INDOZONE.ID - Setiap tanggal 14 Februari, suasana media sosial dan pusat perbelanjaan selalu dipenuhi nuansa Valentine.
Mulai dari bunga mawar, coklat, hadiah romantis, sampai dresscode serba merah muda.
Bagi sebagian orang, ini dianggap sekadar tren tahunan.
Namun dalam pandangan Islam, Valentine bukan hanya soal gaya hidup, melainkan menyentuh batas iman dan ketaatan terhadap syariat.
Para ulama sejak lama menegaskan bahwa Valentine’s Day tidak termasuk perayaan yang dibenarkan dalam Islam.
Ada beberapa alasan mendasar yang menjadi pijakan hukum syariat Islam, bukan sekedar opini atau perasaan pribadi.
Baca juga: Bolehkah Puasa Qadha Digabung dengan Puasa Sunnah? Ini Penjelasan Fiqih Ulama dengan Dalilnya
1. Tidak Punya Dasar dalam Syariat Islam
Valentine merupakan perayaan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, maupun generasi salaf.
Dalam Islam, setiap bentuk ibadah atau perayaan harus memiliki landasan yang jelas. Jika tidak, maka ia termasuk perkara yang diada-adakan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi kaidah penting bahwa amalan yang tidak bersumber dari ajaran Islam tidak bernilai di sisi Allah SWT, meskipun terlihat baik menurut manusia.
Baca juga: Hati-Hati! Ghibah Bisa Jadi Lebih Ngeri dari yang Kamu Kira, Ini Peringatan Kerasnya dalam Islam
2. Berasal dari Tradisi dan Simbol Non-Muslim
Valentine juga berkaitan erat dengan sejarah dan simbol keagamaan non-Muslim.
Ia dinisbatkan pada tokoh yang diagungkan dalam tradisi tertentu. Dalam Islam, meniru atau ikut merayakan hari besar yang berakar dari keyakinan lain termasuk perkara yang dilarang.
Rasulullah ﷺ memperingatkan:
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud)
Hadits ini menjadi dasar larangan tasyabbuh, yaitu menyerupai kaum lain dalam perkara yang menjadi ciri khas agama mereka.
Baca juga: Merasa Paling Shaleh? Hati-Hati, Ujub Bisa Menghapus Amal Baik Tanpa Kamu Sadari
3. Sarat dengan Potensi Maksiat
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Valentine sering dijadikan momen pembenaran untuk berbagai pelanggaran syariat.
Mulai dari pergaulan bebas, ikhtilat tanpa batas, membuka aurat, pesta hura-hura, hingga aktivitas yang mendekatkan pada zina.
Alasan “hanya ikut-ikutan” atau “sekadar seru-seruan” tidak bisa dijadikan pembelaan.
Dalam Islam, bukan hanya dosa yang dilarang, tetapi juga jalan yang mengarah kepadanya.
Baca juga: Sering Merasa Penuh Dosa? Ini Istighfar Pendek tapi Dahsyat untuk Menghapus Dosa-Dosa Kita
4. Dilarang Ikut Mendukung dalam Bentuk Apapun
Larangan Valentine tidak hanya berlaku bagi yang merayakan.
Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Jibrin rahimahullah menegaskan bahwa menjual, menyediakan, atau membantu perayaan Valentine — seperti bunga, hadiah, atau atribut khusus — juga tidak dibolehkan jika diketahui akan digunakan untuk perayaan tersebut.
Hal ini sejalan dengan fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah (Komite Tetap Fatwa), yang menyatakan bahwa segala bentuk dukungan terhadap Valentine termasuk kerja sama dalam dosa.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Baca juga: 5 Tips Menuntut Ilmu dalam Islam Agar Berkah dan Bermanfaat di Dunia dan Akhirat
Menjaga Iman di Tengah Arus Tren
Di tengah derasnya tren global, seorang Muslim dituntut untuk lebih selektif.
Tidak semua yang viral layak diikuti, dan tidak semua yang populer selaras dengan nilai Islam.
Menjaga jarak dari Valentine bukan berarti anti kasih sayang, tetapi menempatkan cinta pada jalur yang Allah ridhai.
Para ulama juga mengingatkan pentingnya peran bersama.
Dai, guru, dan orang tua diharapkan aktif mengedukasi, sementara setiap individu dianjurkan saling menasehati dengan cara yang bijak agar tidak terjerumus dalam tradisi yang bertentangan dengan akidah.
Baca juga: Ilmu Bukan Sekedar Pintar: Ini Alasan Kenapa Islam Mewajibkan Umatnya Terus Belajar
Pada akhirnya, identitas Muslim bukan sekadar label, tetapi komitmen untuk menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup — termasuk dalam menentukan perayaan apa yang pantas diikuti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Islamweb.net