INDOZONE.ID - Siapa sangka, sepanjang 3 tahun belakangan sebanyak 244 ton sampah telah terkumpul dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Bali.
Jumlah yang cukup mengkhawatirkan ini pun menimbulkan pertanyaan, ke mana sebenarnya sampah-sampah tersebut berakhir?
Jumlah sampah yang terdata di awal 2026 tersebut disebut meningkat volumenya jika dibandingkan 2025. Tahun lalu volume pengumpulan sampah tercatat sebesar 126,16 ton.
Itu artinya jumlah timbulan sampah meningkat 46,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan partisipasi lebih dari 14.154 pengguna atau tumbuh 44,6 persen secara tahunan dan terus menunjukkan tren peningkatan hingga kuartal pertama 2026.
Baca juga: Anak di Solo Ini Berhasil Lolos Jadi TNI AU, Sosok Ayahnya yang Berprofesi sebagai Linmas Bikin Haru
Hal ini mencerminkan efektivitas pendekatan yang konsisten dan kolaboratif dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk memilah sampah.
Kementerian Lingkungan Hidup pun terus melakukan berbagai upaya guna mengurangi timbulan sampah agar dapat diolah menjadi bagian dari ekonomi sirkular.
Koordinator Pokja Tata Laksana Produsen, Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup Ujang Solihin Sidik mengatakan, jenis sampah plastik paling memungkinkan untuk ekonomi sirkular. Karenanya, dibutuhkan fasilitas Waste Station yang semakin menjangkau masyarakat.
Baca juga: Cara Putus dengan Pasangan Tanpa Harus Menyakitinya
“Kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi kunci dalam mendorong pengelolaan sampah secara holistik dari hulu ke hilir, sekaligus meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya,” ujarnya dalam acara Peresmian Nestle Waste Station di Jakarta, baru-baru ini.
Di saat yang sama, imbuh Ujang, pengelolaan sampah nasional tidak bisa lagi bergantung pada pendekatan konvensional yang berakhir di TPA.
Diperlukan intervensi nyata dari hulu, termasuk peran aktif produsen dan akses fasilitas yang dekat dengan masyarakat.
“Inisiatif seperti ini perlu terus diperluas untuk mempercepat pencapaian target pengurangan sampah nasional dan implementasi ekonomi sirkular di Indonesia,” bebernya.
Baca juga: Warga Morowali Kompak Antar Jemaah Haji ke Kota Naik Perahu, Bikin Haru Media Sosial
Di Indonesia, keberadaan fasilitas Waste Station turut memudahkan masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah. Salah satu pengelolanya adalah Nestlé yang menghadirkan 15 Waste Station di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali.
Corporate Affairs Director Nestlé Indonesia Fajar Dewantara mengatakan, masyarakat perlu mulai belajar memilah dan mengelola sampah kemasan pascakonsumsi dari langkah yang paling mudah.
Dengan cara ini, masyarakat bisa turutmengatasi persoalan sampah yang masih menjadi tantangan.
“Kami mengajak masyarakat untuk bersama sama membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi serta memberikan dampak nyata yang bermakna bagi lingkungan,” kata Fajar.
Baca juga: Penelitian Ungkap Wanita Moody Cenderung Lebih Kritis dan Teliti, Benarkah?
Menurut Fajar, cara sederhana ini dapat membantu mengubah perilaku masyarakat melalui Packaging Sustainability. Inisiatif tersebut juga mendukung implementasi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.
Selain Waste Station, sebelumnya pengelolaan sampah pasca konsumsi bisa juga lewat Waste Dropbox. Di dropbox tersebut, sampah kemasan bisa dikelola secara optimal dalam ekosistem daur ulang yang tersedia.
“Melalui inisiatif ini, kami berupaya mendukung pengelolaan sampah pasca konsumsi yang lebih terstruktur. Kami percaya bahwa kolaborasi berkelanjutan merupakan kunci dalam membangun sistem yang lebih terintegrasi di Indonesia,” imbuh Fajar.
Lebih lanjut, Waste Station ini umumnya dapat dijumpai di minimarket maupun ruang publik yang mudah dijangkau masyarakat sehingga semakin memudahkan masyarakat untuk membuang dan memilah sampah dengan lebih tertib.
Baca juga: Kamu Bisa Menyelamatkan Hubungan yang Nyaris Putus Kalau Berani Lakukan Hal Ini!
Menurut Property and Development Director Alfamart Hans Harischandra, keberadaan Waste Station ini dapat mendorong perubahan perilaku menuju pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
Ia juga ingin mengintegrasikan dengan aktivitas belanja sehari-hari.
“Kaki ingin menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat, mereka berbelanja tidak hanya memenuhi kebutuhan, tetapi juga memberikan kontribusi langsung bagi lingkungan,” tutup Hans.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan