INDOZONE.ID - Kadang, saat menghadapi masalah atau kenyataan yang berat, kamu suka menutup mata atau pura-pura semuanya baik-baik saja. Sikap seperti itu disebut denial atau penyangkalan.
Di artikel ini, kita bakal bahas apa itu denial, jenis-jenisnya, ciri-cirinya, penyebabnya, dan cara menghadapinya, supaya lebih mudah mengenali dan mengelola perasaan sendiri.
Secara sederhana, denial adalah ketika seseorang menolak menerima kenyataan atau fakta yang sulit diterima. Otak kita kadang menolak menerima hal-hal yang bikin cemas atau sedih, supaya kita punya waktu untuk menyesuaikan diri.
Contohnya, pasangan nggak mau bicara soal masa depan atau komitmen serius, tapi kamu tetap berpikir, “Nanti dia pasti berubah.” Padahal, kenyataannya belum tentu. Inilah bentuk denial dalam menghadapi realita hubungan.
Jadi, denial itu seperti “tameng sementara” yang membuat kita nggak terlalu kewalahan menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Namun, kalau bertahan terlalu lama, denial justru bisa membuat masalah makin menumpuk.
Baca juga: Modus Love Bombing yang Bisa Manipulasi Korban, Simak Cara Deteksi Pelaku
Denial nggak selalu sama pada setiap orang. Ada beberapa jenis yang umum terjadi:
Ini saat kita bener-bener menolak mengakui fakta. Dengan cara ini, orang bisa merasa aman sementara karena nggak harus menghadapi kenyataan yang berat.
Di sini, orang sadar ada masalah, tapi kamu meremehkannya. Cara ini membuat perasaan nggak terlalu terguncang meski masalah sebenarnya cukup serius.
Otak kita suka bikin alasan biar suatu hal yang nggak nyaman terasa masuk akal. Jadi, kita bisa tetap tenang meski sebenernya ada yang nggak beres.
Kadang lebih gampang nyalahin orang lain daripada mengakui kesalahan sendiri. Dengan begitu, kita tetap merasa aman dan nggak terlalu terguncang.
Seseorang yang terjebak dalam fase ini biasanya menunjukkan tanda-tanda berikut:
Denial muncul karena otak ingin melindungi diri dari tekanan emosional yang terlalu berat. Beberapa penyebabnya antara lain:
Jadi, denial sebenarnya wajar sebagai respons awal, tapi harus dihadapi supaya nggak menjadi masalah yang lebih besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Gramedia