INDOZONE.ID - Zaman sekarang siapa sih yang nggak ngerasa kalau dunia itu makin sempit?
Kita bisa beli barang dari luar negeri cuma lewat sentuhan jari, nonton konser artis Hollywood lewat streaming, sampai kerja remote buat perusahaan di belahan dunia lain.
Fenomena ini yang kita sebut sebagai globalisasi. Tapi, di balik segala kemudahan dan kecanggihan teknologi yang kita nikmati, ada satu isu besar yang makin hari makin berasa nyata di depan mata kita.
Banyak yang bertanya-tanya, sebenarnya kesenjangan sosial adalah apa sih di era modern ini?
Kalau kita perhatiin lebih dalam secara sosiologis, ternyata globalisasi itu nggak cuma bawa kemajuan, tapi juga bawa jurang pemisah yang makin lebar antara mereka yang bisa lari kencang ngikutin zaman dengan mereka yang terpaksa tertinggal di belakang.
Kesenjangan ini bukan cuma soal siapa yang punya saldo rekening lebih banyak, tapi sudah masuk ke ranah sistemik yang memengaruhi cara kita hidup, berinteraksi, sampai peluang masa depan kita.
Yuk, simak ulasannya dilansir dari YouTube/Official account of Sociology selengkapnya!
Baca juga: 5 Tips Konsisten untuk Sukses: Bangun Karakter dengan Keteguhan Hati
Memahami Dampak Sistemik dari Perubahan Global
Sering kali kita mikir, kalau seseorang jadi pengangguran itu cuma gara-gara dia malas atau kurang usaha.
Padahal, kalau kita bedah pakai kacamata sosiologi, pengangguran di era globalisasi ini sering kali merupakan dampak sistemik dari perubahan sosial yang masif.
Dunia kerja sekarang makin nuntut keterampilan tinggi yang spesifik, terutama di bidang teknologi.
Mereka yang nggak punya akses ke pendidikan bagus atau pelatihan yang relevan, bakal langsung tereliminasi dari proses produksi global.
Hal ini bikin pertumbuhan ekonomi cuma numpuk di wilayah-wilayah tertentu saja yang sumber dayanya dikuasai oleh segelintir kelompok.
Selain itu, kebijakan global yang kadang bikin subsidi dihapus demi efisiensi juga sering banget bikin ekonomi kelompok masyarakat menengah ke bawah jadi makin terhimpit.
Jadi, kesenjangan sosial adalah hasil dari kompetisi yang nggak seimbang di panggung dunia.
Dominasi Politik dan Budaya di Panggung Dunia
Globalisasi nggak cuma main di angka-angka ekonomi doang, lho. Pengaruhnya menjalar sampai ke urusan politik dan budaya.
Coba deh liat, gimana negara-negara superpower seperti Amerika Serikat bisa ngatur kebijakan di negara lain gara-gara dominasi ekonomi mereka.
Ini bikin negara berkembang kadang nggak punya pilihan selain ngikutin arus yang sudah diset sama mereka.
Di sisi lain, dari segi budaya, kita mungkin ngerasa makin keren kalau sudah ngikutin tren luar negeri, tapi sadar nggak sih kalau budaya lokal kita pelan-pelan mulai terkikis?
Penggunaan bahasa asing yang dianggap lebih berkelas daripada bahasa daerah adalah, salah satu contoh nyata gimana globalisasi bikin sekat sosial baru di masyarakat kita.
Mereka yang dianggap gaul adalah mereka yang paling sukses menyerap budaya luar. Sementara yang masih pegang tradisi dianggap ketinggalan zaman.
Pemicu Utama Ketimpangan di Berbagai Daerah
Kalau kita telusuri lebih jauh, kenapa sih kesenjangan ini bisa beda-beda tiap daerah? Ternyata ada faktor alam dan geografis yang ikut main di sini.
Ada daerah yang emang diberkati sama sumber daya alam yang melimpah banget, tapi kalau nggak dikelola dengan baik oleh pemerintah dan masyarakatnya, ya tetep saja nggak bakal maju.
Belum lagi urusan infrastruktur yang nggak merata. Daerah yang akses jalannya masih rusak parah atau susah sinyal internet pasti bakal jauh tertinggal dibandingkan kota besar yang serba ada.
Faktor demografi juga ngaruh, kayak tingkat produktivitas kerja yang beda-beda tiap wilayah.
Intinya, kesenjangan sosial adalah gabungan antara tantangan geografis dan ketidaksiapan masyarakat dalam beradaptasi dengan kecepatan Proses globalisasi yang makin nggak masuk akal.
Gaya Hidup sebagai Cermin Nyata Jurang Pemisah
Pernah nggak, kamu ngerasa ada perbedaan vibes yang kontras banget pas lagi jalan-jalan di Jakarta?
Di satu sisi ada gedung pencakar langit dengan mobil mewah berseliweran, tapi nggak jauh dari situ, masih ada permukiman padat yang fasilitasnya terbatas banget.
Gaya hidup emang jadi cermin paling jujur buat ngeliat kesenjangan sosial adalah fakta yang nggak bisa ditutup-tutupi.
Lapisan masyarakat atas biasanya identik dengan pakaian bermerek mahal, tinggal di perumahan elit atau cluster, dan kalau liburan ya minimal ke luar negeri.
Sementara itu, saudara-saudara kita di lapisan bawah mungkin buat liburan ke mall saja sudah dianggap rekreasi yang mewah banget.
Pola konsumsi, pilihan transportasi, sampai cara berpakaian ini yang akhirnya bikin jurang pemisah itu makin kelihatan jelas dan kadang bikin interaksi antar lapisan masyarakat jadi makin kaku.
Baca juga: 5 Tips Sukses Baca Pikiran Orang dari Tatapan Mata, Auto Jadi Mentalist!
Etika Berkomunikasi dan Tingkat Pendidikan
Nggak cuma soal barang-barang yang nempel di badan, kesenjangan sosial adalah sesuatu yang bisa kita denger lewat cara orang bicara.
Orang yang dapet akses pendidikan tinggi biasanya punya cara berkomunikasi yang lebih teratur, sopan, dan sistematis.
Sebaliknya, mereka yang akses pendidikannya terbatas mungkin punya gaya bicara yang lebih kasar atau nggak teratur.
Semakin majunya teknologi informasi sebenarnya bisa jadi alat buat pinter bareng-bareng, tapi kalau aksesnya saja nggak merata, yang ada malah jurang komunikasinya makin lebar.
Kita bisa liat gimana perbedaan akses internet bikin anak-anak di kota besar bisa belajar lancar lewat gadget canggih, sementara anak-anak di pelosok harus berjuang cari sinyal cuma buat ngerjain tugas sekolah.
Tantangan Ketimpangan Ekonomi di Indonesia
Data di lapangan nunjukin, kalau Indonesia masih punya PR besar banget soal pemerataan ekonomi.
Bayangin saja, hampir setengah dari aset negara kita dikuasai oleh cuma satu persen kelompok terkaya.
Angka ini nunjukin, kalau konsentrasi kekayaan itu masih numpuk banget di puncak piramida.
Kondisi kemiskinan yang ekstrem ini kalau dibiarin terus, bisa bahaya banget karena bisa memicu radikalisme.
Orang yang sudah saking putus asanya karena masalah ekonomi bisa gampang banget dipengaruhi buat ngelakuin tindakan nekat cuma demi upah yang nggak seberapa.
Makanya, pemerintah sekarang lagi fokus banget buat ngatasin kesenjangan pendapatan antar daerah dan antar populasi biar nggak terjadi gesekan sosial yang lebih parah di masa depan.
Upaya Nyata Pemerintah dalam Pemerataan Pembangunan
Pemerintah kita sebenarnya nggak tinggal diam kok ngeliat kondisi ini. Ada banyak program yang sudah jalan, seperti bantuan tunai lewat Program Keluarga Harapan atau penyediaan Kartu Keluarga Sejahtera buat bantu ekonomi warga yang paling butuh.
Selain itu, pembangunan infrastruktur kayak jalan tol, pelabuhan, sampai jembatan di desa-desa lagi digenjot biar biaya logistik jadi lebih murah.
Kalau akses jalan bagus, pendidikan dan ekonomi di desa pasti bakal ikut naik. Kampus-kampus di Indonesia juga diajak buat aktif turun ke desa-desa, bikin desa wisata atau desa digital biar pembangunan nggak cuma numpuk di Jawa atau Sumatera saja.
Kesenjangan sosial adalah masalah yang pengen diselesaikan lewat konsep riset inovasi dan kolaborasi bareng berbagai pihak.
Pendidikan dan Teknologi di Masa Pandemi sebagai Pelajaran
Kejadian Pembelajaran Jarak Jauh beberapa tahun lalu bener-bener jadi momen yang ngebuka mata kita semua soal kesenjangan teknologi.
Banyak siswa yang harus gantian pakai handphone sama orang tuanya atau malah nggak punya sama sekali.
Belum lagi urusan kuota internet yang harganya lumayan berat buat keluarga dengan ekonomi pas-pasan.
Di sini kita liat banyak aksi keren dari para guru yang minjemin handphone-nya, atau komunitas yang bangun wifi gratis buat anak-anak sekolah.
Tapi ini juga jadi pengingat kalau pemerintah harus makin konsisten. Jangan sampai, pembangunan mall atau gedung mewah mengabaikan jatah buat pelaku UMKM atau fasilitas pendidikan bagi masyarakat kecil.
Konsistensi kebijakan itu kunci biar kesenjangan sosial adalah cerita masa lalu, bukan beban masa depan.
Baca juga: 7 Tips Sukses Upgrade Skill Biar Hidup Makin Berkelas!
Kita semua punya tanggung jawab buat ngecilin jurang pemisah ini. Pancasila sudah ngasih kita modal kuat lewat nilai-nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kita harus mulai buka diri, nggak diskriminatif, dan jangan cuma ngukur pergaulan dari untung rugi materi saja.
Buat kamu yang sekarang punya akses teknologi dan pendidikan yang oke, yuk manfaatin itu buat bantu sekitar atau minimal punya empati sama mereka yang lagi berjuang.
Kesenjangan sosial adalah tantangan yang cuma bisa selesai kalau kita punya komitmen bersama. Mulai dari kebijakan pemerintah yang adil sampai sikap kita sehari-hari yang menghargai sesama tanpa mandang status sosial.
Semoga ke depannya, Indonesia makin solid dan setiap warganya punya kesempatan yang sama buat sukses di tengah arus globalisasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube