Wanita Ternyata Tak Didesain untuk Melahirkan Telentang: Sejarah Melahirkan Upright yang Terlupakan
INDOZONE.ID - Selama ribuan tahun di seluruh dunia, wanita cenderung melahirkan dalam posisi tegak—berlutut
Misalnya, Cleopatra ketika bersalin menggunakan kursi bersalin atau berjongkok.
Berjongkok dapat memperbesar diameter panggul setidaknya 2,5 cm, sementara bekerja dengan gravitasi membuat proses melahirkan jauh lebih mudah.
Lalu mengapa begitu banyak wanita saat ini melahirkan telentang? Jawabannya bermula dari seorang Prancis yang memutuskan posisi itu lebih nyaman—bagi pria.
Baca juga: Digigit Ular, Pria Ini Nekat Potong Jarinya Sendiri Padahal Tidak Berbisa
Hanya 300-400 Tahun Terakhir Wanita Melahirkan Telentang
Hanya dalam 300-400 tahun terakhir sebagian besar wanita melahirkan telentang. Mereka bisa berterima kasih pada seorang Prancis bernama François Mauriceau.
Ia mengklaim posisi berbaring akan lebih nyaman bagi wanita hamil dan lebih nyaman bagi dokter pria yang merawatnya. Mauriceau memandang kehamilan sebagai penyakit.
Beberapa sejarawan berpendapat bahwa perubahan posisi melahirkan mungkin disebabkan oleh orang Raja Louis XIV yang hidup di periode waktu yang sama.
Konon, karena Louis XIV senang menonton wanita melahirkan, ia frustrasi dengan pandangan yang terhalang saat melahirkan di kursi bersalin, dan mengusulkan posisi berbaring baru.
Baca juga: Susah Balik Produktif setelah Liburan? Ini Cara Ampuh Biar Semangat
Terbukti secara Ilmiah: Gravitasi Membantu, Posisi Upright Kurangi Risiko Caesar
Alasan utama wanita melahirkan dalam posisi tegak selama ribuan tahun sederhana: gravitasi.
Bayi harus bergerak ke bawah melalui jalan lahir, dan gravitasi bermanfaat bagi proses tersebut.
Sebuah tinjauan tahun 2013 terhadap 25 studi yang melibatkan lebih dari 5.200 wanita mencatat bahwa wanita yang melahirkan dalam posisi tegak dan bergerak risiko kelahiran Caesar-nya berkurang, lebih sedikit penggunaan epidural, dan lebih kecil kemungkinan bayi mereka dirawat di unit neonatal.
Posisi melahirkan tegak juga dapat mengurangi durasi persalinan.
Baca juga: Harga Plastik Melonjak, Ini 7 Bahan Alami yang Mulai Digunakan sebagai Penggantinya
Rumah Sakit Sering Batasi Pilihan, Padahal Posisi Tegak Kurangi Nyeri
Hannah Dahlen, profesor kebidanan di Western Sydney University, menulis bahwa "melahirkan dalam posisi tegak memiliki keuntungan bagi ibu dan bayi."
Manfaatnya termasuk kontraksi lebih efisien, nyeri ibu berkurang, lebih sedikit penggunaan forceps, vakum, dan episiotomi, serta oksigenasi bayi yang lebih baik.
Namun di negara industri, sebagian besar wanita punya opsi terbatas di rumah sakit. Alhasil mereka bersalin dalam posisi berbaring.
Janet Balaskas, pendiri Active Birth Centre di Inggris, mengatakan praktik ini "tidak logis, membuat persalinan menjadi rumit dan mahal, mengubah proses alami menjadi acara medis."
Baca juga: Nggak Cuma Bangunan Tua, Ini 4 Warisan Belanda yang Masih Nempel di Kehidupan Orang Indonesia
Kesadaran Mulai Tumbuh, Tapi Angka Caesar Terus Meningkat
Pedoman dari Institut Nasional untuk Kesehatan dan Perawatan Unggulan (Nice) Inggris menyarankan bahwa wanita dalam persalinan "tidak boleh berbaring telentang atau setengah telentang pada tahap kedua persalinan dan harus didorong untuk mengadopsi posisi lain yang paling nyaman."
Namun tingkat operasi caesar terus meningkat secara mengkhawatirkan. Pendidikan publik tentang pilihan melahirkan akan sangat bermanfaat.
"Penggambaran kelahiran dalam literatur, televisi, dan film populer akan dengan cepat menunjukkan bagaimana proses kelahiran disalahartikan," kata Eileen Hutton, profesor di McMaster University.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC