INDOZONE.ID - Otak manusia adalah organ kecil namun menakjubkan. Salah satu kemampuan paling menarik dari otak adalah memori, yakni kemampuan menyimpan, memproses, dan mengingat pengalaman.
Namun, kadang-kadang otak menghadirkan sensasi yang membingungkan, seperti deja vu dan jamais vu. Hal itu, membuat seseorang merasa aneh terhadap pengalaman yang sebenarnya familiar atau baru.
Fenomena-fenomena ini termasuk dalam kategori fenomena memori aneh otak manusia, yang sering memicu rasa penasaran.
Banyak orang bertanya-tanya, mengapa otak bisa membuat hal yang familiar terasa asing, atau hal yang baru terasa sudah dikenal.
Artikel tersebut akan membahas secara lengkap pengertian, penyebab, perbedaan, dan contoh nyata dari kedua fenomena tersebut, dalam kehidupan sehari-hari, serta fenomena memori lain yang terkait.
Baca juga: Sering Scroll HP? Ini 4 Bahaya Blue Light Terhadap Mata dan Otak
Apa Itu Jamais Vu?
Jamais vu berasal dari bahasa Prancis yang berarti “tidak pernah terlihat.” Fenomena ini muncul ketika seseorang menghadapi pengalaman yang seharusnya sangat familiar, tapi otak mempersepsikannya seolah baru pertama kali ditemui.
Contohnya, saat membaca kata yang sering ditulis, seperti “rumah” atau “kopi." Kata tersebut tiba-tiba tampak aneh dan sulit diterima logika.
Sensasi serupa bisa terjadi ketika seseorang berada di rumah sendiri, tapi merasakan bahwa tempat itu asing, meski semua benda dan suasana sama seperti biasanya.
Jamais vu berbeda dengan kehilangan ingatan total. Seseorang yang mengalami fenomena ini, tetap sadar dan mengetahui fakta dasar, tetapi ada sensasi asing yang muncul pada pengalaman tertentu.
Karena sifatnya yang membingungkan, fenomena ini sering dikaitkan dengan gangguan memori dan kesehatan otak, meskipun biasanya bersifat sementara dan tidak berbahaya.
Baca juga: Hati-hati! Bukan Cuma Lupa, Cara Mengemudi Ternyata Bisa Ungkap Penurunan Fungsi Otak
Apa Itu Deja Vu?
Sebaliknya, deja vu berasal dari bahasa Prancis “sudah pernah dilihat.” Fenomena ini muncul ketika seseorang merasa telah mengalami sesuatu sebelumnya, padahal itu terjadi untuk pertama kalinya. Sensasi ini membuat situasi baru terasa sangat familiar.
Contohnya, seseorang memasuki ruangan baru, tetapi merasa seolah sudah pernah berada di sana. Atau saat mendengar lagu yang baru pertama kali didengar, otak memberikan sensasi bahwa musik itu sudah dikenal sebelumnya.
Deja vu menunjukkan bagaimana otak bisa keliru menandai pengalaman baru sebagai pengalaman lama.
Banyak orang mencari informasi tentang perbedaan deja vu dan jamais vu, karena kedua fenomena ini terdengar mirip, padahal sensasi dan penyebabnya berbeda.
Perbedaan Deja Vu dan Jamais Vu
Meskipun terdengar mirip, kedua fenomena ini memiliki sensasi yang bertolak belakang. Jamais vu membuat hal yang familiar terasa asing.
Sedangkan deja vu, membuat hal yang baru terasa sangat familiar.
Deja vu lebih umum terjadi dibandingkan jamais vu. Banyak orang mengalami deja vu beberapa kali dalam hidup mereka.
Terlebih, saat menghadapi situasi baru yang memiliki kemiripan dengan pengalaman masa lalu.
Jamais vu, di sisi lain, cenderung lebih jarang dan biasanya muncul ketika otak sedang dalam kondisi lelah, atau mengalami stres.
Faktor yang membuat orang bingung membedakan keduanya adalah akhiran “vu” yang sama.
Padahal, mekanisme di balik masing-masing fenomena berbeda, yakni deja vu terjadi karena otak menandai pengalaman baru sebagai pengalaman lama.
Sedangkan jamais vu, muncul ketika otak gagal mengenali hal yang seharusnya familiar.
Penyebab Jamais Vu dan Deja Vu
Beberapa faktor ilmiah diyakini menjadi penyebab kedua fenomena ini:
- Aktivitas Otak yang Tidak Normal
Jamais vu sering dikaitkan dengan aktivitas listrik yang tidak normal di area temporal medial otak, bagian yang berperan dalam pengenalan pola dan memori.
Ketika area ini terganggu, otak gagal mengenali hal yang familiar sehingga muncul sensasi asing.
Deja vu terjadi karena kesalahan dalam proses memori, di mana otak secara keliru menandai pengalaman baru sebagai sesuatu yang sudah pernah terjadi.
Sensasi ini membuat seseorang merasa pengalaman baru itu sudah dikenal, meski sebenarnya belum pernah terjadi sebelumnya.
- Kelelahan dan Stres
Kurang tidur atau tekanan emosional, dapat memengaruhi kemampuan otak mengenali pola. Hal ini bisa menyebabkan hal yang familiar terasa asing (jamais vu) atau hal yang baru terasa familiar (deja vu).
Kelelahan kronis meningkatkan risiko mengalami kedua fenomena ini.
- Gangguan Neurologis
Jamais vu bisa muncul pada orang dengan epilepsi temporal lobe, biasanya sebelum atau sesudah serangan epilepsi. Fenomena ini termasuk dalam gejala yang disebut auras epileptik.
Deja vu juga kadang muncul pada kondisi neurologis tertentu, meskipun biasanya bersifat ringan dan tidak berbahaya.
- Mekanisme Perlindungan Otak
Beberapa ahli berpendapat, fenomena ini membantu otak memperhatikan detail dan menghindari kejenuhan dari pengalaman berulang.
Dengan cara ini, otak menjaga agar manusia tetap waspada dan memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Contoh Jamais Vu dan Deja Vu dalam Kehidupan Sehari-hari
Fenomena ini bisa terjadi kapan saja dan biasanya berlangsung sebentar, tetapi cukup kuat untuk membuat seseorang merasa aneh.
Berikut beberapa contohnya:
Jamais Vu:
- Menulis atau membaca kata yang sering digunakan, tetapi kata itu tiba-tiba terasa aneh.
- Masuk ke rumah atau kantor yang sangat familiar, tetapi merasakan tempat itu asing.
- Mendengar nama teman lama, namun terdengar asing meski sangat akrab.
Deja Vu:
- Masuk ke ruangan baru tapi merasa pernah berada di sana.
- Mendengar percakapan atau musik baru terasa seperti sudah pernah didengar.
- Melakukan aktivitas baru, namun memiliki sensasi familiaritas yang kuat.
Banyak orang mencari contoh pengalaman jamais vu sehari-hari, untuk lebih memahami sensasi unik ini.
Fenomena Memori Lain yang Terkait
Selain jamais vu dan deja vu, ada fenomena memori lain yang sering muncul:
- Presque Vu: “Hampir terlihat,” sensasi berada di ambang mengingat sesuatu, misalnya nama atau kata yang berada di ujung lidah.
- Deja Entendu: “Sudah pernah terdengar,” sensasi bahwa seseorang pernah mendengar suara, percakapan, atau musik sebelumnya.
Fenomena-fenomena tersebut, sering dibahas bersama penyebab sensasi deja vu dan jamais vu. Sebab, semuanya berkaitan dengan cara otak menyimpan dan mengingat informasi.
Dampak Fenomena Memori terhadap Kehidupan Sehari-hari
Fenomena seperti jamais vu dan deja vu biasanya tidak berbahaya. Namun, jika sering terjadi, dapat membuat seseorang merasa cemas atau bingung.
Beberapa orang mungkin mulai meragukan kemampuan memori mereka, atau mengaitkan sensasi ini dengan gangguan kesehatan.
Selain itu, fenomena ini menarik bagi para peneliti dan psikolog karena bisa memberikan wawasan tentang gangguan memori dan kesehatan otak, serta bagaimana otak memproses pengalaman, mengenali pola, dan menandai memori sebagai familiar atau asing.
Cara Mengurangi Sensasi Jamais Vu
Beberapa langkah dapat membantu mengurangi frekuensi dan intensitas sensasi:
- Tidur yang cukup:
Kelelahan meningkatkan risiko munculnya fenomena memori aneh.
- Relaksasi
Meditasi, yoga, atau latihan pernapasan menenangkan pikiran dan otak.
- Mencatat pengalaman
Menulis sensasi yang dialami membantu otak memproses informasi dengan lebih baik.
Penting juga untuk memahami, kedua fenomena ini merupakan bagian alami dari kerja otak manusia, dan tidak perlu ditakuti.
Jamais vu dan deja vu adalah fenomena memori yang menarik dan membingungkan. Jamais vu membuat hal yang familiar terasa asing, sedangkan deja vu membuat hal yang baru terasa familiar.
Memahami perbedaan, penyebab, dan contoh nyata dari kedua fenomena ini, membantu kita lebih mengenal fenomena memori aneh otak manusia, dan kaitannya dengan gangguan memori dan kesehatan otak.
Fenomena-fenomena ini menunjukkan, kompleksnya otak dalam memproses pengalaman, mengenali pola, dan mengatur memori.
Dengan pemahaman yang tepat, sensasi ini menjadi bukti kemampuan luar biasa otak, bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthshots.com