Senin, 20 APRIL 2026 • 15:30 WIB

Sering Disalahkan Padahal Bukan Salahmu? Hati-Hati, Ini Taktik Manipulasi

Author

Sering disalahkan meski bukan salahmu. (Freepik)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu lagi berantem, tapi ujung-ujungnya malah kamu yang ngerasa bersalah, padahal awalnya bukan kamu yang bikin masalah? Kalau iya, bisa jadi kamu sedang menghadapi yang namanya blame-shifting, salah satu bentuk kekerasan verbal yang sering luput disadari.

Fenomena ini bukan sekadar debat biasa. Di baliknya, ada permainan kekuasaan dan kontrol yang bikin satu pihak selalu “menang”, sementara yang lain terus merasa bersalah.

Kekerasan Verbal: Soal Kuasa, Bukan Sekadar Kata-Kata

Kekerasan verbal sebenarnya nggak selalu muncul terus-menerus. Dalam hubungan yang sehat, sesekali emosi meledak itu masih wajar. Tapi beda cerita kalau hal ini jadi pola.

Biasanya, ada ketimpangan kekuatan dalam hubungan tersebut. Bisa karena faktor finansial, emosional, atau bahkan rasa takut. Orang yang “lebih kuat” akan memakai kata-kata sebagai alat untuk mempertahankan kendali.

Dan menariknya, ini nggak cuma terjadi di hubungan yang jelas-jelas timpang seperti orang tua dan anak, atau atasan dan bawahan. Dalam hubungan yang terlihat setara pun, hal ini bisa terjadi diam-diam.

Baca juga: Kenapa Orang Cerdas Pun Bisa Jadi Korban Manipulatif? Ternyata Ini Alasannya

Blame-Shifting: Cara Halus Menghindari Tanggung Jawab

Salah satu taktik yang sering dipakai adalah blame-shifting, alias mengalihkan kesalahan ke orang lain. Tujuan utamanya sederhana: menghindari tanggung jawab sekaligus tetap pegang kendali.

Contohnya sering terdengar seperti ini:
“Kalau kamu nggak gampang marah, aku juga nggak bakal bohong.”

Sekilas terdengar masuk akal, kan? Tapi sebenarnya, itu cara halus untuk memutar balik fakta biar kamu yang merasa bersalah.

Saat Manipulasi Mulai Masuk: Kamu Dibuat Meragukan Diri Sendiri

Dalam banyak kasus, blame-shifting sering dibarengi dengan manipulasi lain seperti gaslighting, di mana kamu dibuat meragukan ingatan atau perasaanmu sendiri.

Misalnya saat seseorang tidak menepati janji, lalu bilang:
“Kamu tuh nggak pernah puas, jadi buat apa aku usaha?”

Lagi-lagi, kesalahan dialihkan ke kamu. Lama-lama, kamu bisa benar-benar percaya kalau masalahnya ada di dirimu.

Ancaman Halus yang Bikin Kamu Nggak Berkutik

Ilustrasi manipulatif (Freepik)

Taktik lain yang sering muncul adalah ancaman terselubung. Contohnya:
“Kalau kamu nggak bahagia, ya sudah, pergi saja.”

Kalimat ini bukan solusi, ini jebakan. Fokus pembicaraan langsung berubah, dari masalah yang sebenarnya jadi rasa takut kehilangan.

Akhirnya, kamu malah sibuk meyakinkan bahwa kamu ingin tetap bertahan. Dan di titik itu, “permainan” mereka berhasil.

Kenapa Taktik Ini Susah Disadari?

Berbeda dengan hinaan terang-terangan, blame-shifting itu halus banget. Justru di situlah bahayanya. Pelaku biasanya memanfaatkan hal-hal yang mereka tahu tentang kamu, misalnya kamu orangnya nggak enakan, mudah cemas, atau takut konflik.

Bahkan, mereka bisa terlihat “baik” saat melakukannya:
“Aku cuma nggak mau kamu sedih, kamu kan sensitif.”

Padahal, tanpa sadar, mereka sedang merendahkanmu sambil menaikkan posisi mereka sendiri.

Baca juga: Pasangan Kamu Itu Manipulatif? Yuk, Kenali Berikut Ini Ciri-cirinya!

Dampaknya Bisa Lebih Dalam dari yang Kamu Kira

Kalau terjadi pada anak, efeknya bisa sangat merusak karena anak cenderung menerima semua sebagai kebenaran.

Contoh kalimat yang sering terjadi:
“Kalau kamu nurut, Mama nggak bakal marah.”

Anak akan tumbuh dengan rasa bersalah yang tidak semestinya.

Sementara dalam hubungan dewasa, pola ini bisa bikin hubungan jadi toksik dan stagnan. Satu pihak terus mengontrol, sementara yang lain terus mengalah.

Kunci Penting: Sadar adalah Langkah Pertama

Hal yang bikin blame-shifting begitu kuat adalah karena banyak orang nggak sadar mereka sedang mengalaminya.

Begitu kamu mulai mengenali pola ini, perlahan kamu bisa melihatnya dengan lebih jernih. Dan di situlah “kendali” itu mulai melemah. Karena kamu nggak selalu salah, kamu hanya dibuat merasa seperti itu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychologytoday.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU