Santri sedang mengaji di Kebun Tahfidz Muhammad Ali Jafar. (Dok Pribadi)
INDOZONE.ID - Udara sejuk dan hamparan hijau di Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, menyimpan kisah tentang keteguhan hati seorang perempuan bernama Mustafiah.
Di tempat itu, lantunan ayat suci Al-Qur’an kini menggema dari sebuah kawasan yang dikenal sebagai Kebun Tahfidz Muhammad Ali Jafar, sebuah ruang belajar yang lahir dari kehilangan sekaligus menjadi titik balik kehidupan.
Momentum Hari Kartini seakan menemukan maknanya dalam sosok Mustafiah. Ia bukan hanya membangun ruang pendidikan, tetapi juga menata ulang hidupnya sendiri.
Mustafiah tak menutup-nutupi masa lalunya. Ia mengakui pernah hidup dalam gemerlap dunia yang jauh dari nilai-nilai religius. Hingga suatu hari, takdir membawanya pada momen yang mengubah segalanya, ketika sang ayah, Muhammad Ali Jafar, terbaring sakit.
Baca juga: 7 Puisi Singkat tentang Hari Santri: Suara Lembut dari Pesantren yang Penuh Makna
Di saat-saat terakhir itu, Mustafiah menuntun ayahnya mengucapkan kalimat syahadat. Dalam diam, ia mengikat janji yang kemudian menjadi arah hidupnya.
“Allah, saya rida Puangku pergi. Tapi setelah ini, bantulah saya menjadi orang yang bermanfaat untuk umat,” kenangnya, mengulang doa yang terucap pada 2021 silam.
Janji itu bukan sekadar kata. Sejak 2 Mei 2021, Mustafiah memulai langkahnya dengan mengelola tanah peninggalan sang ayah menjadi pusat pembelajaran Al-Qur’an. Dari situlah Kebun Tahfidz berdiri, tumbuh perlahan di tengah masyarakat.
Namun, perjalanan itu tidak hanya tentang membangun fisik. Mustafiah juga melihat persoalan yang lebih dalam di lingkungannya. Ia prihatin dengan fenomena anak-anak yang berhenti mengaji setelah khatam di usia sekolah dasar.
“Banyak yang merasa sudah selesai, padahal bacaannya masih perlu diperbaiki,” ujarnya.
Di sisi lain, ia juga menyoroti kecenderungan sebagian orang tua, khususnya di perkotaan, yang lebih mengejar jumlah hafalan ketimbang kualitas bacaan.
“Kalau hafal, tapi salah bacaannya, itu bisa jadi perusak Al-Qur’an, bukan penjaga. Itu sangat fatal,” kata Mustafiah tegas.
Baca juga: Diperingati Hari Ini, Begini Asal-usul Hari Santri Nasional yang Jatuh Tiap 22 Oktober
Dari kegelisahan itu, ia merancang metode pembelajaran yang tidak biasa. Di Kebun Tahfidz, para santri tidak hanya menghafal, tetapi juga mempelajari ilmu tajwid secara mendalam melalui pendekatan takhrij, yaitu memahami dasar dan dalil setiap hukum bacaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan