Ilustrasi menahan tangis. (freepik)
INDOZONE.ID - Di tengah budaya yang masih menganggap menangis sebagai tanda kelemahan, banyak orang memilih untuk menyembunyikan perasaannya.
Kalimat seperti “Jangan cengeng”, “Kamu harus kuat”, atau “Duh, jangan lebay” membuat sebagian orang terbiasa memendam kesedihan sendirian.
Tak sedikit pula yang merasa bangga karena bisa tetap tersenyum meski sedang menghadapi masalah besar. Padahal, terlihat tegar bukan berarti emosi yang dirasakan benar-benar hilang.
Ada kalanya tubuh membutuhkan ruang untuk memproses berbagai emosi yang muncul, termasuk melalui tangisan.
Baca juga: Menangis Punya Manfaat Besar untuk Tubuh! Ini yang Terjadi Saat Kamu Menitikkan Air Mata
Sayangnya, kebutuhan emosional ini sering diabaikan demi mempertahankan citra sebagai pribadi yang kuat.
Ketika seseorang mengalami tekanan emosional, tubuh akan merespons dengan mengaktifkan sistem pertahanan alami. Detak jantung meningkat, tekanan darah bisa naik, dan otot-otot menjadi lebih tegang.
Respons ini sebenarnya normal karena tubuh sedang bersiap menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau menekan.
Namun, kondisi tersebut idealnya hanya berlangsung sementara. Tubuh membutuhkan kesempatan untuk kembali ke keadaan yang lebih tenang setelah melewati situasi penuh tekanan.
Baca juga: 12 Contoh Hewan Avertebrata Beserta Ciri-ciri dan Penjelasannya
Salah satu cara alami yang dapat membantu proses ini adalah dengan mengekspresikan emosi, termasuk menangis.
Masalahnya, ketika dorongan untuk menangis terus-menerus ditekan, tubuh seolah dipaksa bertahan dalam kondisi siaga lebih lama dari yang seharusnya. Akibatnya, ketegangan yang dirasakan tidak benar-benar mereda.
Menahan tangis sering kali dianggap sebagai bentuk keberanian. Padahal, dari sudut pandang kesehatan, kebiasaan tersebut bisa menghambat proses pemulihan emosional.
Saat seseorang memberi ruang bagi dirinya untuk menangis, tubuh sebenarnya sedang menjalankan mekanisme yang membantu meredakan tekanan psikologis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com