Ilustrasi menjalani hubungan toxic. (freepik.com) (freepik)
INDOZONE.ID - Tanpa disadari, banyak orang bertahan terlalu lama dalam hubungan yang sebenarnya sudah tidak sehat.
Bukan cuma soal pasangan, hubungan toxic juga bisa datang dari teman, rekan kerja, bahkan keluarga sendiri.
Yang bikin bahaya, hubungan seperti ini sering terasa “normal”. Padahal diam-diam, energi, emosi, bahkan kesehatan mental kamu terus terkuras.
Ciri paling gampang dikenali? Kurangnya empati, jarang minta maaf, dan sikap seenaknya.
Baca juga: Meriah! Ratusan Anggota Pramuka Ikuti Pesta Siaga Cabang Pramuka Boyolali 2026
Kalau kamu sering merasa tidak dihargai atau selalu disalahkan, itu bukan hal sepele — itu red flag.
Banyak orang mengira hubungan toxic adalah “cinta yang penuh tantangan”. Padahal kenyataannya jauh dari romantis.
Orang toxic bisa hadir dalam berbagai bentuk: manipulatif, posesif, egois, penuh drama, hingga hobi menyalahkan orang lain. Mereka sering memutar-balikkan keadaan agar terlihat benar, bahkan membuat kamu meragukan diri sendiri.
Yang lebih sulit lagi, mereka biasanya tidak merasa bersalah. Saat dikritik, responnya justru defensif atau malah menyerang balik.
Baca juga: Ukuran Kertas A4 dalam Cm, Mm, Inci, Pixel Lengkap Cara Setting di Word
Tak jarang, orang yang terbiasa hidup di lingkungan tidak sehat sejak kecil jadi sulit menyadari bahwa dirinya sedang diperlakukan tidak baik. Semua terasa “biasa” padahal sebenarnya menyakitkan.
Salah satu tanda paling membingungkan dari orang toxic adalah sikap yang berbeda di depan umum dan saat berdua saja.
Di luar, mereka bisa terlihat perhatian, manis, bahkan ideal. Tapi dibalik itu, perlakuannya bisa sangat berbeda — dingin, kasar, atau merendahkan.
Kalau kamu sering merasa bingung, overthinking, atau mempertanyakan realita sendiri, itu bukan karena kamu terlalu sensitif. Itu tanda kamu sedang menghadapi perilaku yang tidak sehat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com