Rabu, 14 JANUARI 2026 • 14:05 WIB

Cara Tepat Menghadapi Orang yang Mengancam Melukai Diri Sendiri

Author

Ilustrasi melukai diri sendiri (freepik).

INDOZONE.ID - Menghadapi potensi orang terdekat  melukai diri merupakan pengalaman yang sangat menakutkan. 

Rasa panik dan takut kehilangan sering membuat seseorang merasa tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan tersebut. 

Padahal, meski tampak sebagai bentuk kepedulian, respons ini justru dapat mempertahankan pola hubungan yang tidak sehat.

Ancaman self-harm bisa muncul dari kondisi kesehatan mental yang serius. 

Tetapi dalam situasi tertentu juga digunakan sebagai tekanan emosional untuk mengendalikan orang lain — pola yang kerap terlihat pada individu dengan ketidakstabilan emosi, termasuk gejala Borderline Personality Disorder (BPD). 

Baca juga: Puasa Qadha Ramadan: Pengertian, Tata Cara, dan Niat Ganti Puasa dengan Benar Menurut Ulama

Ketika ancaman direspons dengan kepatuhan, pesan yang terbentuk ialah bahwa ancaman efektif untuk mendapatkan keinginan, sehingga pola yang sama cenderung berulang.

Membedakan ancaman dan permintaan tolong

Orang yang benar-benar berada dalam kondisi krisis biasanya tidak mengajukan tuntutan. 

Mereka mungkin mengatakan ingin melukai diri karena berharap ada yang menolong atau menghentikan mereka. 

Dalam kondisi seperti ini, fokus utama adalah keselamatan dan akses cepat ke bantuan profesional.

Sebaliknya, jika ancaman muncul bersamaan dengan paksaan — misalnya agar kamu membatalkan rencana, tidak pergi bekerja, atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kamu inginkan — ancaman tersebut berfungsi sebagai alat kontrol. 

Baca juga: Tengah Malam Diadang Pohon Tumbang, Pria Ini Malah Asyik Petik Buah Rambutannya

Meski niatnya manipulatif, ancaman ini tetap harus dianggap serius, karena resiko menyakiti diri tetap ada.

Kesalahan yang sering terjadi

Banyak orang mengira bahwa respons paling penuh empati adalah mengalah: tinggal, membatalkan rencana, atau menuruti permintaan demi menghindari konflik. 

Cara ini memang terasa aman dalam jangka pendek, tetapi diam-diam menyampaikan pesan yang berbahaya — bahwa rasa takut ditinggal boleh diekspresikan lewat ancaman self-harm.

Ini bukan bentuk kasih sayang. Justru sebaliknya, hal ini menghambat seseorang untuk belajar cara menghadapi emosi dan hubungan secara sehat.

Baca juga: Setop Menghubungi Mantan: Keputusan Sulit yang Dapat Menyelamatkan Dirimu

Cara merespons yang tepat dan bertanggung jawab

Respons yang sehat bukanlah panik atau bernegosiasi, melainkan tegas dan berempati.

  1. Tetap tenang dan jangan panik: reaksi panik justru memperkuat tekanan emosional. Jaga nada bicara tetap stabil agar situasi tidak semakin memanas.
  2. Akui perasaan, bukan tuntutannya: tunjukkan empati tanpa menyetujui paksaan. Dengarkan emosinya, tetapi jangan mengalah pada permintaan yang disertai ancaman.
  3. Jangan bernegosiasi dengan ancaman: ancaman self-harm bukan alat tawar-menawar. Hindari kalimat bersyarat seperti “kalau aku menuruti, kamu jangan melukai diri”.
  4. Tegaskan batasan diri dengan jelas: kamu berhak mempertahankan keputusan dan tanggung jawabmu tanpa merasa bersalah, sambil tetap menunjukkan kepedulian.
  5. Arahkan ke bantuan profesional: sampaikan bahwa dorongan melukai diri adalah tanda serius yang membutuhkan pertolongan tenaga kesehatan mental, dan tawarkan untuk menemani mereka mencari bantuan.
  6. Ambil langkah darurat bila ancaman berlanjut: jika resiko terlihat tinggi atau mereka menolak bantuan, menghubungi layanan darurat adalah tindakan perlindungan, bukan pengkhianatan.
  7. Siap menghadapi reaksi emosional: kemarahan atau kekecewaan mungkin muncul, tetapi itu tidak berarti kamu bersikap kejam. Sikap tegas sering kali baru dihargai setelah kondisi mental membaik.

Baca juga: Anti Burnout! 8 Tips Work Life Balance yang Bikin Kerja Lebih Santai Sekaligus Produktif

Mereka mungkin marah, kecewa, atau merasa tidak dipahami. Namun reaksi emosional tersebut tidak berarti responsmu salah. 

Dalam kondisi mental yang lebih stabil, banyak orang justru menyadari bahwa sikap tegas tersebut adalah bentuk kepedulian yang nyata.

Kepedulian yang sesungguhnya

Menuruti ancaman self-harm mungkin mencegah bahaya sesaat, tetapi hampir selalu meningkatkan kemungkinan ancaman serupa muncul kembali. 

Sebaliknya, respons yang konsisten — yaitu mengarahkan ke bantuan profesional — membantu memutus pola manipulasi dan membuka peluang pemulihan yang lebih sehat.

Baca juga: 7 Sunnah yang Mudah Dilakukan di Kegiatan Sehari untuk Raih Pahala

Ancaman melukai diri, apapun motifnya, adalah sinyal adanya masalah kesehatan mental yang serius. 

Karena itu, bentuk kepedulian paling tulus bukanlah mengalah pada tekanan, melainkan berani memilih jalan yang benar: melindungi keselamatan tanpa mengorbankan diri sendiri, dan mendorong pertolongan yang benar-benar dibutuhkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychologytoday.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU