INDOZONE.ID - Emosi itu manusiawi banget, tapi nggak semua orang tahu dari mana asalnya dan gimana cara ngendalikannya.
Kadang kita ngerasa sedih tanpa sebab, tiba-tiba bad mood, atau pengin marah cuma gara-gara hal kecil.
Padahal, semua itu ada penjelasannya. Yuk, kita bahas bareng soal gimana emosi bekerja dan gimana caranya biar kita nggak dikendalikan sama perasaan sendiri dilansir dari YouTube @Tung Dasem Waringin selengkapnya!
Baca juga: 5 Level Kesadaran Manusia: Dari Ego Sampai Spiritual, Kamu Ada di Level Mana Nih?
Asal-Usul Emosi: Dari Pancaindra ke Perasaan
Ternyata, emosi itu datang dari hal yang sederhana banget yaitu pancaindra. Setiap kali kita mencium bau, ngelihat sesuatu, atau denger musik tertentu, otak langsung ngasih respon emosional.
Misalnya, denger lagu lama bisa bikin kita keinget mantan, atau nyium aroma rumah sakit bikin suasana hati langsung drop karena kebayang masa lalu yang nggak enak.
Semua itu wajar, karena otak kita nyimpen “cantolan” memori yang bisa memicu perasaan tertentu.
Tapi kabar baiknya, kita bisa ngerusak pola itu. Contohnya, waktu ingat seseorang yang udah nggak ada, kita bisa ubah rasa sedih jadi rasa syukur karena pernah punya kenangan bareng mereka. Emosi bisa dikontrol kalau kita tahu maknanya.
Makna Menentukan Emosi
Nah yang bikin emosi muncul bukan cuma peristiwa, tapi arti yang kita kasih ke peristiwa itu.
Misalnya, kalau ada yang ngatain kita, kita bisa pilih antara “tertekan” atau “tertantang”. Kalau kita pilih tertantang, hidup bakal jauh lebih positif karena energi emosinya berubah jadi motivasi.
Dari arti itulah keputusan muncul. Emosi → keputusan → tindakan → hasil. Kalau kamu ubah maknanya, hasil akhirnya juga bisa berubah.
Misalnya, kamu gagal hari ini, tapi kalau kamu maknai sebagai “proses belajar”, bukan “kegagalan”, kamu bakal terus maju tanpa drama.
Baca juga: 7 Tips Cerdas Menghadapi Orang Toxic: Kendalikan Emosi dan Tetap Fokus pada Diri Sendiri
Kenapa Emosi Orang Bisa Beda-Beda?
Setiap orang punya nilai hidup yang beda. Ada yang lebih sensitif soal keluarga, ada juga yang lebih cepat marah kalau harga dirinya diganggu.
Contohnya, ketika seseorang dihina, reaksi orang bisa beda: ada yang marah, ada yang santai, ada juga yang malah kasihan sama si penghina.
Kenapa bisa gitu? Karena setiap orang punya keyakinan dan pengalaman masa lalu yang ngebentuk respon emosinya.
Kalau kamu pernah dibilang “anak haram”, tentu rasanya lebih nyakitin daripada dibilang “bodoh”.
Tapi kalau yang ngomong orang gila, kamu mungkin cuma nyengir karena tahu dia nggak waras.
Artinya, kita bisa milih untuk nggak marah dengan cara ngasih arti baru ke situasi itu. Kalau orangnya lagi “gila sesaat”, buat apa dibales? Nanti malah kita yang ikut gila beneran.
Belajar Dari Emosi dan Kegagalan
Orang sukses bukan berarti nggak pernah gagal. Mereka justru sering gagal, tapi nggak berhenti di situ.
Dari kegagalan, lahir pengalaman. Dari pengalaman, muncul keputusan yang lebih baik.
Nah dari keputusan itulah kesuksesan datang. Jadi kalau kamu gagal, jangan bilang “aku nggak bisa”, tapi ubah jadi “aku lagi belajar”.
Karena pada akhirnya, emosi itu bukan musuh. Dia cuma sinyal yang ngasih tahu kita lagi merasa apa dan kenapa. Tinggal gimana cara kita memberi arti dan ngatur responnya.
Baca juga: 4 Bagian Tubuh Sering Terdampak Emosi yang Terpendam
Kontrol emosi bukan berarti kamu harus selalu kalem seperti membisu. Tapi setidaknya, kamu tahu kapan harus tenang, kapan harus bereaksi, dan kapan harus cuek.
Karena kalau kamu bisa ngatur emosi, kamu bisa ngatur keputusan, tindakan, dan akhirnya hidupmu sendiri.
Jadi, yuk belajar bareng tentan bukan tentang nahan marah, tapi tentang ngerti maknanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube