Rabu, 22 APRIL 2026 • 12:49 WIB

Awalnya Cuma Eksperimen di Rumah, Kini Jadi Tes Kepribadian Paling Viral di Dunia!

Author

Katharine Briggs (Kathy Stoddard Torrey)

INDOZONE.ID - Siapa sangka, tes kepribadian yang sering kamu isi di internet bahkan jadi bahan obrolan tongkrongan, ternyata berawal dari eksperimen sederhana di ruang tamu seorang ibu rumah tangga.

Di awal 1900-an, Katharine Briggs memulai sesuatu yang ia sebut sebagai “laboratorium pengasuhan” di rumahnya di Michigan. Tanpa disadari, langkah kecil ini kemudian berkembang menjadi fondasi dari tes kepribadian populer dunia: MBTI.

Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pelopor Tes Kepribadian

Briggs bukan sosok biasa. Ia sudah kuliah sejak usia 14 tahun dan lulus sebagai mahasiswa terbaik. Namun, seperti banyak perempuan di zamannya, ia “hanya” diharapkan fokus menjadi istri dan ibu, sementara suaminya berkarier sebagai ilmuwan.

Alih-alih menyerah pada ekspektasi, Briggs justru mencoba “memprofesionalkan” peran domestiknya. Ia ingin membuktikan bahwa pekerjaan di rumah juga bisa sekompleks dan sepenting riset di laboratorium.

Dari situlah, ia mulai mengamati anak-anak di sekitarnya termasuk anaknya sendiri, Isabel Briggs Myers.

Baca juga: Bukan Sekedar Tes Kepribadian! Ini Cara MBTI ‘Membaca’ Karaktermu

Eksperimen Sederhana yang Jadi Cikal Bakal MBTI

Metodenya terbilang unik. Briggs mengumpulkan anak-anak tetangga, lalu meminta orang tua mereka mengisi kuesioner sederhana dengan pilihan terbatas.

Pertanyaannya pun relatable banget:

  • Anak kamu cenderung tenang atau impulsif?
  • Mudah marah atau jarang kesal?
  • Tidur sendiri atau masih dengan orang tua?

Dari jawaban-jawaban itu, Briggs mulai mengelompokkan tipe kepribadian anak. Konsep inilah yang kemudian berkembang menjadi sistem MBTI dengan 16 tipe kepribadian.

Terinspirasi dari Teori Psikologi Dunia

Perjalanan Briggs berubah drastis saat ia menemukan karya Carl Jung tentang tipe psikologis.

Buku Psychological Types menjadi titik balik. Ia bahkan sampai berkirim surat langsung dengan Jung untuk memahami konsep seperti “intuitif” dan “feeling”.

Dari teori abstrak itulah, Briggs mencoba menerjemahkannya menjadi sesuatu lebih praktis yang bisa membantu orang memahami diri mereka sendiri.

Dari “Pencarian Diri” Jadi Alat Dunia Kerja

Katharine Briggs bersama Ibu dan anaknya. (The New York Times)

Awalnya, bagi Briggs, ini adalah perjalanan spiritual untuk memahami jati diri manusia.

Namun, anaknya, Isabel, melihat potensi yang lebih luas. Di masa Perang Dunia II, ia mengembangkan tes ini menjadi alat untuk mencocokkan orang dengan pekerjaan yang paling sesuai.

Bahkan, lembaga intelijen AS pertama yang menggunakannya adalah Office of Strategic Services untuk menentukan agen rahasia yang cocok menjalankan misi tertentu.

Sejak itu, MBTI menyebar ke kampus, rumah sakit, hingga perusahaan besar dan perlahan berubah menjadi industri bernilai fantastis.

Kenapa MBTI Tetap Populer, Meski Dipertanyakan?

Meski banyak dikritik secara ilmiah, MBTI tetap digemari. Alasannya simpel: tes ini memberi “bahasa” yang mudah untuk memahami diri sendiri tanpa menghakimi.

Banyak orang pertama kali mengenal MBTI saat:

  • Konseling hubungan
  • Masuk kerja baru
  • Memilih jurusan kuliah
  • Bahkan saat galau soal karier

Di momen-momen penuh kebingungan, MBTI terasa seperti “pegangan” yang membantu memahami siapa diri kita.

Baca juga: MBTI Masih Populer, Tapi Seberapa Akurat? Ini Perbandingannya dengan Tes Kepribadian Lain

Antara Kenyamanan dan Ilusi

Salah satu daya tarik terbesar MBTI adalah anggapan bahwa kepribadian itu “tetap”. Ini memberi rasa nyaman seolah kita tidak perlu minta maaf atas diri sendiri.

Namun, di sisi lain, hal ini juga bisa jadi jebakan. Orang jadi merasa tidak perlu berubah atau berkembang.

Kalau Penciptanya Lihat Sekarang?

Ironisnya, Briggs sendiri kemungkinan besar tidak akan setuju dengan penggunaan MBTI saat ini. Ia bahkan sejak awal sudah skeptis terhadap bentuk tes kuesioner.

Sementara Isabel mungkin akan kecewa melihat bagaimana MBTI kini beredar bebas, bahkan jadi bahan kuis receh ala “kamu mirip karakter apa” di internet.

Dari ruang tamu sederhana hingga jadi fenomena global, perjalanan MBTI memang tidak biasa. Terlepas dari pro dan kontra, satu hal yang jelas: manusia selalu punya rasa penasaran besar untuk mengenal dirinya sendiri.

Dan mungkin, itulah alasan kenapa MBTI masih terus hidup sampai sekarang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Npr.org

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU