Rabu, 12 NOVEMBER 2025 • 20:53 WIB

Asal-Usul Fenomena Kopi Pangku Jadi Praktik Prostitusi Terselubung

Author

Ilustrasi kopi pangku (freepik).

INDOZONE.ID - Hai Sobat, di era saat ini kalian pasti tidak asing lagi ketika mendengar istilah "kopi pangku". Atau mungkin masih ada yang belum tahu? 

Isitlah tersebut kini kembali populer sejak fenomena tersebut diangkat ke layar lebar dalam film garapan Reza Rahadian. 

Fenomena kopi pangku juga pernah diangkat lewat puisi oleh Wiji Thukul, seorang aktivis buruh sekaligus seniman, pada 28 Desember 1996.

Istilah kopi pangku sebenarnya sudah dikenal sejak Abad ke-19. 

Baca juga: Momen Haru OB Kantor Siapkan Kue Ulang Tahun Ternyata untuk Dirinya Sendiri

Mulanya, fenomena yang menjadi praktik prostitusi terselubung ini berkembang di daerah pesisir, terutama di sekitar Semarang, Jawa Tengah. 

Ada banyak faktor yang membuat kegiatan prostitusi semacam itu berkembang di periode tersebut. 

Sistem kolonial pada masa itu melegalkan prostitusi di pelabuhan dan area ramai lainnya. 

Sumber-sumber yang menjelaskan praktik legalisasi prostitusi di era kolonial umumnya berasal dari arsip, laporan, dan catatan resmi Pemerintah Hindia Belanda. 

Baca juga: 111 Caption Bahasa Inggris tentang Korea, Singkat Aesthetic!

Aktivitas prostitusi kemudian juga sering terjadi di daerah warung kopi remang–remang. Kopi pangku dianggap menjadi sesuatu yang lazim pada masa itu. 

Kopi pangku seolah menyamarkan kegiatan prostitusi agar tidak terlalu vulgar.

Sebab, warung kopi lebih mudah diterima bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah dalam melakukan proses transaksi kegiatan seksual. 

Pada praktiknya, perempuan yang menjadi pelayan tidak hanya menyajikan kopi. 

Mereka juga bertugas untuk menemani atau bahkan melayani hasrat seksual para penikmat kopi.

Disebut kopi pangku lantaran pelayan perempuan di sana kerap duduk di pangkuan pelanggannya ketika menemani mereka menikmati kopi. 

Menurut Eko Setiawan dalam tulisannya di Jurnal Habitus tahun 2022, ada beberapa faktor yang menyebabkan kopi pangku menjadi fenomena sosial. 

Baca juga: Daripada Gosipin Teman Mending Laporkan Kebaikannya, Manfaatnya Apa Sih?

Ia menyoroti desakan ekonomi dan kurangnya pendidikan pada kaum perempuan.

Selain itu, ia menjelaskan, faktor keluarga seperti kasus perceraian atau kegagalan rumah tangga juga mendorong perempuan melakukan pekerjaan tersebut.

Pada akhirnya, istilah kopi pangku lebih dikenal masyarakat luas dengan hal yang berkonotasi negatif. 

Dari yang awalnya warung kopi sebagai tempat untuk beristirahat dan melepas lelah bagi para sopir - khususnya yang sering melakukan perjalanan lintas kota - menjadi sebagai tempat untuk singgah dan melakukan proses transaksi kegiatan seksual.

Stigma negatif kopi pangku masih melekat di beberapa kalangan. Meskipun faktanya, saat ini kegiatan prostitusi dapat berlangsung dalam bentuk yang beragam. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Habitus

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU