INDOZONE.ID - Zaman now banyak orang berpikir untuk resign tanpa punya pekerjaan baru terlebih dulu. Ada yang menganggapnya keputusan berani, ada juga yang menilai berbahaya dan tidak masuk akal. Tapi sebenarnya, resign tanpa back up kerja itu wajar atau tidak? Dan kalau berisiko, seberapa besar bahayanya?
Dalam artikel ini, kita akan membahas semuanya, mulai dari risiko, alasan orang resign tanpa pekerjaan lain, hingga cara menilai apakah keputusan tersebut tepat untuk kamu.
Kenapa Sih Orang Resign Tanpa Punya Kerja Baru?
Pertama, kita perlu memahami alasan seseorang memutuskan resign tanpa back up pekerjaan. Ternyata, ini bukan sekadar karena ingin bebas. Ada sejumlah alasan serius di balik keputusan tersebut:
1. Kondisi Kerja yang Benar-Benar Toxic
Ketika lingkungan kerja sudah membuat kesehatan mental menurun, fisik terganggu, atau terasa seperti berada dalam hubungan toxic, banyak orang memilih keluar lebih dulu baru memikirkan langkah selanjutnya. Jika pekerjaan membuat kamu burnout terus-menerus, resign bisa menjadi bentuk self-care.
2. Butuh Waktu untuk Refleksi dan Recharge
Ada kalanya pekerjaan menguras tenaga dan pikiran. Beberapa orang memilih resign agar bisa beristirahat, memfokuskan ulang tujuan, atau menjalani hal lain sebelum masuk ke pekerjaan baru.
3. Ada Rencana Lain yang Sudah Matang
Tidak semua yang resign tanpa back up bertindak nekat. Sebagian orang sudah merencanakan untuk fokus mengembangkan usaha, freelance, atau mengejar passion yang telah dipikirkan jauh-jauh hari.
Baca juga: Punya Bos Toxic di Kantor, Pilih Resign atau Bertahan? Ini Jawabannya!
Risiko Resign Tanpa Back Up Kerja
Meski ada yang merasa lebih bahagia setelah resign, keputusan ini tetap memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan:
1. Keamanan Finansial Tidak Terjamin
Tanpa gaji rutin, kamu harus mengandalkan tabungan, side hustle, atau bantuan keluarga. Jika tabungan terbatas, stres finansial bisa meningkat.
2. Gap di Resume Bisa Jadi Tantangan
Perusahaan sering kali lebih nyaman merekrut kandidat yang masih aktif bekerja. Berhenti tanpa back up bisa memunculkan pertanyaan saat interview, seperti alasan berhenti sebelum mendapat pekerjaan baru.
3. Posisi Negosiasi Bisa Lebih Lemah
Saat berstatus pengangguran, peluang mendapatkan tawaran gaji lebih rendah bisa lebih besar karena posisi tawar yang menurun.
4. Koneksi dan Reputasi Profesional Bisa Terpengaruh
Resign tanpa rencana yang jelas berpotensi memengaruhi hubungan profesional dan jaringan kerja di masa depan.
Tidak Selalu Berbahaya Jika Punya Strategi
Resign tanpa back up kerja tidak selalu berisiko besar jika dilakukan dengan persiapan matang:
1. Memiliki Tabungan 3–6 Bulan
Dana darurat yang cukup dapat menjadi penyangga finansial selama mencari pekerjaan baru.
2. Rencana Karier yang Jelas
Mengetahui langkah setelah resign, seperti membuka usaha, freelance, atau meningkatkan skill, dapat memperkecil risiko.
3. Kesiapan Mental
Resign adalah keputusan besar yang juga berdampak pada kondisi mental. Kesiapan menghadapi fase tanpa pekerjaan sangat penting.
Baca juga: Hindari 5 Kesalahan Ini Saat Resign agar Kariermu Tak Berhenti di Tempat
Tips untuk Gen Z yang Ingin Resign Tanpa Back Up
- Jangan resign karena emosi sesaat.
- Pertimbangkan biaya hidup, rencana karier, dan waktu pencarian kerja.
- Jika memungkinkan, cari pekerjaan baru sebelum resign.
- Siapkan dana darurat minimal beberapa bulan.
- Evaluasi alasan resign, apakah benar perlu keluar atau cukup cuti panjang.
Wajar, tapi Tetap Berisiko
Resign tanpa back up kerja bukan keputusan yang sepenuhnya salah, terutama jika didukung alasan kuat dan persiapan matang. Namun, risikonya nyata, terutama soal keuangan, resume, dan posisi negosiasi.
Intinya, jangan terburu-buru mengambil keputusan, tapi juga jangan takut melangkah jika itu memang yang terbaik untuk hidup kamu. Pahami konsekuensinya, timbang baik dan buruknya, lalu ambil keputusan yang paling sesuai dengan kondisi kamu saat ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Forbes.com, Findmyprofession.com