Selasa, 21 APRIL 2026 • 11:15 WIB

Banyak yang Nggak Sadar, 4 Kebiasaan Ini Bikin Hubungan Jadi Toxic dan Hancur Perlahan

Author

Ilustrasi menghadapi orang yang toxic. (Freepik)

INDOZONE.ID - Banyak orang berpikir hubungan toxic selalu ditandai dengan pertengkaran besar, drama, atau perselingkuhan. 

Padahal kenyataannya, hubungan bisa rusak secara perlahan lewat kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele.

Awalnya mungkin terasa “aman-aman saja”. Tapi tanpa disadari, kedekatan mulai memudar, komunikasi berubah, dan rasa nyaman perlahan hilang. 

Jika terus dibiarkan, hubungan yang dulu hangat bisa berubah jadi hambar, bahkan menyakitkan.

Baca juga: Kenapa Lepas dari Hubungan Toxic Itu Susah? Ini 3 Cara Ampuh yang Bikin Kamu Terbebas

Berikut ini 4 kebiasaan yang sering terjadi — dan diam-diam bisa mengubah hubungan jadi toxic.

1. Kehilangan “Rasa” dalam Hubungan (Desexualizing Your Partner)

Di awal hubungan, biasanya semua terasa intens — emosi, perhatian, bahkan chemistry. Tapi seiring waktu, realita hidup mulai masuk: pekerjaan menumpuk, tanggung jawab bertambah, belum lagi urusan keluarga.

Di fase ini, banyak pasangan tanpa sadar mulai “menurunkan prioritas” hubungan mereka. Interaksi berubah jadi sekadar fungsional — membahas jadwal, tugas rumah, atau hal-hal teknis lainnya.

Akibatnya, pasangan tidak lagi dilihat sebagai sosok yang diinginkan, tapi lebih seperti “rekan hidup” atau bahkan hanya teman serumah. Yang lebih berbahaya, kondisi ini sering dianggap normal:

Baca juga: 10 Ide Kegiatan Rayakan Hari Kartini di Rumah yang Seru dan Bermakna Bareng Anak

  • “Lagi capek aja”
  • “Nanti juga balik lagi kok”
  • “Sekarang lagi fokus kerja dulu”

Padahal, jika terus dibiarkan, jarak emosional dan fisik akan semakin besar. Sampai suatu hari, kamu bisa merasa seperti hidup dengan orang asing.

Cara mengatasinya:

Koneksi tidak selalu butuh waktu lama, tapi butuh niat. Hal sederhana seperti memberi perhatian kecil, mengobrol dari hati ke hati, atau meluangkan waktu khusus berdua tanpa distraksi. Semua ini bisa membantu menjaga kedekatan tetap hidup.

Baca juga: Deretan Kebiasaan Pagi untuk Umur Panjang yang Sering Diabaikan Anak Muda, Apa Saja?

2. Kebohongan dan Rahasia yang Mulai Muncul

Kepercayaan adalah pondasi utama dalam hubungan. Begitu mulai retak, efeknya bisa ke mana-mana.

Kebohongan sering dimulai dari hal kecil — menyembunyikan aktivitas, menghindari cerita, atau “memodifikasi” kebenaran. Tapi masalahnya, satu kebohongan biasanya akan diikuti oleh kebohongan lain. Lama-kelamaan:

  • Pasangan jadi mudah curiga
  • Muncul overthinking berlebihan
  • Komunikasi jadi penuh ketegangan

Baca juga: Kenapa Orang Selingkuh? Fakta Mengejutkan Ini Bongkar Penyebab Aslinya

Yang lebih parah, pelaku kebohongan kadang justru menyalahkan pasangan dengan label seperti “terlalu sensitif” atau “parno”.

Ini bisa menciptakan hubungan yang tidak sehat secara emosional.

Cara mengatasinya:

Kalau ada hal yang terasa sulit untuk diungkapkan, justru itu yang perlu dibicarakan. Kejujuran memang tidak selalu nyaman, tapi jauh lebih sehat dibanding terus menyembunyikan sesuatu.

Hubungan yang kuat adalah hubungan dimana kedua pihak merasa aman untuk berkata jujur — tanpa takut dihakimi.

Baca juga: Mengenal Kesetaraan Gender dari Perjuangan R.A. Kartini, Simak Definisi dan Contohnya

3. Komunikasi Kasar dan Kurang Rasa Hormat

Pertengkaran dalam hubungan itu normal. Tapi cara bertengkar yang menentukan apakah hubungan itu sehat atau tidak.

Banyak pasangan yang tanpa sadar:

  • Menggunakan kata-kata kasar
  • Melakukan sindiran menyakitkan
  • Saling merendahkan saat emosi

Baca juga: Bukan Sekedar Tegas! Ini Sisi Tersembunyi Kepribadian ESTJ yang Bikin Mereka Cocok Jadi Pemimpin

Setiap ucapan negatif sebenarnya meninggalkan “jejak emosional”. Meskipun terlihat sepele, jika terjadi berulang kali, dampaknya bisa besar:

  • Menurunkan rasa percaya diri pasangan
  • Meningkatkan jarak emosional
  • Memicu konflik yang lebih besar

Yang sering terjadi, pertengkaran malah melebar ke hal lain — bukan lagi membahas masalah utama, tapi saling menyerang pribadi.

Cara mengatasinya dengan menetapkan batas dalam berkomunikasi:

Baca juga: Jelang Haji 2026, Mekkah Terlihat Lengang dan Disebut Hanya Dihuni “Pemain Inti”

  • Hindari kata-kata yang merendahkan
  • Fokus pada masalah, bukan menyerang pribadi
  • Beri ruang untuk saling mendengarkan
  • Marah boleh, tapi tetap harus saling menghormati.

4. Terlalu Mengandalkan Orang Lain di Luar Hubungan

Setiap orang butuh support system, dan itu wajar. Tapi masalah muncul ketika kebutuhan emosional yang seharusnya dipenuhi dalam hubungan, justru dialihkan ke orang lain. Misalnya:

  • Lebih sering curhat ke teman daripada pasangan
  • Mengandalkan orang lain untuk mengambil keputusan penting
  • Merasa lebih “nyambung” dengan pihak ketiga

Baca juga: Sering Dianggap Kaku, Ternyata Ini Alasan ISTJ Jadi Sosok Paling Bisa Diandalkan

Hal ini bisa mengikis keintiman dalam hubungan. Karena salah satu inti dari hubungan romantis adalah merasa: “Dia orang yang paling mengerti aku.”

Jika peran itu digantikan orang lain, hubungan akan kehilangan kedekatan emosionalnya.

Cara mengatasinya:

Bangun kembali komunikasi dengan pasangan. Jadikan mereka sebagai tempat utama untuk berbagi, bukan opsi kedua.

Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana kedua orang saling hadir — bukan saling tergantikan.

Hubungan tidak berubah jadi toxic dalam semalam. Biasanya, itu adalah hasil dari kebiasaan kecil yang terus diabaikan.

Baca juga: ENFP: Si Paling Ceria Tapi Paling Dalam: Kepribadian ‘Juru Kampanye’ yang Selalu Cari Makna Hidup

Kabar baiknya, selama masih ada kesadaran dan kemauan untuk memperbaiki, semuanya masih bisa diselamatkan.

Mulai dari hal sederhana:

  • Lebih jujur
  • Lebih menghargai
  • Lebih hadir untuk satu sama lain

Hubungan yang kuat bukan tentang tanpa masalah, tapi tentang bagaimana dua orang tetap memilih untuk saling menjaga — meski keadaan tidak selalu mudah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychologytoday.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU