KGPAA Mangkunegara X saat memimpin kirab satu Suro.
INDOZONE.ID - Malam satu Suro di Pura Mangkunegaran, Solo dimeriahkan dengan upacara kirab yang sakral, dimulai dengan penuh kehormatan ketika Gusti Pangeran Haryo Paundrakarna Jiwo Suryonegoro, sebagai cucuk lampah, menyala lampah pertama pada (7/7/2024) pukul 19.00 malam.
Dilihat dari akun Youtube Pariwisata Solo, acara ini bukan sekadar perayaan semata, tetapi juga sebuah ritual sakral yang tentunya membangkitkan spiritualitas dan kekayaan budaya Jawa khususnya Keraton Solo.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara X memimpin tradisi “udhik-udhik” dengan menyebar uang logam di sekitar Pendapa Agung, dimana masyarakat berduyun-duyun untuk “ngalab berkah”, mengharapkan keberkahan di tahun baru Jawa yang akan datang. Tradisi kirab tahun ini sedikit berbeda karena rutenya diperpanjang yaitu melalui Koridor Ngarsopuro dan Slamet Riyadi. Rute ini ternyata pernah dilewati pada masa pemerintahan Mangkunegara IX.
Baca Juga: Iduladha 1445 H, Keraton Yogyakarta Gelar Hajad Dalem Gerebeg Besar
Rute ini bukan hanya sekadar jejak sejarah, tetapi juga mengandung nilai keagamaan dan budaya yang mendalam bagi masyarakat Mangkunegaran. Peserta kirab berjalan kaki dengan penuh kehormatan, menjalankan tapa bisu sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan refleksi diri dalam menyambut tahun baru Jawa. Rute ini tidak hanya sebuah jalur fisik, tetapi juga merupakan simbol kehidupan spiritual yang terjalin erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Mangkunegaran.
Perayaan ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh terkemuka seperti Kaesang Pangarep dan istrinya Erina Gudono, yang turut serta memberikan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dan spiritual yang dimiliki Pura Mangkunegaran. Mereka hadir sebagai simbol kebersamaan dalam melestarikan dan menghargai warisan nenek moyang yang telah memberi cahaya dan inspirasi bagi generasi selanjutnya.
Baca Juga: 2 Gunungan Ludes Dalam Sekejap Saat Grebeg Besar Idul Adha yang Digelar Keraton Kasunanan Surakarta
Kirab ini tidak hanya sebatas upacara tradisional, tetapi juga sebagai upaya untuk mengarak pusaka-pusaka berharga Pura Mangkunegaran, membawa mereka berkeliling sesuai dengan alur yang telah dipetakan, sebagai tanda keberlanjutan budaya dan kecintaan terhadap warisan leluhur.
Upacara kirab malam satu Suro di Pura Mangkunegaran ditutup dengan penuh kehormatan oleh Gusti Pangeran Haryo Paundrakarna Jiwo Suryonegoro, sebagai cucuk lampah yang menghadap langsung kepada Kanjeng Gusti Mangkunegara X untuk mengembalikan arak-arakan pusaka kembali ke Pura Mangkunegaran. Momen ini memperlihatkan kesatuan spiritualitas dan kearifan lokal dalam sebuah upacara yang kaya akan makna dan keanggunan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube