Ilustrai wanita tengah berdoa (freepik)
INDOZONE.ID - Membaca Al Quran dengan tartil dan tajwid yang benar adalah sebuah keharusan bagi setiap umat Muslim. Tujuannya sangat jelas, yakni agar makna ayat-ayat suci Al Quran tetap terjaga dengan baik dan bacaan terdengar lebih indah serta sesuai dengan tuntunan syariat. Salah satu hukum bacaan tajwid yang sangat sering ditemui di dalam ayat-ayat Al Quran adalah mad jaiz munfasil.
Bagi pembaca pemula, mungkin istilah ini terdengar cukup teknis. Namun, memahami apa yang dimaksud dengan mad jaiz munfasil sebenarnya sangatlah mudah jika kita membedah asal katanya dan melihat contoh-contoh praktisnya. Artikel ini akan membahas tuntas mengenai definisi, panjang harakat, hingga perbedaan mad jaiz munfasil dan mad wajib muttasil.
Untuk memahami apa yang dimaksud mad jaiz munfashil, kita bisa membedahnya dari dua sisi, yakni secara bahasa dan istilah.
Hukum bacaan mad terbagi menjadi 15 jenis, dan mad jaiz munfasil adalah salah satu bagian dari kelompok mad far'i. Secara bahasa, kata "mad" memiliki arti memanjangkan atau menambah. Kemudian, kata "jaiz" artinya adalah boleh, dan "munfasil" memiliki arti terpisah.
Sementara itu, secara istilah, pengertian mad jaiz munfasil adalah hukum bacaan dalam tajwid yang terjadi apabila huruf mad thabi'i bertemu dengan huruf hamzah (ء), namun tidak berada dalam satu kata melainkan pada kata yang berbeda atau terpisah.
Dalam buku Dasar-dasar Ilmu Tajwid karya Dr. Marzuki, M.Ag dan Sun Choiro Ummah, S.Ag., M.S.I, dijelaskan lebih lanjut bahwa mad thabi'i dan huruf hamzah pada hukum bacaan ini selalu berada dalam kata yang berlainan. Sebagai pengingat, mad thabi'i itu sendiri terjadi dalam tiga keadaan: apabila huruf alif terletak sesudah harakat fathah, huruf ya terletak sesudah harakat kasrah, atau huruf wawu mati (sukun) terletak sesudah harakat dhammah.
Hal ini juga ditegaskan di dalam Kitab Hidayatush Shibyan atau Nasham Hidayatush Shibyan. Dalam kitab tersebut dinyatakan bahwa apabila ada huruf mad yang bertempat di akhir kata, lalu setelah itu terdapat hamzah yang bertempat di kata yang lain setelahnya, dan tidak ada yang memisahkan antara mad dan hamzah tersebut, maka disebutlah sebagai mad jaiz munfasil.
Baca juga: Cara Membaca Mad Wajib Muttashil dan Contohnya dalam Al-Quran
Setelah memahami definisinya, pertanyaan yang paling sering muncul adalah: Mad Jaiz Munfasil dibaca berapa ketukan? Atau, mad jaiz munfasil berapa harakat?
Cara membaca hukum tajwid ini cukup fleksibel, selaras dengan arti kata "jaiz" yang bermakna boleh. Panjang bacaan mad jaiz munfasil boleh dibaca 2, 4, atau 5 harakat (ketukan). Beberapa literatur juga menyebutkan bahwa bacaan ini bisa dipanjangkan sebanyak dua setengah alif, yang setara dengan 4 hingga 5 harakat. Membacanya dengan 5 harakat atau 4 harakat sangat dianjurkan agar bacaan terdengar lebih sempurna, namun bisa juga dibaca dengan panjang satu alif atau dua harakat seperti bacaan mad thabi'i.
Meskipun terdapat beberapa pilihan, perlu dicatat bahwa menurut riwayat Hafs yang merupakan tata cara bacaan Al Quran paling umum mad ini biasanya dibaca dengan panjang 4 hingga 5 harakat.
Sebagai panduan saat Anda tadarus, tanda bacaan ini amat mudah dikenali. Di dalam mushaf Al Quran, bacaan mad jaiz munfasil sering ditandai secara visual dengan garis melengkung yang menyerupai bendera kecil di atas huruf mad tersebut.
Banyak kaum Muslim yang terkadang masih sulit dan tertukar dalam membedakan mad jaiz munfasil dan mad wajib muttasil. Secara harfiah, perbedaan paling mendasar dari keduanya hanyalah pada letak huruf hamzah setelah huruf mad di dalam Al Quran.
Berikut adalah rincian perbedaan mad jaiz munfasil dan mad wajib muttasil:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber