Kamis, 13 NOVEMBER 2025 • 14:54 WIB

Jago Ngomong Tanpa Nyakitin! Begini Cara Bangun Komunikasi Asertif di Kehidupan Sehari-hari

Author

Ilustrasi pasangan berbincang (freepik.com)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu ngalamin situasi di mana kamu pengen ngomong, tapi malah takut “nanti disalahin”, atau justru ngomong tapi ujung-ujungnya bikin suasana jadi awkward? Nah, itu mungkin karena gaya komunikasimu belum asertif. Yuk, kita bahas gimana caranya supaya kamu bisa berkomunikasi asertif, tegas tapi tetap santai, tanpa bikin orang lain sakit hati.

Apa itu komunikasi asertif?

Komunikasi asertif itu intinya kamu bisa menyampaikan pendapat, kebutuhan, atau batasanmu dengan jelas dan langsung, tapi tetap sopan sama orang lain. Bisa dibilang, gaya ini ada di tengah-tengah antara komunikasi pasif yang sering diam aja atau nggak berani ngomong dan komunikasi agresif, yang cenderung menyerang atau marah-marah.

Menurut Mayo Clinic, kalau kita bisa berkomunikasi asertif, kita bakal lebih percaya diri, bisa ngomong apa yang kita pikirin tanpa merasa bersalah, tapi tetap menghormati hak orang lain.

Baca juga: 4 Pelajaran Public Speaking dari Warren Buffett: Sang Legenda Investasi dan Ahli Komunikasi

Kenapa penting banget buat kehidupan sehari-hari?

Kalau kamu bisa berkomunikasi asertif, banyak hal positif yang bisa terjadi:

  • Kamu jadi lebih bisa menegakkan batasan dan nggak gampang dimanfaatkan atau jadi “yes man” terus-menerus.
  • Kamu bisa menghindari kesalahpahaman karena kamu ngomongnya lebih jelas dan langsung.
  • Hubungan sama teman, keluarga, atau pasangan jadi lebih sehat karena tiap orang tahu apa yang mereka butuh dan apa yang kamu butuh.
  • Kamu juga bisa mengurangi stres karena nggak lagi dipendam-pendam atau nggak jelas soal yang kamu mau.

Gaya komunikasi asertif: Santai tapi nggak asal!

Komunikasi asertif itu biasanya to the point, nggak ribet, tapi tetap punya empati dan nggak bikin orang nyesel. Jadi, saat menerapkan komunikasi asertif, kamu bisa:

  • Gunakan kalimat “Aku merasa…” atau “Aku butuh…” daripada “Kamu selalu…” supaya nggak bikin lawan bicara defensif.
  • Tahan keinginan untuk minta maaf terus-menerus kalau yang kamu lakukan itu wajar. Contoh: “Maaf aku ingetin ya…” bisa diganti “Aku cuma mau bilang…”.
  • Hindari nada bicara yang terkesan menyerang. Pilih kata yang ramah tapi tetap jelas.
  • Pastikan bahasa tubuhmu mendukung apa yang kamu ucapkan, seperti kontak mata, posisi tubuh terbuka, jangan sambil main HP. Semua itu bikin pesanmu lebih kuat.

Cara praktis membangun komunikasi asertif sehari-hari

Ilustrasi komunikasi. (freepik/vgstockstudio)

  1. Kenali dulu gaya komunikasimu.
    Cari tahu apakah kamu lebih sering diam (pasif), luber emosi (agresif), atau “gimana aja asal diterima” (pasif-agresif). Menurut Mayo Clinic, kita perlu sadar dulu gaya yang kita punya sebelum berubah.
  2. Latih “I-statement”.
    Contoh: “Aku merasa terganggu ketika…” atau “Aku butuh waktu 10 menit untuk sendiri setelah kerja,” dibanding “Kamu selalu ganggu aku!”
  3. Tegas tapi sopan saat menolak atau memberi batas.
    Kalau seseorang minta tolong terus padamu padahal kamu udah kewalahan, kamu bisa bilang: “Aku nggak bisa bantu sekarang, tapi kita bisa cari waktu lain ya.” Gaya ini jelas dan tetap menghormati orang lain.
  4. Dengar dan beri ruang buat lawan bicara.
    Komunikasi asertif bukan cuma ngomong aja, tapi juga mendengarkan. Biarkan orang lain menyampaikan sisi mereka, lalu kamu respons dengan jujur dan santai.
  5. Mulai dari hal kecil.
    Mungkin kamu takut ngomong di keluarga besar atau di tempat kerja. Mulailah dari situasi yang lebih ringan, seperti ke teman atau keluarga dekat. Latihan terus supaya makin pede. Mayo Clinic menyebut ini sebagai strategi start small untuk komunikasi asertif.

Tantangan dan bagaimana mengatasinya

Kadang, kita tetap balik ke gaya lama karena kebiasaan atau takut dianggap “galak”. Tapi perlu diketahui: gaya asertif itu bukan agresif. Kalau kamu tetap menjaga rasa hormat dan empati, orang akan lebih menerima kamu.

Kalau merasa sulit, kamu bisa mulai dengan menuliskan dulu apa yang ingin kamu bilang, atau latihan di depan cermin. Fokusnya jujur ke diri sendiri dulu, baru ke orang lain.

Baca juga: Menyederhanakan Bahasa Ilmiah: Langkah Penting dalam Komunikasi Sains untuk Publik

Komunikasi asertif itu kayak skill yang bisa dipelajari dan dilatih. Dengan gaya komunikasi asertif, kamu terlihat tetap santai dan sopan. Kamu bisa ngomong tanpa nyakitin, tapi tetap didengar. Jadi, nggak cuma “biar diterima”, tapi juga dihargai dan percaya diri.

Mulai hari ini, yuk, ngomong apa yang kamu rasain, tapi tetap peduli sama orang lain. Kamu pasti bisa!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Mayo Clinic, Timespro.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU