INDOZONE.ID - Kehidupan astronaut di luar angkasa terlihat menakjubkan dari Bumi.
Namun kenyataannya, bekerja di ruang angkasa berarti harus beradaptasi dengan lingkungan yang sangat berbeda dari kehidupan di planet ini.
Tanpa gravitasi, berbagai aktivitas sederhana seperti tidur, bergerak, hingga menangis dapat berubah drastis.
Astronaut yang bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) harus menyesuaikan kebiasaan sehari‑hari agar tubuh tetap sehat selama menjalankan berbagai penelitian ilmiah di orbit Bumi.
Berikut beberapa fakta unik tentang kehidupan astronaut di luar angkasa yang jarang diketahui.
Baca juga: Kambing Sering Masuk Kelas, Guru Ini Pilih Perbaiki Sendiri
1. Astronaut Tidur Menempel di Dinding
Di luar angkasa tidak ada gravitasi yang membuat tubuh tetap berada di tempat. Jika tidak ditahan, astronaut bisa terus melayang di dalam kabin.
Karena itu astronaut biasanya tidur menggunakan sleeping bag yang dipasang pada dinding atau langit-langit kabin di ISS. Dengan cara ini tubuh tetap berada di posisi yang sama selama tidur.
Setiap astronaut memiliki ruang kecil pribadi di stasiun luar angkasa yang berfungsi sebagai tempat tidur dan area menyimpan barang pribadi.
Mereka juga sering menggunakan penutup mata karena ISS mengorbit Bumi setiap sekitar 90 menit sehingga astronaut dapat melihat matahari terbit dan terbenam hingga sekitar 16 kali dalam sehari.
Baca juga: 4 Konsep Resepsi Nikahan di Hotel yang Lagi Hits, Kamu Tim yang Mana?
2. Air Mata Tidak Jatuh di Luar Angkasa
Dalam kondisi mikrogravitasi, air mata tidak akan jatuh ke bawah seperti di Bumi.
Sebaliknya, cairan tersebut akan mengumpul di sekitar mata karena tidak ada gaya gravitasi yang menariknya ke bawah.
Fenomena ini terjadi karena cairan di ruang angkasa cenderung membentuk bola kecil akibat tegangan permukaan.
Jika seorang astronaut menangis, air mata dapat berkumpul di sekitar mata hingga akhirnya dibersihkan.
Baca juga: Batas Aman Screen Time untuk Anak Menurut Ahli
3. Tinggi Badan Astronaut Bisa Bertambah
Saat berada di lingkungan mikrogravitasi, tulang belakang astronaut tidak lagi mengalami tekanan dari gravitasi Bumi. Akibatnya, ruas tulang belakang dapat sedikit meregang.
Penelitian menunjukkan astronaut dapat bertambah tinggi sekitar 3 hingga 5 sentimeter selama berada di luar angkasa. Namun perubahan ini hanya bersifat sementara.
Setelah kembali ke Bumi dan kembali merasakan gravitasi normal, tinggi badan mereka akan kembali seperti semula.
Baca juga: Mendikdasmen Bagikan Strategi Kerjakan TKA, Tekankan Manajemen Waktu dan Prioritas Soal
4. Astronaut Melaporkan Bau Unik Setelah Spacewalk
Beberapa astronaut melaporkan adanya aroma tidak biasa setelah kembali dari aktivitas berjalan di luar pesawat ruang angkasa atau spacewalk.
Aroma tersebut sering digambarkan mirip dengan bau logam panas atau seperti hasil pengelasan.
Para ilmuwan menduga bau ini berasal dari partikel luar angkasa yang menempel pada pakaian astronaut dan bereaksi dengan oksigen di dalam kabin ketika mereka kembali ke stasiun luar angkasa.
5. Astronaut Harus Berolahraga Setiap Hari
Tanpa gravitasi, otot dan tulang manusia dapat melemah lebih cepat. Oleh karena itu astronaut diwajibkan berolahraga sekitar dua jam setiap hari selama berada di ISS.
Baca juga: Aksi Pria Disabilitas Bagikan Makanan dan Sembako ke Masyarakat Ini Sentuh Hati Warganet
Latihan dilakukan menggunakan berbagai alat seperti treadmill, sepeda statis, dan mesin resistensi yang dirancang khusus untuk digunakan dalam kondisi mikrogravitasi.
Olahraga ini penting untuk menjaga kekuatan otot dan kesehatan tulang, sekaligus membantu tubuh astronaut beradaptasi kembali ketika mereka kembali ke Bumi.
Penelitian Astronaut Penting untuk Masa Depan Eksplorasi Antariksa
Penelitian tentang kehidupan astronaut di luar angkasa membantu ilmuwan memahami bagaimana tubuh manusia bereaksi terhadap lingkungan mikrogravitasi.
Baca juga: Rahasia Jadi Pribadi yang Menarik Ternyata Bukan Soal Wajah, Tapi Kebiasaan Kecil Sehari-Hari
Informasi ini sangat penting untuk mempersiapkan misi luar angkasa jangka panjang.
Pengetahuan tersebut juga menjadi dasar bagi berbagai program eksplorasi masa depan, termasuk rencana NASA untuk kembali ke bulan melalui program Artemis serta kemungkinan perjalanan manusia ke Mars.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NASA, Scientificamerican.com