INDOZONE.ID - Putus hubungan memang tidak pernah mudah. Meski secara lisan seseorang mengaku sudah move on, kenyataannya proses emosional di dalam diri seringkali berjalan lebih lama dan kompleks.
Sebuah pembahasan yang diangkat oleh Psychology Today, menunjukkan adanya pola menarik dalam cara pria dan wanita menghadapi masa setelah putus cinta.
Salah satu temuan studi yang cukup mencuri perhatian adalah kecenderungan wanita untuk masih stalking atau mengintip kehidupan mantan lewat media sosial.
Lalu, kenapa hal ini bisa terjadi? Apakah ini tanda belum benar-benar move on?
Baca juga: Sulit Move On? Ini Tips Manjur Berhenti Memikirkan Si Mantan Biar Nggak Ngendap di Pikiranmu
Wanita Cenderung Mencari Closure Lewat Media Sosial
Menurut berbagai kajian dalam bidang Psikologi, wanita umumnya lebih terhubung dengan emosi dan relasi interpersonal.
Setelah putus, rasa penasaran dan kebutuhan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi seringkali masih tersisa.
Media sosial kemudian menjadi tempat yang mudah diakses untuk:
- Mengetahui kabar mantan
- Melihat apakah mantan sudah bahagia atau belum
- Membandingkan kondisi diri dengan mantan
- Mencari jawaban yang belum sempat didapat saat hubungan berakhir
Proses ini sering disebut sebagai upaya mencari closure, yaitu penyelesaian emosional agar seseorang bisa benar-benar menerima kenyataan.
Pria Lebih Cenderung Menghindar dan Memutus Kontak
Sebaliknya, banyak pria justru memilih cara yang berbeda. Mereka cenderung:
- Menghindari melihat media sosial mantan
- Memutus komunikasi sepenuhnya
- Mengalihkan perhatian ke aktivitas lain
Pendekatan ini dikenal sebagai strategi emotional distancing, yaitu menjaga jarak untuk mempercepat pemulihan emosi.
Namun, bukan berarti pria lebih cepat move on. Mereka hanya menggunakan cara yang berbeda dalam mengelola perasaan.
Apakah Stalking Mantan Itu Tanda Belum Move On?
Tidak selalu. Melihat media sosial mantan sesekali sebenarnya hal yang cukup wajar, terutama di fase awal setelah putus.
Ini adalah bagian dari proses memahami perubahan dalam hidup.
Namun, kebiasaan ini bisa menjadi tidak sehat jika:
- Dilakukan terus-menerus dan sulit dihentikan
- Memicu rasa sedih, cemburu, atau marah berlebihan
- Menghambat diri untuk membuka lembaran baru
Dalam kondisi seperti ini, stalking justru bisa memperlambat proses move on karena emosi lama terus terpicu.
Baca juga: Susah Move On? Ini Alasan Psikologis Kenapa Banyak Orang Masih Terjebak dengan Mantan
Kenapa Media Sosial Membuat Move On Jadi Lebih Sulit?
Di era digital, perpisahan tidak lagi benar-benar bersih. Kehadiran platform seperti Instagram atau TikTok membuat kita tetap bisa melihat kehidupan mantan kapan saja.
Hal ini menciptakan ilusi kedekatan, padahal hubungan sudah berakhir, perbandingan sosial yang bisa menurunkan kepercayaan diri, dan kesulitan untuk benar-benar melepaskan.
Akibatnya, proses penyembuhan emosional bisa jadi lebih panjang dibandingkan sebelum era media sosial.
Cara Sehat Menghadapi Rasa Penasaran Setelah Putus
Setiap orang punya cara masing-masing untuk pulih, tapi ada beberapa langkah yang bisa membantu agar prosesnya lebih sehat:
1. Batasi akses ke media sosial mantan
Tidak harus langsung memblokir, tapi memberi jarak bisa membantu emosi lebih stabil.
2. Fokus pada diri sendiri
Alihkan energi ke hal-hal yang membangun, seperti hobi, karier, atau kesehatan.
3. Terima bahwa tidak semua hal butuh jawaban
Tidak semua hubungan berakhir dengan penjelasan yang jelas, dan itu tidak apa-apa.
4. Bangun kembali rutinitas baru
Rutinitas membantu otak beradaptasi dengan kehidupan tanpa mantan.
Baca juga: Stop Keinget Mantan! Ini 6 Cara Mengatasi Flashback yang Bikin Susah Move On
Perbedaan cara pria dan wanita dalam menghadapi putus cinta adalah hal yang wajar. Wanita yang masih melihat media sosial mantan bukan berarti lemah atau belum move on, melainkan sedang menjalani proses emosional dengan caranya sendiri.
Yang terpenting bukan seberapa cepat seseorang move on, tetapi bagaimana ia bisa berdamai dengan keadaan, menerima masa lalu, dan melangkah ke depan dengan lebih tenang.
Pada akhirnya, melepaskan bukan soal melupakan sepenuhnya, tapi tentang tidak lagi terikat secara emosional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychology Today