INDOZONE.ID - Dunia kuliner memang tidak pernah ada habisnya dengan semakin bermunculannya berbagai ide baru.
Trend kuliner yang semakin beragam ini dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya selera konsumen yang sangat mudah merasa bosan, pengaruh budaya, serta pengaruh media sosial yang turut mempopulerkan makanan baru yang menarik sehingga menimbulkan efek konsumtif masyarakat yang tidak mau ketinggalan untuk mencoba atau disebut Fear of Missing Out (FOMO).
Salah satunya jenis jajanan ini sedang naik daun yaitu snack campur. Trend ini sebelumnya sudah ada dan serupa dengan konten Bring your own bag of chips dari kreator Amerika Serikat melalui akun TikTok @flavorhivetruck, yang kemudian semakin merambah di berbagai negara, salah satunya di Indonesia.
Pada dasarnya, jajanan ini merupakan makanan ringan atau snack keripik kemasan yang ditambahkan bahan pelengkap lain seperti kentang goreng, olahan daging, sayuran, serta topping lainnya dan tambahan berbagai jenis saus kemudian dicampur lalu disajikan langsung dalam kemasan snack.
Jajanan ini menjadi trend baru di kalangan gen z dan mulai dijumpai sebagai peluang bisnis baru.
Berikut beberapa dampak kesehatan yang ditimbulkan dari mengkonsumsi snack campur yang lagi viral di media sosial.
Snack makanan ringan rata-rata mengandung 150–300 kalori per porsi (sekitar 28–50 gram). Jika satu bungkus snack memiliki sekitar 3 takaran saji (porsi) dan snack dihabiskan dalam satu kali makan, maka kalori yang diperoleh jauh lebih tinggi.
Tambahan topping yang diolah dengan cara digoreng seperti kentang goreng, chicken crispy, sosis, dan beef juga turut menyumbang kalori dan lemak.
Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dan sering dapat menimbulkan risiko obesitas.
Kandungan natrium dalam snack bergantung pada varian rasa yang kompleks (keju, barbeque, pedas, dll). Jika ditambahkan dengan aneka saus (saus keju, mayonaise, saus tomat, saus pedas) atau bumbu lain, kandungan natrium pada snack semakin meningkat.
Batas konsumsi natrium harian untuk orang dewasa menurut Kemenkes umumnya tidak melebihi 2.000 mg.
Konsumsi natrium yang tinggi dengan frekuensi yang sering akan berdampak pada tekanan darah tinggi (hipertensi).
Baca Juga: Anak-anak yang Lahir di Era 2020 Kena Ancaman Dampak Kesehatan Krisis Iklim
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: TikTok/@flavorhivetruck