INDOZONE.ID - Sampah plastik masih menjadi persoalan besar di Indonesia. Di banyak daerah, plastik kerap dianggap sebagai limbah tak berguna yang harus segera dimusnahkan, bahkan dengan cara dibakar.
Padahal, membakar plastik justru menimbulkan masalah baru yang jauh lebih berbahaya, baik bagi lingkungan maupun kesehatan manusia.
Menurut penjelasan Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup Agus Rusly pembakaran sampah plastik yang dilakukan secara terbuka dan tidak sempurna dapat melepaskan zat berbahaya seperti dioksin dan gas CO₂. Zat ini muncul ketika plastik dibakar di suhu rendah (di bawah ±900 derajat Celsius) dan berisiko memicu berbagai penyakit serius, termasuk kanker, jika terpapar terus-menerus.
“Bahayanya kalau plastiknya dibakar akan mengeluarkan dioksin. Salah satu risikonya bisa muncul kanker sebenarnya. Sekali dua kali mungkin tidak apa-apa. Tapi kalau tiap hari, buang-buang, memang kita bisa lihat di banyak penyakit-penyakit yang sebelumnya tidak ada, sekarang muncul dan sebagainya,” ujarnya dalam acara AH Connect "Mendorong Ekonomi Sirkular melalui Kebijakan Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas EPR" di Gedung Antara Heritage Jakarta.
Baca juga: Jorok! Pemandangan Kota Tangsel Berubah Penuh Sampah Bahkan Dekat Puskesmas sampai Ditutup Terpal
Plastik Bukan Sepenuhnya Musuh
Menariknya, Agus menegaskan bahwa plastik sebenarnya bukan sepenuhnya musuh. Jika ditarik ke masa lalu, penggunaan plastik sangat terbatas.
Orang-orang terbiasa membawa rantang saat membeli makanan, menggunakan daun pisang atau daun jati untuk membungkus, dan memanfaatkan kembali wadah yang ada.
Namun saat ini, pola hidup berubah. Banyak orang yang memilih layanan pesan-antar makanan, belanja online, hingga gaya hidup serba praktis membuat plastik sulit dihindari. Menurut Agus, plastik punya nilai guna yang bisa berulang kali dipakai dan tak langsung jadi sampah.
“Bayangkan kalau misalnya beli makanan online pakai rantang tuh betapa ribetnya itu. Sehingga saya juga nggak mau menyalahkan plastik sebenarnya dan saya juga pernah mengeluarkan peraturan menteri tentang pelarangan penggunaan plastik sebagai bungkus makanan.”
“Padahal plastik idealnya dipakai berulang-ulang. Sehingga nilai penggunaannya berkali-kali,” ungkapnya.
Baca juga: Ali Hadji Dorong Inovasi Pengelolaan Sampah Indonesia Lewat Kolaborasi dan Teknologi
Bahaya Pakai Plastik Sekali Pakai
Belum lagi penggunaan sedotan, sarung tangan plastik tipis untuk makan, hingga kemasan sachet berlapis-lapis yang sulit didaur ulang. Sampah jenis ini sering kali berakhir sebagai residu karena nilainya rendah dan tidak menarik bagi pengepul.
Agus mencontohkan, banyak masyarakat terutama anak muda sering gak mau repot saat makan. Dia menggunakan sarung tangan plastik, lalu dibuang begitu saja.
“Saya sering liat anak muda pada saat makan. Sekarang dia nggak cuci tangan lagi, pakai sarung tangan plastik tipis dulu. Kalau dia makan salad waktu itu gampang.”
“Tapi kalau dia makan rendang, itu kan pasti minyaknya nempel. Dibalik sama dia, minyaknya di dalam kan, itu dibuang. Itu pasti jadi residu,” bebernya.
Lifestyle seperti ini perlu dihindari, karena banyak sampah plastik yang endingnya jadi sia-sia, bukan dikelola dengan baik.
“Nah, lifestyle inilah yang kita perlu perhatikan. Ada beberapa jenis sampah plastik yang akan dipenuhi atau tidak digunakan lagi,” ujarnya.
Agus juga menyoroti kemasan sachet sekali buang. Ukurannya kecil, bahannya multi-layer (plastik dan aluminium foil), serta sulit dikumpulkan. Akibatnya, kemasan sachet ini menjadi salah satu penyumbang sampah yang paling sulit diolah dan berisiko mencemari lingkungan dalam jangka panjang.
Lalu, Sampah Plastik Sebaiknya Diapakan?
Agus menyebut, pemerintah sudah lama membatasi penggunaan plastik di ritel. Kebiasaan masyarakat pun bergeser, saat belanja, mereka bawa kantong kain untuk memuat barang belanjaan.
“Banyak ibu-ibu sudah mulai berubah nih lifestyle-nya untuk bawa tas lipat sendiri. Sehingga bisa digunakan bulan-bulan dan tidak menggunakan plastik semakin banyak,” tuturnya.
Dalam kesempatan ini, Agus juga menggaungkan tentang sustainability dan lingkungan. “Kita cari titik tepung di tengah, sehingga lingkungan terjaga, industri juga tumbuhnya tetap stabil,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan