Ilustrasi gegar otak (livescience.com)
INDOZONE.ID - Bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, mengalami cedera gegar otak saat dirinya bermain untuk Wolves U-21, di pertandingan Premier League 2 2024/2025 melawan Aston Villa U-21 pada 14 Desember 2024.
Di pertandingan tersebut, Hubner yang berperan sebagai bek kiri, terpaksa diganti pada menit ke-90+2 setelah terjatuh akibat tendangan salto yang mengenai kepalanya oleh penyerang Aston Villa, Luka Lynch.
Akibatnya, Hubner harus rehat sejenak dalam bermain bola selama beberapa minggu, untuk proses pemulihan. Lantas, apa itu gegar otak? Bagaimana proses pemulihannya?
Dikutip dari Cleveland Clinic, gegar otak merupakan cedera kepala yang terjadi ketika otak bergerak atau berputar di dalam tengkorak akibat benturan. Gegar otak termasuk jenis cedera otak traumatis yang sering terjadi dan kerap disalahpahami.
Meskipun jarang mengancam nyawa, efek gegar otak dapat serius dan bertahan selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau lebih lama.
Satu kali gegar otak, biasanya tidak menyebabkan kerusakan otak permanen. Namun, gegar otak berulang, dapat mengubah struktur dan fungsi otak, yang berpotensi menyebabkan komplikasi serius dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan lain.
Baca Juga: Efek Jangka Panjang Gegar Otak seperti yang Dialami Marc Marquez Usai Kecelakaan
Di Amerika Serikat, diperkirakan 1 hingga 3 juta orang mengunjungi unit gawat darurat setiap tahun karena gegar otak. Cedera ini paling sering dialami atlet muda, dengan lebih dari setengah kunjungan darurat anak usia 5-18 tahun berkaitan dengan gegar otak.
Ilustrasi rontgen seseorang yang mengalami gegar otak. (freepik.com)
Gejala Gegar Otak
Gegar otak dapat menyebabkan perubahan kimia dalam otak, yang memengaruhi fungsi normalnya. Otak yang cedera, akan mengalihkan energi untuk penyembuhan, yang memicu gejala seperti:
Pada bayi atau anak yang belum bisa berbicara, gejala seperti menangis lebih sering, menolak makan, atau perubahan pola tidur, bisa menjadi tanda gegar otak.
Penyebab Gegar Otak
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Cleveland Clinic