhammad (istock @dagasansener)

INDOZONE.ID - Hidayah merupakan hak prerogatif Allah semata, sebuah rahasia ilahi yang tidak bisa dipaksakan oleh manusia mana pun.

Dalam catatan sejarah Islam, kita sering menemukan fenomena unik di mana orang tua yang keras memusuhi Islam justru memiliki keturunan yang menjadi pembela terdepan agama ini.

Kondisi ini mengajarkan umat muslim, untuk tidak pernah berputus asa terhadap hidayah seseorang. Selama nyawa masih dikandung badan, peluang perubahan tetap terbuka lebar bagi siapa saja.

Rasulullah SAW telah mencontohkan sikap optimisme ini dalam peristiwa penduduk Thaif.

Meski beliau diusir, dihina, hingga dilempari batu sampai berdarah, beliau menolak tawaran malaikat Jibril untuk menimpakan gunung kepada mereka.

Sebaliknya, beliau justru mendoakan agar kelak dari sulbi mereka lahir keturunan yang menyembah Allah semata.

Sikap penuh harap inilah yang menjadi landasan penting dalam memahami kisah Abdullah bin Ubay, seorang tokoh yang dikenal sebagai "Gembong Munafik", namun memiliki putra yang merupakan sahabat paling setia bagi Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Kelahiran dan Masa Kecil Nabi Musa: Rencana Allah di Bawah Ancaman Firaun

Siapa Abdullah bin Ubay bin Salul?

Abdullah bin Ubay bin Salul bukan sekadar penduduk biasa di Madinah. Ia berasal dari kabilah Khazraj, dan merupakan tokoh yang memiliki pengaruh politik sangat besar.

Sebelum peristiwa hijrah Nabi, masyarakat Madinah (Yatsrib) dari kabilah Aus dan Khazraj sebenarnya telah sepakat untuk mengangkatnya menjadi raja.

Bahkan, mahkota emas telah dipersiapkan untuk diletakkan di atas kepalanya sebagai simbol kepemimpinan tunggal.

Namun, kedatangan Rasulullah SAW ke Madinah mengubah segalanya. Penduduk Madinah justru lebih memilih cahaya Islam dan kepemimpinan Nabi daripada kepemimpinan feodal Abdullah bin Ubay.

Pengaruhnya perlahan memudar, dan takhta yang ia impikan sirna begitu saja. Kondisi inilah yang memicu rasa dengki, benci, dan dendam mendalam dalam dirinya.

Untuk menjaga status sosial dan keselamatannya, ia kemudian menyatakan masuk Islam secara lahiriah, namun hatinya menyimpan penolakan total dan permusuhan yang tajam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jabar.nu.or.id, Atsar.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kisah Abdullah bin Ubay: Gembong Munafik yang Menjadi Ujian Kesabaran Terbesar Rasulullah

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!